Mohon maaf sebelumnya, The Mallarangengs yang saya maksudkan adalah Andi Mallarangeng dan Rizal Mallarangeng…

Saya bertemu dengan Rizal Mallarangeng ketika berlangsungnya Pilkada di Sumatera Selatan. Saat itu RM adalah tim suksesĀ calon gubernur dari partai yang dipimpin oleh JK. Datang menemani calon gubernur, tepat ketika akan melakukan debat di TV One. RM adalah sosok profesional yang membela siapa pun yang memakai jasanya. Membela karena ada kepentingan.

Beberapa saat lalu, ketika peristiwa Medan, yang dituduh melakukan black campaign, karena menuduh isteri Boediono beragama Katholik, maka RM ‘meminta pertanggung jawaban’ JK, dan tentu saja dituntut balik oleh tim sukses JK-Win, sebagai tuduhan yang tak mendasar.

RM menjadi headline berita, hingga kedatangannya kampanye ditolak dengan demo besar-besaran di Sulsel; kampung halamannya sendiri. Di televisi, tampaknya RM tenang-tenang saja. Kepintarannya dipikir cukup untuk berargumen terhadap apa pun yang disampaikannya. Itulah hebatnya orang pintar, yang kelihatannya salah pun (seolah) bisa dibenarkan dengan retorika bahasa.

Saya melihat RM sebagai profesional yang bekerja untuk membela boss besarnya. Apa pun yang diperlukan. Termasuk head to head dengan sahabat dan masyakarat yang beberapa bisa jadi terluka hatinya.

Saya bertemu dengan Bang Andi Mallarangeng ketika mengerjakan project penulisan Policy Assesment untuk masa pemerintahan SBY tahun 2006, di sebuah LSM. Namanya policy assesment, tentu pertanyaan seputar apa yang telah dilakukan berikut argumen di baliknya, menjadi bahan diskusi yang lumayan hangat, beberapa tensinya meninggi. Bang Andi, dengan kepintarannya, berargumen untuk membela big boss-nya, SBY. Sebagai juru bicara kepresidenan, tentu itu tugas yang harus dilakukan.

Saat itu, saya melihat dia sebagai seorang profesional yang tepat dipilih oleh SBY. Jika SBY butuh juru bicara yang mengerahkan segala kepintaran untuk membela pimpinannya, Andi Mallarangeng orangnya. Tepat. Tepat, sesuai dengan kepentingan.

Dulu, ketika menjadi pengamat politik, pandangannya cukup membuka pikiran, tak ada kepentingan, semata ingin membuka pikiran.

Kemarin, 2 Juli 2009, Bang Andi Mallarangeng berkampanye di Sulawesi Selatan dan mengucapkan statemen bahwa belum saatnya orang Sulsel menjadi pemimpin bangsa, saat ini yang terbaik adalah SBY- Boediono. Pernyataan yang kemudian menimbulkan reaksi dengan asumsi bahwa pernyataan itu adalah rasial, dll.

Andi Mallarangeng berkelit, sekali lagi dengan kepintarannya, menyatakan, bahwa itu dilakukannya bukan dengan alasan rasial, tapi lebih sebagai pembuka pikiran, bahwa orang Sulses tak harus memilih orang Sulsel.

Tak tahulah apa yang akan diucapkan AM, ketika yang di-juru bicarai-nya adalah JK-Win; ketika dia menjadi juru kampanye JK-Win? Apakah kalimat serupa akan terlontar, bahwa orang Sulsel belum saatnya memimpin, atau malah sebaliknya? Bahwa inilah saatnya orang Sulsel menjadi pemimpin bangsa. Who knows….

Pembahasan tim kampanye malah lebih dahsyat daripada capres atau cawapresnya sendiri. Menanggapi pernyataan itu, maka pihak tim sukses kampanye lain menyatakan bahwa:

“Kalau menyarankan orang untuk memilih calon presiden yang satu, tak harus dengan melarang rakyat memilih calon presiden yang lainnya…”

Hmm..makin ramai, paling tidak menurut mereka, debat yang seolah tak henti berpindah dari jam ke jam, dari satu TV ke TV lainnya.

The Mallarangengs, maksud saya tentu saja adalah dua diantaranya; Andi Mallarangeng dan Rizal Mallarangeng memang orang-orang yang mendapat corong suara, publikasi media. Keduanya orang pintar yang dulu, ketika menjadi pengamat, membuka pikiran masyarakat, tanpa kepentingan politik, sehingga apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka jelaskan, apa yang mereka sampaikan adalah bagian dari pendidikan politik yang mendewasakan.

Ketika berpihak, kini mereka menjadi ‘pejuang hebat’ yang mengatakan bahwa boss mereka adalah yang terbaik; sayangnya untuk mengatakan boss mereka terbaik, kadang dengan cara merendahkan orang lain. Meraih kemenangan dengan cara mengatakan pihaknya paling baik sekaligus mengatakan pihak lain tidak baik, tentu bukan bagian dari mental pemenang yang merahmati; itu pun jika memang akan meraih kemenangan.

Saya salut (awalnya) dengan The Mallarangengs yang ini. Saya pikir mereka sangat percaya diri, karena mereka adalah orang-orang yang memang hebat; akan tetapi ketika menggunakan kehebatan sekaligus mengatakan orang lain tidak lebih hebat, bukanlah mental percaya diri, ngerinya, itu cikal bakal kesombongan.

Dalam pemahaman saya, percaya diri itu memang percaya dengan kehebatan dan kemampuan diri; sedangkan cikal bakal kesombongan adalah ketika percaya dengan kehebatan diri sekaligus tak percaya bahwa orang lain juga bisa hebat, atau malah merendahkan.

Dalam pemahaman saya, kepintaran itu memang kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang sendiri. Orang pintar bisa punya sudut pandang personal dan menjelaskannya kepada publik dengan kemampuan luar biasa. Akan tetapi, kepintaran saja tak cukup. Dalam pandangan saya, kebijakan adalah kemampuan untuk menyerap sudut pandang orang lain dan menjadikannya sebagai bagian dari sudut pandang personal.

Sangat nyaman jika negara ini dipimpin oleh orang-orang yang percaya diri; akan tetapi sangat tak tenang, jika negara ini jika suatu saat dipimpin oleh orang-orang yang memiliki cikal bakal kesombongan.

Banyak orang pintar di negara ini; mengeluarkan pernyataan kemudian membela diri…TapiĀ  tak banyak yang memiliki kepintaran dan kebijaksanaan sekaligus. Sangat nyaman jika negara ini dipimpin oleh orang yang memiliki kepintaran dan kebijaksanaan sekaligus.

Saya percaya, RM dan AM adalah dua orang yang menjadi bagian dari sejarah politik bangsa ini. Semoga ini bagian dari pendewasaan politik.

Atau..jangan-jangan itu semata demi kepentingan politik? Dan tak peduli dengan luka hati yang mungkin dialami oleh banyak pihak? Atau jangan-jangan tak hanya The Mallarangengs yang melakukan ini? Atau jangan-jangan memang politisi di negara ini memang perilakunya seperti itu.

Untung saja, saya sudah punya pilihan untuk tanggal 8 Juli 2009 nanti…semoga pilihan yang bisa menjadi solusi bagi bangsa ini…..

One thought on “The Mallarangengs

  1. Hak untuk mendapatkan hidup yang layak diatur dalam UUD 45 , sehingga hak seseorang untuk menjadi kuli profesional sangat diperbolehkan ,hanya saja tentu dengan tidak merugikan orang lain . Menurut saya Bangsa kita miskin orang pintar yang memiliki keberanian dalam memberikan argumen sesuai dengan pendiriannya . Pendirian orang -orang pintar bangsa ini tak ubahnya sebagai politik dagang sapi yang dapat dibeli dengan jabatan dan kedudukan .
    Saya hanya berharap kepada Tuhan agar bangsa ini mempunyai Putra -putri yang mempunyai Pendirian.

  2. people change..
    motivasi manusia dapat berubah2 dlm melakukan sesuatu. Sangat manusiawi memang; tidak konsisten, pelupa, sombong, yg berujung pada merugikan diri sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *