Tiga tempat di atas mungkin tak ada hubungannya. Akan tetapi kini 3 tempat itu–Tugu Proklamasi, Bandung Lautan Api (Sabuga) dan TPA Bantar Gebang menjadi tonggak sejarah, karena digunakan sebagai lokasi untuk melakukan deklarasi Capres dan Cawapres untuk Pilpres 8 Juli 2009.

JK-Win memilih Tugu Proklamasi dan mengangkat spirit dan chemistry antara JK dan Wiranto untuk kemandirian ekonomi. Deklarasi yang pertama dilakukan, karena JK-Win mengusung Lebih Cepat Lebih Baik. Kemandirian itu bisa jadi disimbolkan dengan tugu proklamasi yang menjadi simbolisasi dari kemandirian bangsa, lepas dari penjajahan fisik.

SBY Berbudi memilih Sabuga dengan mengangkat spirit Bandung Lautan Api dan inisiatif Bung Karno untuk melakukan Konferensi Asia Afrika. Kemegahan deklarasinya mengingatkan orang akan deklarasi Obama ketika menjadi Capres. Karena memang SBY ini sepertinya ingin sekali menjadi bagian dari dunia internasional; mulai ketika jadi nominee peraih penghargaan nobel, hingga melatakkan Indonesia dalam percaturan dunia dengan menjadi 100 Tokoh yang Berpengaruh di dunia versi majalah Time. Makanya, background story tentang keberhasilan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 menjadi setting cerita yang kuat.

Mega Pro memilih untuk melakukan deklarasi di gunung sampah TPA Bantar Gebang, sebagai simbolisasi keberpihakan terhadap rakyat kecil. Wong cilik yang ingin dibela oleh cawapres terkaya, Prabowo yang mencapai 1.7 triliun. Deklarasi itu memberikan pesan, bahwa jika ingin menjadi bagian dari rakyat kecil, menyatulah dengan rakyat kecil.

Pilihan tempat yang menggambarkan apa yang ingin dilakukan mereka setelah terpilih. Pilihan yang disesuaikan dengan segmen pemilih yang mereka bidik.

JK-Win yang romantis dengan duet maut proklamator; SBY Berbudi yang berangan menggebrak bahkan dalam skala internasional; Mega Pro yang ingin konsisten mengambil hati wong cilik.

Banyak pihak meramal calon satu lebih unggul dari calon yang lain. Sementara para pengelola pemilu ini, KPU, masih sibuk dengan mencari kambing hitam atas ketidakmampuan mereka. Tak hadir di sidang Mahkamah konstitusi, tak tanggap dengan keluhan masyarakat; dan masih selalu merasa benar.

Presiden dan Wakil Presiden terpilih oleh calon pemilih yang sahih; para Capres dan Cawapres itu demikian gencar melakukan branding untuk dipilih, sementara siapa yang berhak memilih pun masih carut marut.

Tanggal 8 Juli tak mungkin diundur, tanggal 20 Oktober sebagai rutinitas pengalihan kekuasaan pun tak mungkin diundur. Rakyat harus memilih, tanpa tahu, apakah pemimpin yang dipilihnya akan berpihak kepada mereka nantinya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *