Alhamdulillah, hari ini renovasi rumah tinggal anak yatim di Pondok Yatim Menulis, dapat terlaksana. Warga dan para tetangga di RT 04/05 bahu membahu saling membantu membangun rumah 7×3 meter tersebut.

Yang tinggal di rumah itu adalah seorang Ibu rumah tangga, pekerjaan awalnya tukang karedok, kini menjadi pembantu rumah tangga; karena modal habis untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Kakak tertuanya menganggur, padahal punya keahlian utak-atik motor. Adiknya yang 2 orang awalnya putus sekolah, kini menjadi bagian dari Pondok Yatim Menulis dan sudah bisa sekolah.

Almarhum ayahnya, kepala keluarga yatim ini, 5 tahun lalu diundang kepala desa yang akan mencalonkan diri kembali, dijanjikan untuk diberi bantuan renovasi rumah; dengan syarat memilih kepala desa tersebut di periode kedua kampanya pemilihan kepala desa.

Pemilihan sudah dilakukan, kepala desa kembali terpilih, mendapat suara dari penduduk miskin yang dijanjikan bantuan renovasi rumah; akan tetapi janji politikus kampung itu, hanya tinggal janji; tak pernah ada realisasi.

Hingga, 2 tahun kemudian, ayah dari anak yatim itu meninggal dunia, karena menderita penyakit lever. Dalam kondisi sakitnya itu, tak ada bantuan jamkesmas, karena satu wilayah itu hampir semua tak terperhatikan. Rencana renovasi dan pengobatan sakit tersebut menjadikan keluarganya makin terpuruk. Kompor gas berikut gasnya dijual untuk membiayai pengobatan. Hingga kini, keluarganya menggunakan hawu/tungku untuk memasak.

Pak RT kemudian mengajukan kembali permohonan bantuan renovasi rumah kepada Kepala Desa; tak ada respon, hanya difoto sana-sini oleh aparat desa, hingga akhirnya rumah makin rusak, makin hancur atapnya dan jika banjir sudah seperti kolam ikan saja. Miris.

Ketidakadilan pemimpin kampung ditambah ‘kepasrahan’ yang tidak pada tempatnya, menjadikan kondisi rumah anak yatim itu adalah simbol kemiskinan akibat ketidakadilan. Tidak hanya miskin secara ekonomi tapi sudah miskin secara struktural dan sistematis. Kemiskinan yang kemudian dijadikan aset politik oleh orang-orang yang mengejar jabatan.

Alhamdulillah, setelah berbincang dengan Ibu anak yatim, ada niat untuk kembali berjualan, berdagang karedok dan sayuran. Dengan modal ‘hanya’ Rp 500.000, insyaallah ibunya bisa berjualan kembali; dan tentu saja bisa lebih banyak memperhatikan anaknya.

Wirausaha memang bukan sekedar mencari keuntungan, tetapi memiliki fungsi untuk memecahan masalah kehidupan.

Semangat ibu penjual karedok itu yang ingin kembali berjualan, adalah bagian dari keinginan kuat untuk memberdayakan diri; semoga saja Tuhan membantu.

Soal Kepala Desa tadi? hmmmmm, malaikat lebih tahu buku catatan seperti apa yang dituliskannya dan akan menjadi saksi di akhirat kelak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *