PSSI dianggap bak mimpi di siang bolong ketika mengajukan usulan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Dari sekian banyak orang, yang paling optimis adalah Nurdin Halid dan Adhyaksa Dault. Keduanya memang pemimpin yang kebetulan juga pemimpi.

Setelah sukses menjadi tuan rumah Piala Asia 2007, memang euphoria eksistensi Indonesia sebagai penyelenggara event olahraga besar pun mengemuka. Padahal saat itu, Indonesia sukses sebagai tuan rumah, akan tetapi timnas menang satu kali melawan Bahrain dan nyaris menang (alias kalah) ketika melawan Arab Saudi dan Korea Selatan.

Di Indonesia, menjadi pengurus punya lebih banyak previllage ketimbang menjadi atlet. Lihatlah di gedung-gedung pusat latihan atlet nasional, maka, yang dipajang fotonya besar-besar, biasanya foto pengurus. Ini memang mindset dunia olahraga Indonesia. Pengurus yang jadi bintang, bukan atletnya.

Oleh karena itulah PSSI menawarkan proposal Piala Dunia 2022. Saya setuju dengan statement bahwa orang harus bermimpi. Akan tetapi, sebelum bermimpi, kita harusnya berkaca. Menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah sebuah prestise. Korea Selatan dan Jepang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002, setelah liga sepakbola mereka dan atlet sepakbola mereka berprestasi, bahkan di timnasnya pun ada para pemain yang sudah mendunia; Park Ji Sung di Korea Selatan dan Hidetsohi Nakata di Jepang.

PSSI ingin mengejar prestise, karena memang pengurusnya ingin jadi bintang. Padahal, secara alamiah, prestise adalah penghargaan atas prestasi. Pertanyaan berikutnya, apa prestasi yang sudah dihasilkan oleh PSSI dalam skala internasional dan mendunia? Jangankan skala nasional, Asia, Asia Tenggara pun kita belum bisa berprestasi. Siapa pesepakbola Indonesia yang dikenal di tingkat dunia? Tidak ada!

Mengejar prestise tanpa menghasilkan prestasi adalah pekerjaan orang-orang yang ingin eksis, dikenang dan tentu saja tidak logis. Mulai dari Andi Mallarangeng hingga Hatta Radjasa menanggapi ideĀ tuan rumah Piala Dunia ini sebagai isu saja.

Suatu saat mungkin saja dunia sepakbola Indonesia akan besar dan mendunia. Entah kapan. Selama orientasinya prestise, visi berprestasi di tingkat dunia itu hanyalah mimpi.

Semoga setiap orang Indonesia yang masih rajin menyaksikan timnas bertanding di Senayan dan sering nyaris menang, tetap bersabar, suatu saat timnas kita akan mendunia. Suatu saat, ketika para pengurusnya tidak memikirkan tentang mimpinya sendiri, tapi memikirkan juga tentang bagaimana prestasi dirancang pencapaiannya dan diraih dengan sempurna.

Semoga.

One thought on “Untuk PSSI: Prestasi Sebelum Prestise

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *