“Bunda… Abi berangkat dulu ya.. semoga aja ngga dapet gelas…” kata saya kepada isteri saya yang sedang sibuk membersihkan pup Andra.

“hati-hati ya.. mudah-mudah ngga dapet gelas, tapi dapet piring…” kata isteri saya, enteng tapi bikin geli….

Ucapan itu mengiringi saya yang akan menjadi pembicara dalam sebuah acara seminar. Mengingatkan kepada peristiwa yang hampir sama, beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya diminta menjadi pembicara dalam sebuah pelatihan internal di sebuah kampus di Bogor. Waktunya malam hari, sekitar jam 20.00 sampai jam 22.00. Yang saya ingat, materinya tentang bahwa untuk sukses memang perlu pengorbanan, dan di beberapa bagian ada yang bikin sakit. Itu harga yang harus dibayar.

Setelah selesai training, panitia memberi saya kenang-kenangan; biasanya plakat. Kali ini kenang-kenangannya adalah seperangkat peralatan gelas (ada 6 kalau ngga salah, plus satu gelas besar kaya teko) yang terbuat dari kaca. Kelihatannya empatik, karena memang saat itu kebutuhan untuk melengkapi alat-alat dapur sedang lumayan. Saya diberi kenang-kenangan itu dengan plastik besar warna merah.

Saat ituย  saya mengendarai motor, dan akan melalui jalan berbatu, malam pula. Akhirnya saya minta tali rafia untuk meletakkan ‘kenang-kenangan’ di jok belakang. Saya pun pamit untuk pulang. Motor saya nyalakan, kemudian melaju diiringi bunyi gelas saling beradu…

“Tring.. tring…tring… kresk..kresk…” Gelas beradu dalam kresek yang gede.

Saya memacu motor lebih cepat dan berharap tidak terjadi apa-apa dengan motor saya… entah bas kempen.. eh ban kempes, atau mogok.

Akhirnya sampai juga di rumah. Isteri saya membuka pintu, bahkan sebelum saya mengetuk, karena bunyi beradunya gelas sudah kedengeran duluan. Begitu sampai, saya langsung membuka ‘kenang-kenangan’ dan melihat ada serpihan kaca. Ternyata 6 gelas dan 1 gelas besar tidak utuh lagi…. Ada 2 gelas yang pecah.

Isteri saya,ย  hanya senyum simpul aja. Mengambil gelas dan membereskan pecahan kacanya. I love you full deh pokoknya.

Itu beberapa tahun yang lalu. Kini, mungkin isteri saya melihat gelagat yang sama. Harapannya berubah sedikit, dulu gelas.. sekarang piring. Mungkin biar gak gampang pecah ya?

One thought on ““Semoga Dapet Piring…”

  1. kalau gelas yang udah diisi red wine lebih mengharukan lagi keknya ๐Ÿ˜†

    mungkin harus ngobrol ngalur-ngidul dulu sama penyelenggara acaranya buat nentuin nanti oleh-olehnya mau gelas, piring, teko, apa miniatur rumah :mrgreen:
    hehehehe.. ngga gitu lah.. saya sih nrimo aja.. karena bukan itu tujuan utamanya….itu hygiene factor kalau dalam teori motivasi

  2. Hmm.. kayaknya yg sekarang bukan barang pecah belah kan? bener gak? hehehe…
    itu cerita beberapa tahun yang lalu kok…. hehehehe…. kebiasaan mahasiswa….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *