Di samping rumah saya ada sebidang tanah, luasnya sekitar 500 m2. Tanah itu kosong, kini ditanami, ‘tertanami’ tepatnya dengan macam-macam pohon, seperti pisang, talas. Pohon-pohon yang tak direncankan orang untuk tumbuh, karena biji-bijian yang kemudian menjadi pohon itu, sebelumnya adalah sampah, yang dilempar ke tanah kosong, kemudian tumbuh jadi pohon.

Sekeliling tanah itu ditembok batako, setinggi hampir 2 meter. Pada bagian ujungnya dipasangi pintu gerbang yang tinggal rangkanya saja, sementara pintu pagarnya hilang sebelah. Tanah kosong itu kini menjadi tempat sampah umum. Siapa saja membuang sampah kesitu. Dari mana saja. Pernah ada orang yang datang dari kampung cukup jauh, datang membuang 2 karung sampah kesitu.

Tetangga hampir tak ada yang membuang sampah ke tanah kosong itu, karena tahu, baunya menyengat, dan sangat mengganggu. Apalagi ke rumah saya yang persis berada di sebelah tanah kosong itu.

Suatu hari, sepulang kerja, saya lihat di depan pagar hilang sebelah itu, ada 2 orang sedang membangun kios. Sudah ada plang namanya… “Bensin Nova: Jual Bensin dan Solar”.

Saya tanya ke isteri saya,

“Bunda, itu kios punya Bunda Nova?”
“Iya, Bunda Nova mau jualan, sekalian biar ngga ada yang buang sampah disitu”.

Oke juga Bunda Nova ini, melihat peluang, mikirin kepentingan banyak orang, sekaligus mendapat keuntungan.

Dua hari kemudian, kios Bensin Nova sudah berdiri. Dicat dominan hitam dan merah, dengan spanduk Djarum Black dan Djarum Slimz di depannya. Sama halnya dengan rumah-rumah di pinggir jalan Ciapus, yang hampir semuanya sudah dijadikan tempat usaha dan biasanya dipasangi spanduk serta dicat sesuai dengan ‘pesan sponsornya”. Ada yang bercat hijaun karena spanduknya Sampoerna Hijau, ada bercat biru karena spanduknya Sejati, ada juga yang bercat kuning dan spanduknya Golkar (kalau ini sponsornya dari Caleg).

Tanah kosong yang sama; dengan pagar yang hilang sebelah. Disikapi dengan cara yang berbeda. Para pembuang sampah sembarangan itu melihat tanah kosong berpagar sebelah sebagai tempat membuang sampah. Beberapa sampah yang dibuang, terutama biji-bijian kemudian menjadi pohon.

Bunda Nova dan para ’sponsor’ itu mampu melihat tanah kosong sebagai peluang (juga), mengambil sikap yang benar dan mengambil keuntungan dari peluang tersebut. Bunda Nova mendapat keuntungan dari berjualan bensin dan solar, sementara para sponsor itu mendapat media promosi gratis di pinggir jalan persis.

Memang penting untuk peka melihat peluang, bersikap benar terhadap peluang dan mengambil keuntungan dari peluang. Menyikapi peluang dengan cara yang salah dan benar itu, perbedaanya adalah seberapa besar nilai manfaatnya bagi orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *