Ini kisah tentang sepasang suami isteri yang berkesempatan berkunjung ke rumah Allah di Mekkah.

Saya bersama isteri, alhamdulillah diberi banyak kemudahan, selama menjalankan ibadah haji ini. Tentu saja, peluang berbuat baik pun tersedia di depan mata, selama kita bisa melihat dengan jernih. seperti halnya, ketika usai melaksanakan aktivitas jumroh aqobah; saya bersama isteri berjalan pulang ke maktab kami. Relatif mudah, karena dari kejauhan sudah terlihat bendera merah putih. Cukup dengan mengikuti bendera itu, maka insyaallah, kami akan sampai ke maktab.

Dalam perjalanan itu, ada sepasang suami isteri yang sepertinya ‘berantem terus’. Suaminya meminta pendapat ke saya; kemudian saya beri nasihat. Isterinya juga mengadu ke saya, kemudian saya juga beri nasihat. Atas pertolongan Allah, masalah mereka akhirnya mereda, mereka bisa akur lagi.

Perjalanan menuju maktab pun dilanjutkan, hingga sampai di sebuah persimpangan. Isteri saya menyarankan untuk memilih jalan yang agak memutar, sementara saya memilih jalan yang lurus. Dari kedua pilihan jalan itu, memang bendera Indonesia masih kelihatan. Jadi, kemungkinannya, kedua jalan itu menuju maktab yang sama.

Saya kemudian memutuskan untuk menempuh jalan yang lurus, yang ternyata salah, karena malah makin menjauh dari maktab. Isteri saya ikut saja. Nah, selama ‘tersesat itulah’, saya berpapasan dengan seorang Afghanistan dan Pakistan. Ribut, entah karena masalah apa. Biasanya, dengan kita mengucapkan sebaris kalimat do’a, setiap orang yang bertengkar akan mereda pertengkarannya. Kali ini tidak. Keduanya terus saja bertengkar.

Saya kemudian menghampiri, dan mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Inggris, yang mungkin beberapa mereka mengerti, beberapa tidak. Ditambah lagi dengan bahasa tubuh. Intinya, ingin mendamaikan mereka. Atas pertolongan Allah, kedunya tak melanjutkan pertengkaran.

Saya dan isteri melanjutkan perjalanan, yang tersesat itu. Karena makin menjauh, akhirnya kami mencari taksi. Saat itu lumayan macet. Kami menemukan taksi dan saya mempersilahkan isteri saya duluan naik taksi. Isteri saya menolak, karena pernah mendengar kabar, bisa-bisa kalau isterinya naik lebih dulu, taksinya langsung jalan, alias dibawa kabur. Mungkin pikiran yang berlebihan, tapi tak ada salahnya waspada. Saya kemudian naik, disusul isteri saya.

Ada masalah lain, ternyata air minum yang kami bawa tinggal sedikit. Kami kehausan. Tak hanya kami berdua rupanya y

aang kehausan, supir taksi itu juga kehausan. Biasanya, di sepanjang jalan itu, per 100 meter ada air zamzam gratis yang bisa kami ambil. Taksi berjalan lambat, akhirnya, dengan bahasa Inggris terbata-bata, saya berkomunikasi dengan supir taksi untuk mengambil air zam-zam.

Ketika saya akan keluar taksi, isteri mencegah saya. Kembali, pikiran tadi, bahwa kalau isteri di dalam taksi, bisa-bisa dibawa kabur oleh supir taksi. Akhirnya, saya berunding dengan supir taksi, dan keputusannya, supir taksi itu yang mengambil air, sementara saya yang menjadi ‘supir taksi’ sementara, menjalankan taksi pelan-pelan, di tengah kemacetan. Untungnya supir taksi itu tidak khawatir taksinya akan dibawa kabur oleh saya.

Supir taksi pergi mengambil air, saya menjalankan taksi perlahan-lahan. Hmmm… baru kali ini mungkin ada jamaah haji yang ‘nyambi’ jadi supir taksi. Tak apalah, hitung-hitung ibadah, daripada kami semua kehausan.

Supir taksi kembali, sambil berlari dan masuk kembali ke taksi. Saya kemudian pindah ke kursi belakang. Kami pun saling berbagi air zamzam dan meminumnya untuk menghilangkan dahaga.

Perjalanan dilanjutkan hingga kami sampai ke maktab dan disambut dengan penuh kecemasan oleh pimpinan rombongan. Rupanya, kami cukup lama tersesat. Tapi, tersesat yang bermanfaat; karena selama perjalanan tersesat itulah, ternyata banyak peluang untuk berbuat baik. Alhamdulillah.

One thought on “Tersesat yang Bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *