Ini cerita waktu mahasiswa IPB dulu, waktu bulan Ramadhan

Ada niat dari beberapa teman sekelas, Zarkasy, Amri, dan Prio. Niatnya mau makan sahur di kaki Gunung Salak.  Teman-teman singgah dulu di rumah, menghangatkan makanan, rencananya melanjutkan perjalanan ke Sukamantri, untuk makan sahur.

Di rumah saya, ada nenek dari Garut yang sedang ke Bogor dan tinggal di rumah.

Teman-teman datang jam 01.00; langsung mengambil air wudhu. Sementara saya menghangatkan makanan. Setelah semuanya wudlu, dan menuju musholla yang dekat dengan tempat wudlu.

Saya menyusul kemudian, wudlu terakhir. Ketika akan masuk musholla kecil, nenek saya bilang..

“Wah.. rajin-rajin ya, masih muda, mahasiswa, mau shalat Tahajud.. berjamaah lagi…” katanya

Saya senyum-senyum saja..

Saya bergabung dengan teman-teman saya. Shalat jamaah belum mulai. Prio iqomah dan Amri jadi imam. Amri ini orang Makassar, suaranya nge-bass. Dia ambil ancang-ancang dan berniat shalat…

“Usholli fardho ISYA’I, arba roq’ataini, lillahi ta’ala…….” Amri mengucap niat sholat, lumayan keras, apalagi di dini hari seperti itu. Dan, sudah pasti nenek saya dengar juga ucapannya.

Saya senyum-senyum sendiri. Mikir juga, pasti nenek saya berubah pikirannya menilai kami ini anak muda yang rajin, dini hari, shalat tahajud jamaah. Padahal, kami ini adalah anak muda yang sholat Isya’nya kepagian….

Sholat berlanjut, khusyu. Teman-teman saya tak tahu tentang ungkapan dan asumsi nenek saya tentang shalat tahajud berjamaah.

Usai shalat kami berangkat ke kaki Gunung Salak, makan sahur disana. Nikmat, karena tak biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *