10

Dec 2008

Tongseng Cinta

Selesai shalat Idul Adha di mesjid terdekat; ini kedua kalinya saya, isteri dan Naya sholat hari raya barengan.

Usai shalat, kami menuju rumah Ibu, yang cuma butuh waktu 10 menit untuk sampai kesana. Di rumah ibu saya, sudah ada 3 ekor kambing yang siap disembelih, terpilih sebagai qurban. Kakak saya dan keluarganya; sudah punya 2 anak, sudah datang lebih dulu.

Naya–puteri saya–yang awalnya ngga takut ngeliat kambing, sekarang malah takut. Dia takut karena ngeliat sepupunya (anak kakak saya) juga takut. Emang begitu kali anak-anak ya? pada dasarnya mereka ngga takut, tapi terpengaruh oleh lingkungan, makanya jadi takut. Akhirnya saya ajak Naya ke belakang, menuju prosesi penyembelihan kambing qurban.

Kambing pertama butuh 45 menit untuk menguliti sekaligus membersihkan. Yang menderita adalah kambing kedua dan ketiga. Karena kambing-kambing itu dibawa pada saat kambing pertama dalam proses pembersihan kotoran yang ada di ususnya. Ngeri banget ya. Kesian ngeliatnya. Kebayang khan, kambing masih hidup, nongkrongin kambing yang udah ngga ada kepalanya, badannya tergantung upside down alias kebalik, dan telanjang se telanjang-telanjangnya alias udah ngga ada kulitnya. Ayah saya yang emang ahli menguliti kambing sih santai aja. Udah biasa katanya.

Saya menemani Naya dan menjelaskan dengan susah payah, kenapa ada perbedaan antara kambing yang masih utuh (before) dan kambing yang sudah disembelih dan dikuliti (after). Dengan mata bayi-nya, Naya memperhatikan betul prosesi qurban itu.

Selesai melihat penyembelihan qurban, saya kembali ke ruang tamu untuk ngobrol ngalor ngidul dengan saudara-saudara yang lain. Kebetulan mereka juga punya anak yang seumuran ama Naya. Isteri saya yang dominan kalau urusannya begini. Seperti biasa,. antar para ibu itu saling berbagi informasi tentang betapa hebat perkembangan anaknya masing-masing. Saya mendengarkan saja.

Jam 2 siang, saya pulang ke rumah, membawa sekantung pelastik kecil daging–bagian iga. Sampai di rumah, di pintu pagar, ada juga sekantung plastik kecil daging kambing, masih berair. Rupanya dari pak RT, jatah untuk tetangga mungkin. Saya bawa kedua kantong daging itu, dimasukkan ke dalam lemari es. Saya nanya sama isteri saya…

“Mau dimasak jadi apaan Bunda?”

“Tongseng…” jawabnya

Hmmm… isteriku ini emang paling top kalau masak. Tongseng…. slruuuup, pasti enak.

Saya naik ke lantai atas dan mulai melihat tayangan televisi. Biasa, masih didominasi oleh berita tentang Marcella Zalianty, yang terkena kasus penganiayaan atas Agung Setiawan. Tapi, kali ini beritanya beda, kok nama Marcella Zalianty-nya ada di kuping seekor kambing? Oh, rupanya, Marcella ngasih hewan qurban juga. Alhamdulillah.

Saya pindahkan channel, ada berita tentang ditemukannya cacing pada hewan qurban oleh petugas dinas kesehatan. Satu statemen yang saya ingat:

“pemeriksaan ini bertujuan agar masyakarat miskin mendapat daging qurban berikut penyakitnya..” Sekali lagi, tindakan yang patut dipuji dari petugas dinas kesehatan, dan seperti biasa, yang menyuplai kambing bercacing hati itu, namanya OKNUM.

Berita lainnya adalah tentang kericuhan pembagian daging qurban di Probolinggo. Stock daging qurban yang tidak memenuhi jumlah masyarakat yang ngantri.

Wah.. wah.. idul qurban rupanya memang dipersepsi dari banyak sisi. Tergantung beritanya apa. Di infotainment ada beritanya: biasa, artis yang ber-qurban, di kriminal juga ada–kericuhan, di berita biasa juga ada–beritanya juga biasa.

Saya menikmati semua berita itu. Bagaimana seekor hewan yang disembelih, kemudian dagingnya ditempatkan pada kantung kecil dan dibagikan kepada yang berhak; bisa menimbulkan berita yang sangat berbeda?

Saya menikmati tayangan televisi, sambil menulis dan utamanya menunggu sekantung daging qurban yang sudah menjadi tongseng yang dimasak isteri saya. Mulai tercium baunya. Pasti lezat, karena dibumbui cinta. Nama masakannya Tongseng Cinta.

One thought on “Tongseng Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *