Taman kanak-kanak itu lokasinya di pusat kota. Megah gedungnya. Siswanya tak membayar, malah dibayar. Yang penyabar dibayar, yang pemarah dibayar. Yang pendiam dibayar, yang suka bikin ribut dibayar. Yang pemalu dibayar, yang over acting dibayar.

Siapa yang membayar? Dengan suka dan rela, jutaan orang membayarnya. Mengumpulkan rupiah demi rupiah demi rupiah, agar mereka nyaman bermain disana.

Taman kanak-kanak itu kini menjadi pusat perhatian, karena ada problem besar yang bisa mempengaruhi kelangsungan area bermainnya.

Mulailah bermunculan atraksi. Yang pemalu memukul palu, yang over acting berteriak “huuuu”. Satu bicara yang lain menyela. Ada yang berbicara sambil berpikir ada juga yang berceloteh tanpa makna.

Pentas itu belum usai.

Kepintaran para siswa tak punya makna dan tak akrab dengan musyawarah, padahal itulah saripati watak bangsa ini yang jelas tercantum dalam dasar negara.

Yang salah dan benar menjadi sumir, demi kepentingan golongan. Kekuasaan menjadi panglima dan para siswa hanya bisa beradu kers suara dibanding cerdas merasa.

Perbedaan antar siswa usai terungkap. Hasilnya tinggal dikawal.

Kepala sekolahnya tak ada di ruangan itu. Kepala sekolah yang ada, imitator dari idolanya. Keduanya punya karakter yang sama. PERAGU.

Taman Kanak-Kanak itu tetap berdenyut aktivitasnya. Siswanya, dari pagi hingga larut malam setia muncul di layar kaca.

Siapa tahu, diantara mereka ada yang cukup dewasa, bertanggung jawab terhadap kebenaran, karena tahu bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Tugas mereka adalah menyampaikannya kepada rakyat dengan terang benderang.

One thought on “Taman Kanak-kanak yang Kepala Sekolahnya Peragu

  1. Postingnya keren Mas, sesuai dengan kondisi saat ini. benar-banar carut marut.

    Negeri ku yang malang… Smg semunya cepat berlalu krn hanya doa yang sanggup ku beri untuk mu Negeri ku…

  2. Kadang2 kita yg dewasa juga perlu melihat melalui mata seorang anak TK. Ada kepolosan dan kejujuran. Dan TK yg ada di pusat kota dan bergedung mewah tersebut adalah cerminan dari masyarakat kebanyakan. Semoga kita dianugerahkan Kepala Sekolah yg dpt menghasilkan siswa2 yg berguna bagi sekolah dan masyarakatnya. Amin

  3. pemimpin merupakan cermin masyarakatnya.. so, mari kita ciptakan masyarakat yg baik supaya wakil-wakil rakyat yg duduk di taman kanak-kanak itu bisa memegang amanah dengan baik..

  4. namanya juga masih kekanak-kanakan walau sudah punya anak……….walaupun segala fasilitas di sediakan oleh berjuta orang tapi kadang banyak yang suka bermain di luar dari pada duduk rapi di dalam ruangan.

  5. Pas… Banget, emang seperti taman kanak-kanak, nyesel banget milih dia, berbulan2 ngurusin perkara hasilnya cuma dua opsi A atau C. Gak ada ngaruhnya bagi rakyat kecil. Cuma menghambur2kan uang rakyat aja.

  6. ….dari pada nonton sidang pansus ..saya lebih suka lihat animal planet ….lebih natural….mengambil sesuai kebutuhan……

  7. Siapa yang memasukkan mereka (anak-anak TK) itu ke sana hayo ngacung. Kalo saya enggak tuh, makanya ketika melihat ulah dia, saya ya biasa-biasa saja, wong saya merasa nggak memasukkan mereka kok. Salahnya orang yang memasukkan ke sana. Tapi ada positipnya juga pertunjukan sinetron kemarin itu, orang jadi tahu siapa sebenarnya mereka. Ternyata, memang hanya sedikit tinggi dari anak-anak TK…hahahahha. Banggalah wahai bangsa Indonesia karena punya anak-anak TK yang sekolahnya malah dibayar mahal, ketika bernyanyi disiarkan seluruh televisi, ketika mereka berantem apalagi, ketika mereka teriak huuuuuuuuu….tersirat jelas “kualitas”nya sebagai yang tulen anak TK. Wahai dunia….inilah TK Indonesia yang untuk masuk SD harus menempuh pendidikan (baca:masa bermain) panjang, yaitu 2009-2014

  8. Semoga kekacauan apa pun di negeri ini cepat selesai.. dan berubah menjadi kemakmuran bagi semua… amin

  9. Memang untuk anak2… selalu di spesialkan… jadi apapun ulah anak… kita senantiasa maklum… walau si anak terus berulah hingga membuat kita gerah… tapi… itulah anak…

    Cuman… kita sayangkan… anak kita yang sedang kumpul hingga 500an anak itu… walau sudah punya anak… tapi… tidak bisa memberikan contoh buat anak – anaknya sendiri… yang terbaik untuk anak bangsa.

  10. ya itulah kalo taman kanak2 mewah itu pake dibayar. harusnya tidak ada pembayaran dari sekolah untuk mereka semua. taman kanak2 itu isinya adalah pembayaran dari orang tua nya masing-masing, mau itu ortu kandung atau angkat. di sekolah itu yang dibayar oleh sekolah ya cuma kepala sekolah dan guru-2 (lebih tepat pegawai atau karyawan pendidikan, ketimbang titel guru yang punya nuansa terhormat).

  11. inilah hidup yang penuh dinamika … seharunya kita tak perlu banyak berkomentar tetapi perbanyaklah berbuat demi kemajuan bangsa .. bukan mencari kesalahan .. tapi memperbaiki kesalahan …

  12. Sungguh sangat menyedihkan..rakyat mengupulkan rupiah buat bayar pajak..untuk gaji anak TK yg tidak berguna..justru gedung megah malah jd ajang komedi yg di tonton seluruh dunia. dahlah maunya apa mereka..nasi dah jd bubur..rakyat tinggal nonton aja sekolah TK versi baru, dimana muridnya orang elit, tp kebobrokanya melebihi TK yg sebenarnya..

  13. Itung-itung numpang ngetop, untuk persiapan pemilu yad. Jangan lupa sering2 kirim berita rumor ke media elektronik untuk menyaingi sinetron….

  14. Biasalah kalau anak TK lagi dilihatin dan disorot di mana-mana ya pasti seneng untuk mencari perhatian…..
    Sambil menunjukkan ini lhoo saya masuk TK “elit” lho….. walaupun banyak juga yang hanya manggut manggut seperti bebek yang mau diarahkan untuk kepentingan pemilik tk…

  15. Introspeksi itu wajar, tetapi mengolok olok bangsa sendiri adalah cerminan dari jiwa yang belum merdeka.(inlander) . Hal yang terjadi di DPR kita adalah proses demokratisasi yang harus dialami oleh bangsa ini. Tidak terlalu buruk dibandingkan dengan kejadian2 lain di negara yang sedang berkembang yang juga sedang belajar berdemokrasi. Justru saya melihat adegan tsb bukan bagian dari kekanak kanakan karena yang di perjuangkan adalah sangat jelas, yaitu kompromi dengan korupsi kerah putih atau mau melawan korupsi. Tentu saja terjadi peristiwa yang macem2itu karena memang ini suatu perang akbar yang harus dilalui. Mari kita cermati “guru” itu akan menepati konstitusi apa tidak.Ingat kesimpulan dari sidang paripurna DPR adalah konstitusional . Masih adakah perlawanan terhadap kebenaran dengan menyudutkan DPR yang dahulu memang spt taman kanak kanak ?

  16. kanak-kanak yang dibungkus pake jas mahal, kelakuan, IQ, EQ bener-bener masih kanak-kanak. Dan masih berani bilang atas nama rakyat..haduhh tragiss bgt sih..beruntung aku msh bisa kerja tidak di DPR…

  17. horeee, TK kami jadi tontonan seluruh rakyat negeri ini. Om liat tadi nggak ada yang ‘merengek’ minta permen coklat. Eh, …. ada yang bilang lho, setelah dikasih kertas putih baru diam. Katanya, mungkin itu amplop berisi kertas selembar aja.

  18. Pada pentas td malam itu..ternyata Kepala Sekolahnya tidak berhasil memaksakan kehendak kepada murid2nya..banyak murid2nya yang selama ini tertekan akhirnya memberontak dan tidak mau mendengar lg perintah Kepala Sekolahnya karena memang kepala sekolahnya itu udah ngawur….

  19. Maju terus Indonesia ku…walopun carut marut..tp suatu saat pasti akan JAYA..doaku menyertai mu tuk Bumi Pertiwi ini..ttp OPTIMIS bung..kt adalah lbh dr pemenang..aminn

  20. Mendingan tk beneran yg brmain & brteriak dgn segala kpolosan mereka karna memang mereka anak2 bneran. tp cb simak tk yg megah itu yg murid2nya anak2 brkumis,brjenggot dan sdh branak-cucu yg brmain penuh tipu, brteriak penuh kbhongan,”mikirin rakyat ogah ah, gue kan orang partai”.

  21. Saya benar-benar muak, sama Sinteron Senayan..
    saya pulang kerja, dan bener2 kerja..eh..di Tipi malah ada siaran Dagelan Srimulat Elite ( karena berdasi,berjas, )
    semoga mereka malu ditonton anak PUAD..

    hehehe, Hidup Indonesiaku.

  22. ….”mau dibawa kemana negara kita indonesia tercinta….”yang blum merasakan tragedi 98 mudah2an tidak pernah merasakannya sama sekali, damai indonesiaku..

  23. seperti teman saya bilang.”kasian anak2 tk, padahal kan mereka lucu2, dan masih polos, kenapa pengandaiannya disamakan ya? ga rela…” hahaha

  24. Tenang… Seperti mengayak beras, suatu saat yang jelek-jelek otomatis terbuang sehingga hanya menyisakan yang benar saja.

  25. biasa aja kali. kalau ga boleh ribut, pake pakaian adat masing-masing daerah saja.
    makanya, biasakan berbeda pendapat, meskipun di rumah sendiri. jadi kalau liat kayak gitu, ga aneh…
    kampungan sekali kalian….

  26. Yang ketok palu itu pemalu atau bikin malu atau malu-malu-in ??? 🙂 🙂
    Kalo yg teriak uuuuu itu sy yakin cuma cari sensasi dan CPO=cari perhatian orang, karena ybs baru sadar kalo kepakarannya selama ini menurut sodara2 kita di Papua sana, hanyalah tipu-tipu. Sudah ga laku, maka perlu teriak2 se-keras2-nya agar pembeli tertarik. Tapi pembeli cukup cerdas untuk mengenal mana emas mana loyang.

    Salam. 😎

  27. yg menang tepuk tangan, jingkrak2.
    yg kalah cemberut.
    persis anak tk.
    tapi ada anak yg dulu tampangnya militan, kucel, dekil skrg gayanya flamboyan namanya budiman sudjatmiko. setelah masuk TK jadi keren, dan tidak lagi berteriak revolusi.

  28. Yg gemblung itu orang yg sudah mapan, enek-enakan, nggak mau susah sedikit, gini aja pada ketakutan, bravo anak tk yg telah memilih opsi ballout bang century bermasalah dan haram yg menyelewengkanya !

  29. ya memang enak sekolah di TK telat gak masalah, dapat makan, minum gratis apalagi gak bayar malah dibayar uwih enak tenannnnn kalau ngomong ngalor ngidul ya gak papa namanya juga TK

  30. sebelum masuk tk…mereka sebenarnya udah pinter…….
    begitu masuk tk..ya gitu…soalnya banyak yg ngasih makanan kecil ..apalagi makanan gede

  31. Kata siapa demokrasi membuat negara sejahtera ?? Dimanapun demokrasi akan seperti ini. Lihat China, demokrasi tidak ada, negara sejahtera-makmur. Singapura, cuma 2 partai, negara makmur. Jepang, 2 partai, makmur juga. Indonesia? 48 partai, kampret semua….maaf!

  32. Hanya orang yang disunat secara rohaniah (yaitu sunat hati dan telinga rohani), yang tidak mengeraskan hati saat mendengar suara TUHAN. Merekalah yang tidak membuat keadilan terbalik, sehingga kebenaran muncul seperti rembang tengah hari. Walaupun amat berat untuk PPP dan Lily Wahid (PKB) memihak kepada kebenaran, namun akhirnya mereka nekat, sehingga menjadi contoh bagi siapa saja yang sudah tahu kebenaran untuk tidak rela dibutakan oleh faktor kebutaan. Faktor kebutaan (uang, kekuasaan, dll) telah membuat gajah di pelupuk mata mereka tidak tampak, sehingga mereka mengalihkan pandangan pada kuman seberang lautan dengan imajinasinya, seolah-olah memang tidak ada gajah di pelupuk mata. Gob bless you always.

  33. he he he ya gitulah taman kanak2 selalu riuh dan ribut…maklum aja. Salam silaturahmi buat penulis. Dan yang merasa kepala sekolah jangan curhat yah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *