Dulu, saya pernah menjadi marboth (pengurus mesjid) di Universitas Pakuan, Bogor. Tugas pengurus mesjid itu ya mengurusi segala kegiatan yang berpusat di mesjid. Saya di bagian takmir (pemakmuran mesjid), baik dari sisi kegiatan maupun keuangan.

Nah, biasanya, salah satu kegiatan kami yang sering dilakukan bersama-sama dengan pengurus mesjid yang lain adalah menghitung jumlah uang yang dimasukkan oleh para jamaah ke dalam 3 keropak yang kami edarkan. Keropak-keropak itu dibuat seperti truk, beroda, warnanya coklat.

Biasanya, isi dari keropak itu bervariasi antara Rp 1000 hingga Rp 50.000 (jarang banget); maklum mesjid kampus. Suatu hari, usai shalat Jum’at, ada yang sangat berbeda dari uang dalam keropak masjid. Saya menemukan uang Rp 100.000, satu lembar. Dengan bahagianya saya mengabarkan kepada teman-teman yang lain.

“Alhamdulillah ya, ada orang yang memberi uang sebanyak ini… semoga dibalas berlipat-lipat” kata salah seorang kawan saya.

“Iya.. tumben nih, ada uang 100 ribuan nyasar kesini..” timpal yang lain.

Akhirnya kami membereskan menghitung total 3 keropak masjid itu. Lumayan banyak. Memang, biasanya di hari Jum’at tanggal muda, isi keropak kami lumayan banyak.

Selang 10 menit kemudian, ada seorang bapak-bapak mendatangi kami yang masih ngobrol tentang kegiatan-kegiatan masjid.

“Assalamu’alaikum..” sapa Bapak tadi

“Wa’alikum salam..” jawab kami, hampir serempak.

“Mau ada perlu nih sama marboth disini..” kata Bapak, yang sepertinya bertempat tinggal di sekitar kampus.

“Iya, Pak, ada apa ya?” jawab kami.

“Tadi, di keropak masjid,  ada uang 100 ribuan nggak?” tanya Bapak tadi, hati-hati.

“Oh, ada Pak… Kenapa?” jawab saya, yang memang menemukan uang 100 ribu itu.

“Maaf, tadi saya salah masukin uang… saya minta dikembalikan uangnya…” kata Bapak tadi, kayanya sih malu mengungkapkan permintaannya.

Masya Allah… ternyata uang 100 ribu itu salah masuk.

“Ngga apa-apa Pak…. ini saya kembalikan…” saya memberikan uang 100 ribu tadi.

“Makasih ya De… ini saya ganti sedekah saya…” Bapak tadi memberikan uang 10 ribu. Warnanya memang agak mirip dengan 100 ribu.

Bapak tadi kemudian pergi. Kami saling pandang, terus ketawa. Ada-ada aja. Udah bahagia dapet sedekah 100 ribu, eh salah masukin, dituker sama 10 ribu.

Tapi, kami tetap mendoakan bapak tadi agar mendapat balasan yang berlipat, tentu saja, sekarang kelipatannya bukan dari 100 ribu, tapi dari 10 ribu.

One thought on “Sedekah yang Dikembalikan

  1. Assalamu’alaikum Wr.Wb. Salam kenal, Kalau semua mau atau bisa ikhlas dan jujur seperti ini. Alangkah nikmatnya hidup. Hidup memang penuh warna. Mari kita warnai dengan kebaikan. Selamat bung. Wasalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *