Delapan puluh satu tahun yang lalu, 28 Oktober 1928; Muhammad Yamin memberikan rancangan Poetoesan Congress untuk dibacakan sebagai hasil Kongres Pemuda II yang diikuti banyak pemuda dari berbagai daerah. Poetoesan Congress yang kelak, di tahun 1954, diputuskan sebagai Sumpah Pemuda, ketika sang perancang, Muhammad Yamin, menjadi Menteri Pendidikan Republik Indonesia.

Sumpah Pemuda yang ‘ruh’-nya adalah bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu, INDONESIA… Terasa hingga saat ini, walaupun beberapa menjadi ritual belaka dan ada yang dimanfaatkan momentumnya secara politis, sehingga mendapat respon secara politis pula. Sebut saja, demo teman-teman di Serang, ketika ‘menyambut’ Wapres Boediono…

Sumpah Pemuda mempertemukan banyak pemuda yang tak punya posisi dalam negara, karena negaranya memang belum ada. Mereka berjuang, tak mengatasnamakan posisi dalam negara; tak sedang bekerja untuk negara. Mereka mengabdi untuk negara yang 17 tahun kemudian dikenal dunia sebagai negara merdeka.

Sumpah Pemuda memberikan sumbu untuk memiliki alasan mencintai tanah air, bangga sebagai bangsa Indonesia dan tentu saja memiliki karakter bangsa yang direpresentasi dengan bahasa Indonesia yang utuh.

Sayang, bangsa ini belum punya road-map kepemudaan yang utuh; bangsa ini belum punya rumusan national character building yang bisa membangun kebesaran dan kejayaan melebihi sejarahnya sendiri.

Malaysia sudah punya Youth Development Index, Vietnam sudah punya Youth Happiness Index, Unesco sudah punya rumusan Youth Development Index; untuk mengukur dari mana dan mau kemana para pemuda yang menjadi tulang punggung negaranya kelak diarahkan. Indonesia? hmmm.. batasan usia saja masih sumir, apalagi membuat pagu, patokan bagi pengembangan pemudanya….

Korea Selatan yang jumlah pemudanya 10% dari jumlah pemuda Indonesia punya 700 Youth Center yang terkoneksi… Indonesia yang jumlah pemudanya lebih dari 81 juta orang; punya tempat penyewaan pelatihan untuk pemuda, tapi tak ada yang menjadi representasi Youth Center yang mewakili road map kepemudaan…

Atau saya yang belum tahu? atau saya yang memang tak dibekali informasi tentang Indonesian National Youth Center ketika mewakili negara ini ke ASEAN Youth Workers Program, sehingga harus mencari gambar-gambar lokasi youth center, dan yang ketemu adalah wisma salah satu kampus ternama Indonesia…?

Sumpah Pemuda tercatat dalam sejarah, dan hanya diperingati karena tanggalnya. Justru teman-teman di luar lingkaran penguasa yang giat membangung gerakan; Indonesia Unite, Indonesia Satu dan masih banyak lagi.. Mereka tidak bergerak karena punya kekuasaan; mereka bergerak karena hatinya berwarna ‘merah putih’; di dadanya ada INDONESIA….

Sementara.. para menteri yang (beberapa) mendapat kompensasi loyalitas kepada penguasa, kini malah ramai minta naik gaji. Belum lagi bekerja, sudah minta diupah lebih. Dan, mereka dipilih memang untuk melakukan pembenaran, melalui kepandaian silat lidah, memberikan argumen yang memastikan bahwa apa pun keinginan politis, akan bisa diwujudkan. Itulah gunanya memilih politisi ketimbang negarawan. Motifnya memang politis, karena kebanyakan dari mereka adalah politisi.

Melihat beberapa menteri berbicara di layar kaca, seolah masih kampanye, karena sibuk dengan jargon, janji, bahkan ada yang unjuk kuasa, salah satunya dengan inspeksi mendadak ke Stasiun Kota, dan ketika tak menemukan kepala stasiun-nya dan melihat betapa kotor stasiun tersebut, langsung Sang Menteri memecat kepala stasiunnya…Hebat….

Masih di layar kaca.. banyak rakyat masih sengsara. Mereka bahkan bisa naik pitam hanya gara-gara sesuap nasi. Mereka bisa baku hantam hanya gara-gara tersinggung. Beberapa mulai mencari jalan aneh dengan mendalami aliras yang diklaim ‘sesat’; sebagai dispensasi dari kebingungan akan solusi hidup yang makin tak menentu.

Sumpah Pemuda, 81 tahun yang lalu, tetap menjadi ruh yang harus terus digali, supaya tetap mencintai tanah air, bangga sebagai bangsa dan membangun karakter melalui bahasa.

Menteri naik gaji, padahal belum lama bekerja, karena mereka kebanyakan politisi (saya tak bicara statistik, tapi lebih ke pola pikir mereka).

Rakyat banyak yang naik pitam, mungkin karena banyak yang tak berdaya dan tak tahu harus mencari solusi hidup kemana….

Semoga saja bangsa ini masih banyak yang mencintai dengan ikhlas, sehingga keikhlasan cinta dari segelintir orang ini akan dibalas dengan keberkahan dari Allah Sang Penguasa Sejati….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *