“Mas… bisa buka tasnya?”

Itu permintaan tegas dari security ketika saya tiba di pintu gerbang gedung penerbitan besar di Jakarta. Saya kesana untuk membicarakan rencana workshop menulis sebelum Ramadhan.

Segera saya meletakkan tas gendong di depan Mas Security 1. Dia menggunakan tongkat pendeteksi metal, dan ada bunyi ketika ‘menyapu’ tas saya.

“Apaan nih?” tanyanya

“Laptop” jawab saya.

Dia rupanya tak percaya, dan membuka tas saya lagi. Tas dalam tas tepatnya, karena laptop saya masukkan dalam tas juga. Hmmm.. bagus juga nih security; walaupun saya ngga nyaman, tapi saya hargai juga profesionalismenya.

Setelah diperiksa, dan dianggap aman, Mas Security 1 memandang saya sejenak, mungkin mendeteksi, apakah saya punya tampang teroris atau nggak, hehehehe..

“Silahkan Mas…”

“Terima kasih” jawab saya.

Saya bergegas masuk ke gedung. Di depan gedung, ada lagi Mas Security 2, memberhentikan saya..

“Sebentar mas…” katanya

Kembali tongkat Garret itu ‘menyapu’ tas saya. Kembali alat itu berbunyi..

“Apa nih Mas…”

“Terima kasih lagi…” jawab saya.

Saya berjalan menuju ke resepsionis. Prosedurnya, saya harus meletakkan KTP dan menukarnya sementara dengan ID Card tamu. Karena sudah biasa, saya langsung mengatakan akan bertemu dengan Ibu D, dari Penerbit E.

“Oh.. Ibu D sekarang sudah pindah di kantor baru; di depan Pak..”

Rupanya, sudah pindah kantornya. Saya mengantongi KTP dan menuju gedung baru. Lumayan jauh.

Tiba di gerbang gedung baru, saya ‘dihadang’ oleh security lagi…

“Siang Pak..bisa lihat tasnya Pak..” tanya Mas Security 3.

“Bisa..”  jawab saya.
…masa tas segede ini ngga kelihatan…. pikir saya, mulai agak ngga nyaman.

Dia mengeluarkan tongkat saktinya, dan kembali ‘menyapu’ tas saya… kembali tongkat sakti itu berbunyi. Kembali Mas Security 3 itu bertanya…

“Ini apa mas..?”

“Laptop…” jawab saya.

Kembali tas saya dan tas dalam tas saya dibuka. Setelah itu Mas Security 3 menatap saya sejenak.

“Terima kasih Pak.. silahkan masuk…” jawab Mas Security 3

Saya berjalan masuk ke gedung, menuju resepsionis dengan KTP sudah di tangan, untuk ditinggalkan dan ditukarkan sementara dengan ID Card Tamu.

Belum sampai di meja respsionis, seorang security agak berlari ke arah saya…Mas Security 4.

“Sebentar Pak..” katanya.

Dia mengeluarkan tongkat sakti dan ‘menyapu’ tas saya.

“Ini apa Pak?” pertanyaan rutin

“Laptop” jawaban rutin saya

Dibukalah tas saya, dibukalah tas dalam tas saya yang isinya laptop. Setelah itu, Mas Security 4 menatap saya sejenak.

“Silahkan Pak…”

“Terima kasih banget…” jawab saya…

Pfuiiih…

Hari ini saya saling memandang dengan 4 security. Bisa jadi mereka melakukan itu karena tuntutan tugas sekaligus waspada dengan isu terorisme. Siapa tahu, yang saya bawa adalah bom. Saya berpikir, tak masalah saya diperiksa, tas saya dibuka berkali-kali, dan beradu tatapan mata dengan security (ini jadi ngga penting deh..). tapi kalau dipikir-pikir, selama para security itu memperhatikan fisik orang yang dicurigai, selama itu pula kemanan tak terjamin.

Jadi ingat dengan mudahnya teroris melewati metal detector di JW Marriot. Simpel, hanya dengan menjawab bahwa yang dibawanya laptop, ketika detektor itu berbunyi. Saya jadi mafhum, karena sesungguhnya, para security itu menggunakan alat untuk mendeteksi bom, tapi tak punya deteksi terhadap body languange, unspoken languange dari seorang teroris.

Pasti ada perbedaan yang jelas, dari perilaku orang yang akan menemui ajalnya; pasti ada body languange yang khusus dari seseorang yang berniat membuat kerusakan terhadap orang lain, bahkan membunuh orang lain. Selama keamanan hanya menggantukan pada alat yang mendeteksi fisik, selama itu pula kemanan akan kebobolan. Mirip-mirip anti virus, yang ketika diciptakan, maka para virus baru pun bermunculan.

Oleh karena itu, lebih bijak jika para secruty itu tak hanya dibekali alat untuk mendeteksi fisik saja, akan tetapi ada lapis keamanan tertentu yang memiliki keahlian untuk ‘membaca’ unspoken languange, body languange…

Tak apa, jika saya hari ini harus melewati pemeriksaan 4 security. Hitung-hitung menghargai profesionalitas Mas-mas itu lah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *