Setiap hari naik kereta api, awalnya melelahkan; akan tetapi akhir-akhir ini cukup lumayan. Mungkin karena minim pilihan? Belakangan, ketika saya membuka diri untuk mengamati apa yang terjadi, setiap peristiwa di sekitar seperti informasi yang bisa saya tulis.

Setiap hari di kereta terjadi banyak transaksi ekonomi; jual beli. Satu pihak mengeluarkan uang, pihak lainnya mendapatkan uang. Beberapa diantara transaksi yang saya amati itu adalah,

– Pengemis; dengan berbagai ‘rupa’: ada yang buta, tua, cacat, bawa anak, anak kecil. Ternyata para pengemis yang cacat itu di drop setiap pagi oleh orang yang memang tugasnya mendrop. Beberapa pengemis yang saya tanya, mereka umumnya mangkal di daerah Ciheuluet, Bogor atau di Citeureup. Biasanya di dini hari, ada mobil yang membawa beberapa orang pengemis dan men-dropnya di tempat tugas.

– Pengamen, mulai dari solo tanpa alat musik, solo dengan alat musik, grup dengan alat musik, sampai solo dengan menggunakan kaset alias lipsing. (sebenarnya ini ngga ngamen, hanya promo album saja). Mereka patut berterima kasih kepada ST 12, Keris Patih, Radja, Afgan, Rhoma Irama, Iwan Fals, Slank dan penyanyi lain yang lagunya banyak dinyanyikan para pengamen.

– Pedagang, mulai dari jualan makanan, minuman, buah-buahan, aksesoris, buku, pulsa, yang belakangan hari, di beberapa stasiun dipasang spanduk dilarang berjualan di kereta; walaupun kenyataannya masih banyak yang berjualan.

– Petugas, kalau ini hampir tidak pernah saya lihat belakangan ini. Dulu, ada saja petugas yang meremas tangan penumpang yang ketahuan tidak bawa karcis. Remasan itu menghasilkan uang seharga karcis atau malah lebih kecil.

Dipikir-pikir, kereta sudah mirip dengan pasar berjalan saja. Entah berapa hitungan ekonominya selama satu hari. Selain sesak karena penumpang sangat banyak, kereta api juga menjadi sarana untuk bertahan hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *