Baban Sarbana

Social Business Coach

Browsing Tag:

valuegraphy

Hidup adalah Momentum

Adalah Joan of Arc, gadis muda yang menjadi inspirator dan pemimpin para pejuang negerinya sampai ajal menjemputnya pada usia sembilan belas tahun. Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama, Joan menyaksikan saudara perempuannya diperkosa dan dibunuh oleh tentara perusuh. Bertahun-tahun kemudian, perang terjadi kembali, Joan berdiri dihadapan rajanya dengan sebuah pesan yang dia percaya dari Tuhan, yaitu menyerahkan tentara kepadanya dan dialam nama Tuhan, dia akan mengembalikan kerajaannya yang telah hilang. Dengan bermodal keyakinan  dari Tuhan inilah Joan berhasil membebaskan wilayah Prancis dari jajahan Inggris. Namun sayang ia dikhianati oleh rajanya sendiri, ia dijebak dan ditangkap oleh Inggris dan dibakar hidup-hidup di usianya yang baru 19 tahun. Seorang gadis yang berjiwa ksatria dan patriot ini mampu menuliskan dalam sejarah tentang semangat muda.

Continue reading

Hijrah: Berubah yang Berbuah

Tahun baru akan ada setiap tahun.

Menjadikannya sebagai momentum perubahan adalah pilihan.

Kaum muslimin berhijrah dikarenakan tekanan kaum Quraisy yang semakin berat. Tekanan adalah bagian proses ‘kenaikan kelas’. Pengelolaan tekanan yang baik akan menghasilkan lejitan. Demikianlah yang terjadi dengan Rasulullah dan kaum muslimin. Dengan senantiasa mengharap petunjuk Allah SWT, maka hijrah pun dilakukan.

Continue reading

Juara 1 dari 1 Peserta

Ini cerita tentang teman saya, seorang binaragawan….

Ketika di Amerika Serikat, selain ke toko buku, saya pun rajin mengikuti informasi tentang diadakannya kompetisi binaraga. Saya lihat di majalah, brosur, maupun pengumuman di tempat latihan saya, Gold Gym di Virginia.

Pertandingan pertama saya adalah Winchester Open, di daerah Virginia. Saya pergi ke sana sendirian. Dengan gelar Juara 2 PON, saya berangkat. Walaupun saya tahu, orang-orang disana mungkin ada yang tidak tahu dimana Indonesia, apalagi istilah PON. Continue reading

Siap Berdebat…!(3)

Novotel, Palembang…

Malam hari, 19.50

Pasangan SOHE dan ALDY masuk dari pintu yang berbeda. Saya ikutan masuk bareng pasangan SOHE dari pintu sebelah kanan. Di tengah stage sudah berdiri Alvito Deanova, host dan adik kelas saya di SMA sebenernya (tapi ngga penting faktanya ya…). Sorak sorai, yel-yel, teriakan, ramai sekali menyambut kedua pasangan masuk studio.

Saya berjalan masuk di belakang SOHE. Saya mendengar–kalau kata Dewi Lestari, penulis Supernova–Monchicis Effect, itu lho, suara perempuan yang histeris, berteriak dengan ucapan yang jelas akhirnya makin ngga jelas saking histerisnya.. dan saya menengok ke pendukung ALDY, ternyata suara itu darisana. Di bangku pendukung ALDY duduk sekitar 30 orang dan semuanya PEREMPUAN. Hmmm, strategi juga rupanya, atau apa lah namanya, paling tidak membuat saya menoleh.

Continue reading

Siap Berdebat…! (2)

Novotel Palembang

Hari menjelang sore…

Saya dan HY kemudian masuk ke dalam kamar yang satu lagi. Saya membawa print out tambahan materi untuk persiapan debat. Kemudian, seperti biasa, sama seperti sebelum manggung kalau jadi presenter, HY akan ngomong sendiri, menguji pemahamannya tentang apa yang akan disampaikan. Saya berpikir, untuk ukuran presenter kelas satu seperti HY, masih saja ada perasaan grogi sebelum manggung.

Saya jadi inget cerita tentang Melly Goeslaw, yang karena groginya, maka setiap manggung, pasti di bait pertama dia merem, untuk menghilangkan groginya.. perhatiin deh.

Persiapan dirasa cukup. Meetting untuk koordinasi dilakukan lagi di ruang tengah. Kali ini antara Pak SO dengan HY, saling bertukar informasi tentang isu-isu yang diangkat dan kemungkinan menghadapi tanya jawab.

Seluruh tim menuju ke lokasi debat. HY dan tim berangkat lebih dulu, SO menyusul di belakang. Debat dilaksanakan di salah satu ruangan yang cukup besar. Sebelum sampai saya sudah mendengarkan suara pendukung yang sahut menyahut dengan yel-yelnya masing-masing…

“SOHE…SOHE..SOHE…!”

“ALDY…ALDY..ALDY…!”

Wah, pokoknya rame banget.

Tiba-tiba…

“BRAK!”, ada suara gaduh di luar, diikuti dengan teriakan-teriakan… “CURANG…CURANG!”

Continue reading

Siap Berdebat…! (1)

Novotel, Palembang

Jam 09.00 pagi ini, Tim SOHE, kandidat Cagub dan Cawagub Sumatera Selatan sudah bersiap di Novotel. Tim sukses sudah berkumpul di sebuah kamar yang cukup luas. Ada 2 tempat tidur, ruang tengah yang sudah ditempatkan meja besar untuk 10-15 orang, proyektor terpasang dan layar diletakkan pas di dinding sebelah dapur. Di dapur, aneka kopi sachet berserakan, karena semalam, ada tim yang menginap di kamar ini.

Saya datang bersama HY dan rombongan Cawagub. Pak SO beserta tim sudah tiba lebih dulu. Ketika HY datang, langsung disambut oleh seluruh tim, dan pertemuan singkat segera dilakukan. Pertemuan diarahkan untuk persiapan debat nanti malam yang akan disiarkan langsung oleh TVOne.

Continue reading

Valuegraphy itu apa sih?

Valuegraphy adalah istilah yang saya create untuk mengisahkan seseorang dari perspektif nilai-nilainya. Bukan hanya dari kondisi yang dia alami, tapi lebih kepada bagaimana seseorang menghadapi sebuah kondisi. Karena saya percaya, kualitas hidup seseorang bukan ditentukan oleh kondisi yang dihadapinya, tapi bagaimana dia menghadapi kondisi tersebut.

Percayalah bahwa, selalu ada nilai dibalik kondisi paling menyenangkan dan paling menyakitkan sekalipun.

Kini saya ingin, metode penulisan valuegraphy ini sama berharganya dengan otobiografi dan biografi. Valuegraphy artinya sederhana saja; cetakan nilai.

Buku pertama dengan metode penulisan valuegraphy ini adalah cerita tentang Helmy Yahya pada saat menyongsong usianya yang ke-40, katanya life begins at forthy

Setiap orang menuliskan sejarahnya sendiri. Menemukan nilai dari setiap apa yang kita alami akan membuat sejarah kita bernilai. Mari mulai.

Dari Lapangan Parkir Sampai Balai Sarbini

….Teman-teman..ini bahan untuk buku saya, tentang biografi seseorang…. mohon inputannya ya?

Halaman parkir Hero Supermarket, Tebet.

Di sebuah pojok, lima binaragawan bersiap-siap untuk berlomba. Saya salah satu diantara binaragawan itu. ‘Kejuaraan’ yang lebih mirip tontonan orang berbadan besar, berminyak, hanya mengenakan celana pendek dan melakukan pose untuk menunjukkan otot-ototnya.

Beberapa orang lalu lalang di hadapan kita. Ada yang menoleh, ada juga yang berlalu begitu saja. Ada seorang ibu yang menuntun anaknya yang masih kecil. Melihat saya dan membisikan sesuatu kepada anaknya.

“Nak.. nanti kalau sudah besar, kamu jangan seperti orang-orang itu ya…”

Continue reading

Menikmati Kompetisi

Backstage, Ancol.. acara Cover Story, TVOne

Ikutan shooting live Cover Story TVOne, bintang tamu-nya Keris Patih, tapi ngga nyambung ama materi yang didiskusiin sama host acara. Ada Helmy Yahya (HY) yang seharian ini saya barengan, mulai dari pagi di Bekasi, siang di Bandung minum kopi duren, sore di FX dan endingnya di Ancol…. what a day…

Topiknya ngga jauh-jauh sama artis yang terjun ke politik. Sorotan diarahin sama HY yang ‘kalah’ di Pilkada Sumsel. Ada statemen menarik ketika host nanya:

Host : Mas, bagaimana perasaan setelah kalah tipis di Sumsel

HY : Biasa aja. Kalah – Menang itu biasa. Itu hasil. Yang jelas saya sudah bertempur habis-habisan. Pokoknya, bagi saya bagaimana menikmati kompetisi itu dan all out (gitulah kira-kira)

Yup… memang dibutuhin jiwa besar dan mental kuat untuk ngakuin kesalahan. HY bisa saja melanjutkan gugatan ke MA. Tapi memilih untuk tidak melanjutkan adalah indikasi bahwa HY sudah punya sudut pandang yang lebih luas. Kalau kata Mas Bima Arya sih, mirip-mirip Al Gore. Al Gore punya kesempatan untuk nuntut, tapi milih ngga, milih ngabdi untuk dunia, dan sukses!

Realitasnya, George Bush setelah jadi presiden dihujat dimana-mana, Al Gore malah dapet hadiah nobel. Kondisinya mirip dengan HY. Ngga tahu gimana endingnya gubernur sumsel sekarang, dan ngga tau juga endingnya HY setelah ini. Yang jelas, saya sendiri ngeliat dan ngerasa, ada energi yang menambah kekuatan HY untuk bisa memberikan lebih banyak manfaat kepada lebih banyak orang.

Kalau sukses adalah sebuah perjalanan, maka politik adalah hanya salah satu titik di antara perjalanan itu. Naif sekali kalau kemudian dikendalikan oleh satu titik, padahal perjalanan untuk sukses dan bermanfaat bagi banyak orang masih begitu luas.

Walaupun saya jadi screensaver di acara itu, alias kadang muncul kadang ngga sebagai background, tapi saya ngerasain betul bahwa itu bukan sekedar talkshow. Ada message kuat yang tersampaikan, dan message itu telah membuat folder baru dalam otak saya tentang definisi menang – kalah.

Menang kalah adalah kondisi, bagaimana menikmati kompetisinya adalah ukuran kualitas individual

Mencari Ketenangan

Ciapus.. dekat danau

 Saya kedatangan tamu istimewa, Elang Gumilang, anak muda usia 23 yang kini bisnis developer dan mendapat penghargaan sebagai Wirausahawan Muda Mandiri 2007, Pemuda Pilihan 2008 dan Young Entrepreneur 2008 dari Warta Ekonomi.

Elang datang dengan motor bututnya dan bermaksud mencari tempat merenung yang terpencil. Kebetulan rumah saya memang terpencil dan ngga beberapa jauh dari rumah, ada rumah kakak saya yang letaknya di pinggir danau dan punya musholla kecil. Nah, cocok kayanya. makanya kemudian rumah itu dipilih Elang untuk merenung.

Saya nanya, kenapa milih rumah itu untuk menyepi? karena ingin meluruskan niat katanya. Hmmm, dengan sedemikian banyak gelar yang dia miliki saat ini, memang berat rasanya untuk mengarungi tanpa meminta keseimbangan untuk tetat berniat lurus, menjaga agar apa pun yang dilakukan dalam kerangka mencari harta yang berkah.

Makanya, Elang meniatkan untuk merenung seminggu sekali di tempat saya itu, sekalian ngobrol-ngobrol tentang apa pun. Kemungkinan dia akan mengajak beberapa anak muda yang sebenarnya memiliki latar belakang keluarga berada di Bogor, tapi hampa di dalamnya. Banyak orang yang ingin tetap lurus niatnya, akan tetapi harus mencari tempat yang begitu jauh untuk mendapatkannya.

Satu lagi, ternyata kebiasaan Elang merenung itu sebenarnya ingin meniru idolanya, Nabi Muhammad SAW, yang biasa merenung untuk mengatur seluruh sel-sel di tubuhnya agar tetap tunduk ke hadirat Illahi.

Memang mencari ketenangan harusnya di tempat tenang, bukan di tempat yang ramai. Supaya sinyal-sinyal dari Allah itu bisa sampai.