Ini cerita dari salah seorang kawan yang tahun kemarin naik haji.

 

“Mas.. Ka’bah ada Dimana Ya?”

 

Entah kenapa, saya ada keinginan untuk kembali ke mesjid di Mekkah. Saya pergi dari hotel, menuju komplek mesjid Mekkah. Di tangan saya ada wadah air untuk mengambil air zam-zam.

 

Sampai disana, sebelum mengambil air zam-zam, saya pun shalat sunat. Selesai shalat sunat pertama, hati saya malah ingin nambah shalat lagi disana. Saya pun shalat kembali dan kali ini diiringi derai airmata. Rasanya kecil sekali berada di mesjid yang megah itu.

 

Setelah sahalat sunat yang kedua, saya pun istirahat, mengambil air zam-zam dengan menggunakan gelas. Setelah itu, saya lanjutkan shalat kembali. Seolah saya tak ingin meninggalkan tempat ibadah ini. Hati saya seolah ditahan untuk tidak meninggalkan mesjid.

 

Setelah saya shalat, saya tak langsung beranjak. Saya ingin menikmati lebih lama lagi keberadaan disana. Dari kejauhan, ada sekelompok orang yang berjalan menuju ke arah saya berdiri. Dari postur tubuhnya, rombongan yang terdiri dari 10 orang dan dipimpin seorang ustadz itu, sepertinya berasal dari Asia.

 

Ketika mendekat, dan melihat lambang bendera di dada saya, barulah pimpinan rombongan itu menyapa saya,

 

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam..” jawab saya

“Mas.. mau nanya nih…” logatnya mengingatkan saya kepada salah satu suku di Sumatera.

“Iya….ada apa?” jawab saya lagi.. Dalam hati saya bilang, oh mungkin ini yang menyebabkan saya harus bertahan lebih lama di komplek mesjid. Rupanya akan ada orang yang ‘tersesat’ dan saya menjadi penunjuk jalan.

“Kalau Ka’bah di sebelah mana ya?” tanya pimpinan rombongan itu polos.

 

Hah…..

Terus terang saya mau ketawa juga, tapi ya bagaimana lagi, mungkin ini memang tugas saya untuk menjelaskan. Padahal mereka sudah ada di komplek mesjid dan masuk dari pintu utama. Belum lagi ada karpet yang digelar khusus seperti jalur menuju Ka’bah…

 

Saya menatap pimpinan rombongan itu dan juga anggota rombongan yang balik menatap dengan penuh harap.

“Bapak tinggal lurus saja mengikuti karpet ini.. mentok, sampai di Ka’bah.” Jawab saya.

“Terima kasih Pak.. Assalamu’alaikum” jawab pimpinan rombongan dan diiringi oleh anggota rombongannya.

“wa’alaikum salam” jawab saya..

 

Mereka berlalu menuju jalan yang tadi saya tunjukan, mengikuti jalur karpet yang digelar, lurus menuju Ka’bah. Tadinya saya mau pulang ke hotel, tapi hati kecil saya ‘memerintahkan’ saya untuk menyusul rombongan tadi. Agak berlari, saya menyusul mereka.

 

Saya kemudian menemui rombongan tadi yang berdiri di dekat Ka’bah, tapi masih dalam kondisi kebingungan. Saya mendekati mereka dan pimpinan rombongan itu kemudian menyapa saya lagi,

“Alhamdulillah masnya datang lagi…mau nanya lagi nih…” tanya pimpinan rombongan

“Ada apa Pak? Ka’bahnya udah ketemu khan….?” Jawab saya. Dalam hati, Ka’bah udah ketemu kok masih bingung?

“Ini Pak.. kalau thawaf itu, mulainya darimana ya?” tanya pimpinan rombongan, masih polos…

 

Oh God…. Saya menatap ke langit dan berbisik sama Allah…lagi ngerjain nih…? Jangan-jangan, kalau saya merem sebentar dan melek lagi, rombongan itu kemudian hilang, seperti ujian kesabaran buat saya dari Allah…?

 

Ternyata mereka tetap disitu, mengelilingi saya dan menatap penuh harap sekali lagi kepada saya….

“Pak.. kalau mau mulai thawaf,  mulainya dari titik yang ada lampu hijau itu, di sebelah hajarul aswad. Nanti Bapak dan rombongan melaksanakan thawaf disana, 7 kali.”

“Oh gitu..arahnya kemana Pak?” tanya salah seorang anggota rombongan.

“Ngikut aja arah para jamaah lain yang thawaf juga, jangan melawan arah ya Bapak-bapak….” Jawab saya lagi.

 

“Terima kasih sekali lagi Pak atas informasinya….” Jawab pimpinan rombongan.

 

“Sama-sama, semoga ibadahnya khusyu ya Pak” jawab saya lagi, kali ini diiringi do’a supaya mereka bisa memahami informasi yang saya berikan.

 

Saya pun melihat mereka berjalan menuju Ka’bah. Seperti melepas anak yang baru bisa belajar naik sepeda. Sampai saya pastikan mereka melakukan seperti yang saya informasikan, barulah saya beranjak dari tempat itu. Saya kemudian menuju hotel dengan air zam-zam yang sejuk di tangan saya dan tentu saja hikmah yang juga sejuk di hati saya; ternyata tak sia-sia saya tinggal lebih lama di mesjid ini, bukan hanya bisa shalat lebih lama, tapi juga bisa membantu jamaah yang ‘tersesat’ tadi. Terima kasih ya Allah.

One thought on “Tersesat di Jalan yang Benar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *