20

May 2009

Smiling Jambret

Ini cerita dari seorang mahasiswa, ketika saya menjadi dosen tamu mata kuliah Creative Writing di Universitas Pancasila…Mereka diminta untuk menuliskan pengalaman ketika naik kereta.

Begini ceritanya…

“Saat itu siang hari, kereta tak terlalu sesak. Saya berdiri di dekat pintu, karena stasiun tempat saya akan turun tinggal 2 lagi. Di leher, ada kalung yang baru saja saya beli minggu lalu. Santai, saya baca buku. Ketika kereta berhenti di satu stasiun, berbondong-bondong penumpang turun. Saya masih aman di pintu. Perlahan kereta akan berjalan, tiba-tiba ada seorang remaja laki-laki, mengarah ke saya dan tangannya menjangkau kalung di leher.

SREEET!!!!
Kalung itu berpindah tangan. Saya kaget. Dan berbarengan dengan kereta yang berjalan makin kencang, saya melihat remaja penjambret itu di trotoar kereta, dan tersenyum ke arah saya. Tak mungkin saya turun dari kereta dan mengejar penjambret itu, karena kereta makin cepat.

NYESEK!!!!
Bener-bener senyum yang bikin sesek. Di depan mata, ngejambret pas kereta mau jalan dan melempar senyum ketika pekerjaannya berhasil. Mungkin saja, saat kereta perlahan akan berjalan itu sudah diperhitungkan oleh remaja penjambret itu. Perhitungannya matang, tapi sayang digunakan untuk tujuan yang tak baik.

Smiling Jambret itu ngga akan saya lupa wajahnya; walaupun sampai saat ini tak pernah lagi saya ketemu dengan dia.”

One thought on “Smiling Jambret

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *