Tukang Becak yang Merindukan Surga

Kini, setiap akhir pekan, saya bersama rombongan sahabat kami, Taufan Rotorasiko mengunjungi Dapil Kab. Cilacap dan Kab. Banyumas. Bagi saya, perjalanan ini bukan sekedar pekerjaan, akan tetapi perjalanan yang penuh inspirasi. Layaknya Caleg DPR RI, sudah pasti kegiatan bersilaturahmi dan mendengar aspirasi warga menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Kabupaten Cilacap memiliki kilang minyak yang berkontribusi lebih dari 40% produksi minyak di Indonesia, ada juga pasir besi, dan penghasil aspal yang cukup banyak. Akan tetapi, jalanan di Kab Cilacap, di beberapa bagian rusak, berlubang dan tak layak untuk daerah penghasil minyak bumi dan aspal.

Ketika mendengarkan aspirasi warga terhadap kondisi daerahnya, dan beberapa di antara mereka memang dalam kondisi ekonomi yang tidak baik. Salah satunya, Pak Mito, yang sudah menjadi tukang becak selama puluhan tahun. Bergetar ucapannya, tulus kalimatnya, menyampaikan kerja keras, ikhtiar dan do’a untuk keluar dari kemiskinan. Kayuhan dan roda becak yang haus, serta ribuan penumpang yang telah menumpangi becaknya, menjadi saksi bagaimana Pak Mito bertawakal mengangkat derajat keluarganya dengan menjadi tukang becak.

Pak Mito juga menyampaikan, bahwa dia masih berhutang ke sebuah warung kecil. Dan hari demi hari berusaha, hingga kini, hutangnya tak kunjung lunas, padahal dia bekerja keras setiap hari. Dia melihat jalanan yang berlubang, tambang yang besar, kendaraan mewah hilir mudik di menyalip becak tuanya, sambil terus berpikir, di usia rentanya, ingin menikmati hidup yang sesungguhnya.

Akan tetapi, Pak Mito tak pernah berhenti berdo’a. Ia terpikir terus dengan hutangnya, terpikir terus, membayangkan di kepalanya tentang surga yang ingin dimasukinya kelak. Makanya, ia memilih bekerja keras dan berdo’a daripada mengemis dan meminta-minta. Pak Mito yakin, suatu saat do’anya akan terkabul, dan jika ia tetap bekerja keras, Allah pasti akan membalasnya.

Bayangkan, orang miskin yang terus bekerja keras dan berdo’a hingga usia rentanya, tidak dapat menikmati kemajuan yang seharusnya menjadi hak, karena ada di depan matanya; tapi entah mengapa, pembangunan seperti sebuah menara yang dibangun menjulang tinggi tapi tak pernah menyentuh tua renta yang miskin seperti dirinya.

Pak Mito menyelesaikan keluh kesahnya, menyampaikan do’anya, semoga Caleg DPR RI yang di depannya tak lupa dengan aspirasinya, dan kembali ke dapilnya untuk menuntaskan janji-janjinya. Pak Mito tak meminta apa-apa, yang dimintanya adalah keadilan sosial, jaminan bahwa pekerja keras seperti dirinya, seharusnya hidupnya bisa lebih baik.

Pak Mito kembali ke tempat duduknya, dan ketika akhir acara, sahabat saya mendatangi Pak Mito dan memberikan uang sejumlah hutang yang dimiliki Pak Mito. Tak terduga, tak ada dalam rencana, dan tulus diberikan. Saya yakin, ini adalah jawaban atas do’a yang menggerakan hati, do’a dari tua renta miskin yang tak menyerah dengan nasibnya dan terus bekerja keras untuk mengubah takdirnya.

Semoga saja, siapa pun yang sekarang sedang berada dalam kondisi mampu, bisa tergerak hatinya, karena jutaan orang baik, pekerja keras tapi miskin setiap malam, sajadahnya dibasahi oleh air mata, do’a untuk selalu bekerja keras untuk keluarga dan mempertanggung jawabkan kepemimpinannya dalam keluarga sehingga bisa menikmati surga yang ada di bayangannya selalu.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.