Pejuang Hijab

Ketika saya kelas 1 SMANSA Bogor, kakak kelas tidak banyak yang berhijab. Ada salah satu kakak kelas yang sangat saya kagumi. Namanya RA. Saya kenalnya karena sama-sama ngaji di Majlis Taklim Al Ihya Bogor. Berhijab sejak SMP, kakak kelas bermata teduh dan sangat antusias kalau ngobrol ini, tidak menunjukkan ketakutannya ketika masuk SMA mengalami diskriminasi dalam hal pemakaian hijab. Saat itu hijab dilarang dikenakan oleh siswa SMA.

Tidak sendiri, bersama teman-teman karibnya, RA memperjuangkan hijab sebagai jalan hidupnya.
Kami, para adik kelas, yang laki-laki, hanya bisa mendoakan saja, dan sebagai bagian dari anak-anak Rohis, tentu seringkali berdiskusi secara internal dengan RA dan kawan-kawan lainnya.
Pertentangan hijab tersebut meluas, hingga masuk ke ranah pengadilan. Tentu sebuah kondisi yang menegangkan, bagi seorang siswa SMA yang harus menghadapi pengadilan.
Akan tetapi, saya lihat, karena yang diperjuangkannya adalah jalan hidup, maka tak ada gurat ketakutan diantara RA dan teman-temannya.
Bahkan, kondisi ketegangan tersebut membuat tumbuhnya solidaritas dan silaturahmi di antara para orang tua. Mereka mengadakan pengajian; uniknya, salah satunya selalu mendoakan agar Pak Ng, Kepala Sekolah SMAN 1 Bogor, bisa segera naik haji. Sama sekali tak ada hal-hal negatif tentang Pak Ng, lebih fokus kepada agara dibukakan hidayah, hati dan kebaikan bagi pak Kepala Sekolah SMAN 1 Bogor.
Tak semua sekuat RA dan kawan-kawannya. Ada yang harus membuka hijab dan mengenakan wig, atau memilih mengenakan hijab ketika lulus SMA nanti.
Interogasi demi interogasi dialami Teh RA dan kawan-kawannya. Dialog antara siswi SMA yang mempertahankan tuntutan akidah dengan seorang Kepala Sekolah yang bermaksud menegakan aturan hingga di titik Kepala Sekolah mengeluarkan siswi yang tetap memaksakan diri untuk berhijab.
Tak patah semangat, solidaritas makin kencang, hingga pihak-pihak seperti Kemendikbud hingga LBH pun jadi upaya untuk memperjuangkan hijab tersebut.
Pengadilan Negeri Bogor adalah saksi bagaimana kemudian massa turut menjadi pressure grup bagi perjuangan sekelompok remaja yang berhadapan dengan kekuasaan, memperjuangkan akidahnya tanpa takut akan akibatnya, karena yakin Allah Bersama mereka.
Dan keputusan pengadilan pun akhirnya memenangkan RA dan kawan-kawan sampai bisa bersekolah kembali di SMAN 1 Bogor dengan mengenakan hijab.
Itulah yang mengawali maraknya penggunaan hijab di SMA se Bogor dan mungkin se Indonesia. Walaupun negara belum selesai dengan hal tersebut; karena di masa-masa berikutnya, persoalan hijab ini tetap menimbulkan polemik ketika menjadi bagian dari seragam sekolah.
Saya bersama teman-teman yang lain di Rohis, salut dan bangga dengan semangat RA dan kawan-kawan yang lain. Yang saya inget, saya pernah ‘nangis’ di depan RA, untuk menyampaikan bahwa adik-adik Rohis kelas 1 ini sangat mendukung perjuangan kakak kelas yang kami banggakan; walaupun kami belum paham sempurna tentang perjuangan yang dilakukannya.
Tonggak sejarah, bahwa SMAN 1 Bogor adalah kawah candradimuka bagi pembentukan karakter dari orang-orang yang memperjuangkan akidahnya; dengan cara-cara yang baik dan berharap kebaikan untuk semua orang; berharap ada hikmah besar dari peristiwa yang dialaminya.

Kekuatan spiritual itu pula yang kemudian tahun 2013, RA menuliskan buku In God We Trust: Meretas Hijab dari Indonesia sampai Amerika; karena di Amerika, RA menghadapi diskriminasi yang de javu, seperti pernah dihadapinya di masa SMA; tentu dengan tingkat tantangan yang berbeda; karena yang dihadapinya adalah institusi US Army.
Saya beruntung berada satu rentang masa remaja di SMANSA Bogor; sehingga bisa belajar banyak dari karakter RA dan teman-temannya.
Allah Melindungi orang-orang yang berjuang di jalan-Nya.
Sekarang RA berdomisili di Amerika Serikat dan menbuka klinik dokter gigi di beberapa kota disana.
#teROHISin God We Trust

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.