Baban Sarbana

Social Business Coach

Browsing Tag:

Traveling

Karena Namanya Fathurrahman

Sampai di Incheon, bandar udara Korea Selatan jam 10.00. Saya dan Misbach langusng menuju ke pengambilan bagasi. Fathur rupanya diinterogasi di kantor imigrasinya. Satu jam lebih di dalam sana. Saya dan Misbach menduga-duga, mungkin karena namanya, Fathurrahman, yang mirip-mirip dengan orang yang sedang diawasi oleh pemerintah Korea Selatan, dan diberitakan datang ke Indonesia.

Untung nama saya Baban Sarbana, kecuali ada nama orang yang mirip dengan nama saya, dan kebetulan dia melakukan sesuatu yang membuatnya ditandai oleh dunia internasional.

Continue reading

Wanita melihat Harga Makanan, Pria melihat Jenis Makanan

Kemarin sore, usai kontrol ‘jahitan’ sehabis melahirkan di RSIA Melania, saya ngajak makan di di BTM. Kebetulan isteri saya suka es kacang merah dan mie ayam jamur. Makanya saya ngajak ke salah satu restoran yang menjual makanan sejenis itu.

Sampai disana, rupanya isteri saya berubah pikiran. Dia ngajak ke tempat makan yang lain. Kebetulan ada promo disitu. Ternyata tempatnya pun lumayan nyaman. Kami ambil tempat duduk rada pojok, bersofa, karena bawa baby juga.

Tak berapa lama, waiternya datang membawa menu. Dia kasih dua menu sekaligus, untuk saya dan isteri saya. Sambil lihat menu, saya juga melihat isteri saya. Ternyata arah matanya beda lho waktu melihat menu.

Continue reading

Reformasi dan Gas Elpiji

Pagi ini ketemu ama temen-temen yang pada Mei 1998 sama-sama demo ke MPR. Nostalgia tentang gimana mencekamnya suasana saat itu. Yang saya ingat adalah, ketika menuju Gambir, saya harus membawa koran dan ketika ada mahasiswa UI nanya, saya harus menyebut nama Elang Mulia Perkasa, itu salah satu korban Tragedi Trisakti. Rencana untuk menguasai Monas, ngga jadi, karena paginya, di Koran Republika, Amien Rais menulis surat terbuka untuk membatalkan aksi saat itu.

Continue reading

Jalan Pagi Supaya Cepet Brojol

Kemarin saya mengantar isteri untuk periksa USG. Lahirannya, kata Dr. Hidayat, sekitar tanggal 31 Desember 2008.

Saya dan isteri saya sebenarnya penasaran dengan jenis kelamin anak kami. Begitu di USG, kakinya kelipet, ngalangin ‘anu’-nya, jadi ngga ketahuan deh jenis kelaminnya apa. Makanya, saya siap-siap dengan 2 nama, satu perempuan.. VIRGIANTIKA SYAMILA.. dan satu lagi nama laki-laki… VIRGIANDANI MUHAMMAD atau VIRGIAMRI MUHAMMAD.. lho.. jadi 3 nama ya…?

Dokternya pesen agar isteri saya rajin-rajin jalan pagi, supaya cepet konstraksi. Itu berarti intruksi ke saya juga, supaya menemani jalan pagi.

Continue reading

Keimanan itu Kerasa…Keislaman itu Kelihatan

Menunggu kereta menuju Cheonan di Korail, Seoul.Semua peserta training for youth worker at NYC South Korea istirahat di kantin. Saya agak menyingkir, karena saat itu sedang berpuasa Ramadhan. Dari 11 orang peserta, 5 orang muslim; tiga dari Indonesia, 1 dari Malaysia, 1 dari Philipina.

Kawan saya, Check Lim, asal Kamboja, menghampiri. Check Lim adalah peserta paling senior dan paling sering keliling negara-negara ASEAN. Kita menjulukinya “Mr. “On Behalf”, karena selalu mewakili para peserta training dalam forum-forum resmi.

Check Lim memang punya keingintahuan yang tinggi. Saya yang sedang mengutak-atik komunikator dihampirinya.

(Percakapan sebenarnya dalam bahasa Inggris, tapi saya translate ke bahasa Indonesia)

Continue reading

Sate Kulit Juanda Bank Mandiri

Pagi buta, jam 04.45 saya sudah sampai di terminal Damri. Nunggu Elang Gumilang berangkat bareng ke Jakarta. Elang jadi tamu untuk acara Pagi Jakarta di O Channel, kapasitasnya sebagai Wirausahawan Muda Mandiri 2007 yang diadakan Bank Mandiri. Jam 05.00 Elang datang, bawa mobil sendiri, ditemenin salah satu karyawannya.

Kami berangkat menuju Jakarta. Lancar, karena masih pagi. Menuju ke studio O Channel di Senayan City.

Continue reading

Harus Lucu dalam Kondisi Ngga Lucu

Landing di bandara Juanda, Surabaya jam 09.00. Saya, Syahid dan Helmy Yahya hari ini akan menuju sebuah kota di Jawa Timur, kota kelahiran salah satu artis dangdut kondang. Helmy Yahya diundang untuk berbicara dalam sebuah seminar di Universitas terkemuka disana. Jam 14.00 mulainya. Temanya, seperti biasa tentang entrepreneurship.

Begitu landing, langsung menuju bagian depan bandara dan disambut pantia yang menjemput, 3 orang, menggunakan mobil kijang kapsul. HY langsung duduk di bangku depan, saya dan Syahid di bangku tengah. Seperti biasa, tugas kami berdua—saya dan Syahid—adalah membuat HY tetap ceria, mood, selamat sampai tujuan.

Saya nanya ke panitia:

“Berapa lama perjalanannya?”

“Empat jam, kalau lancar” jawab salah seorang panitia

Continue reading

Maaf, Kaki Saya Keinjek…

Sebelum pulang dari FX Sudirman, saya lihat-lihat dulu ke pameran lego di lantai 2. Lumayan ramai, mungkin karena ini malam minggu. Aneh-aneh bentuk lego yang disusun oleh tim yang biasanya terdiri dari 3 orang. Kayanya sih temanya tentang Mask of Indonesia, makanya yang ditampilkan, mulai dari mukanya si-Cepot, Petruk sampai muka wayang yang kena kanker mulut, karena susah ngeludah.. ya, wajahnya si Cakil (khan mulut bagian bawahnya lebih panjang, pasti susah ngeludahnya…. kekumpul bisa jadi kanker mulut)

Selesai dari situ, saya pulang menuju Bogor. Saya numpang mobil Jaguar si Bos dan diturunin di Halim, sebelum UKI. Miris banget ya, naik Jaguar tapi turunnya di pinggir jalan? Untung ngga ada yang nawar…

Ketika naik bis di UKI, saya, karena sudah ngantuk, buru-buru naik bis, mencari kursi 3 dan duduk di pojokan. Saking buru-burunya, kaki kanan saya menginjak kaki kanan orang yang duduk paling depan.

“Maaf mas… ngga sengaja..” kata saya

Continue reading

Suami berikutnya orang Bali

Sore hari di pusat kota.

Saya ngobrol bareng teman baru saya. Seorang selebriti. Saya berencana menuliskan pengalaman hidupnya. Wawancara sudah berlangsung hampir satu jam. Tiba-tiba dia berhenti, karena handphonenya bunyi. Dia menyingkir ke bagian yang lebih privat. Telpon lumayan penting rupanya.

Ngga beberapa lama dia kembali,

“Kenal *…* nggak?” dia menyebutkan nama selebriti yang juga temannya.

“Tau aja, tapi ngga kenal, sempat beberapa kali ketemu” saya bilang.

“Ngga, dia mau married, katanya sama orang Bali…”

Continue reading

Banjir Jakarta dan Saling Curiga…

Jum’at, 2 Februari 2007.

Pagi-pagi buta saya sudah pamitan sama isteri. Hujan semalam sangat lebat. Naya, puteri saya masih tidur, nyenyak. Saya mengenakan celana selutut dan sandal jepit. Karena di luar air menggenangi jalan, setumit. Tas ransel saya gendong di punggung. Berat, karena di dalamnya ada laptop dan sepatu. Saya berjalan beberapa ratus meter. Saat itu jam 03.00, masih pagi buta. Sepi. Jalan tergenang air, di beberapa bagian, airnya deras. Mobil tidak ada. Taksi pun tidak ada. Padahal saya sudah memesan taksi Blue Bird. Mereka bilang, tidak bisa mengirim armada karena jalanan tergenang air.Saya mencari taksi. Melintas sebuah taksi warna biru, tapi bukan Blue Bird. Lewat begitu saja, menyisakan air yang mendera kaki, tidak sampai celana.Kembali mencari taksi, kini taksi warna krem. Saya yang bersendal jepit, celana selutut dan muka yang belum mandi, melongok ke supir taksi.

“Bandara Pak…” kata saya, sambil curiga. Maklum sepagi buta ini, apa pun bisa terjadi. Curiga perlu dong…

“Ngga De…” Kata supir taksi.Continue reading