Saya baru ingat sekarang, tahun 2005, ketika menjadi Game Creative untuk Reality Show Penghuni Terakhir, pernah bertemu dengan Mbah Surip. Saat itu, game memang didirect jam 03.00, pagi buta. Tidak ada artis yang mau datang, karena waktu yang terlalu pagi. Akhirnya, muncullah konsep mendatangkan talent yang tugasnya membangunkan peserta dengan menyanyikan lagu, tepatnya bikin keributan.

Brainstorming dilakukan, dan muncullah nama Mbah Surip, yang walaupun saat itu sebenarnya sudah mengeluarkan 5 album, tapi masih samar-samar terdengarnya. Rencananya, setelah peserta bangun, dilanjutkan dengan game makan bubur dan jus pete, pare, dan segala macam buah yang pahit dan beraroma tak sedap. (Ya ampun, ternyata, kejam bener ya…. saya juga ikut terlibat lagi…).

Mbah Surip datang, dengan pakaian yang ‘modelnya’ hingga kini dikenakan. Menenteng gitar, briefing sebentar dan menyanyikan lagu “Bangun Tidur” yang sekarang ngetop, dan tentu saja diseling dengan ketawanya yang khas… “Ha… ha.. ha….” Mendatangi kamar demi kamar, dan tentu saja, penghuni yang jadi peserta reality show itu terbangun, karena tergangggu dengan nyanyian Mbah Surip.

Sesaat itulah saya bertemu dengan Mbah Surip. Tapi, totalitas sebagai seniman dan komitmen dengan profesinya itu mendapat respon pengakuan dari berbagai kalangan terhadap keberadaanya.

Komitmen tinggi dalam melakukan apa yang dicintai, memang akan mendatangkan respek dari hati.

Mbah Surip kini sudah tiada, berbaring di 6 feet under, dekat pohon jengkol (kalau menurut salah satu ucapannya di depan awak media).

Menyusul kemudian WS Rendra, sahabatnya yang juga wafat 2 hari berikutnya, tanggal 6 Agustus 2009. Keduanya bersahabat di dunia, dan semoga saja bertemu juga di tempat yang layak di alam baka. Keduanya adalah manusia yang menyenangkan banyak orang. Jika pun Sebatang Lisong menyentak dan membuat WS Rendra dicekal, bukan karena sajaknya yang buruk, tapi karena penguasa saat itu memang tak memiliki hati yang sehat.

Bak obat, sajak-sajak Rendra sebetulnya menyembuhkan, akan tetapi, mungkin beberapa orang tak bisa ‘membayar’ rasa sakit sebagai bagian dari proses penyembuhan tersebut. Saya pernah mendengar tentang WS Rendra dari seorang sahabatnya, memiliki kelebihan untuk mengetahui sumber mata air yang ada di bawah tanah. Kelebihan alamiah yang dimiliki oleh orang-orang yang punya hubungan spesial dengan Sang Pemilik Alam Semesta.

Selanjutnya, saya hanya bersentuhan dari jauh, melalui sajak-sajaknya dan sesekali mendengar cerita dari para sahabatnya. Mbah Surip dan WS Rendra adalah manusia yang memberi banyak manfaat, dan sudah pasti, sunatullahnya, setiap manusia yang bermanfaat akan meninggalkan inspirasi.

Lihatlah siapa yang datang melayat. Lihatlah media yang meliput. Lihatlah kumandang dzikir setelah mereka tiada.

Itulah kematian yang indah. Meninggalkan inspirasi.

One thought on “WS Rendra dan Mbah Surip; Persahabatan Dua Alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *