Pagi sekali, jam 05.30, anak-anak Pondok Yatim Menulis, Tamansari sudah berkumpul di rumah saya. Dengan bersemangat, mereka akan memetik buah latihan seminggu ini untuk tampil di acara EcoFest di Sentul City…

Berangkatlah kami dengan menyewa sebuah angkot. Berpadat-pada di dalam angkot, tapi para personel d’Situ Band… nama Band perkusi barang bekas Pondok Yatim ini, tetap ceria; bernyanyi sepanjang perjalanan.

Hampri 1 jam, sampailah kami di lokasi acara. Rencana hari ini d’Situ Band akan tampil membuka acara dengan membawakan 2 lagu: Indonesia Raya dan Mau Dibawa Kemana-nya Armada (teksnya diubah sedikit)..

Angkot sewaan parkir di dekat panggung; karena di lokasi tersebut sudah banyak mobil-mobil lain–mobil pribadi tentunya– dan tak masalah untuk parkir disitu. Setelah menurunkan anak-anak; angkot saya minta parkir deket-deket sini saja. Toh, kita tampil hanya sebentar (15 menit)..

Anak-anak d’Situ Band tampil lumayan semangat…

Usai acara, kami pun bermaksud membawa peralatan musik barang bekas ke angkot sewaan…perlatan lumayan banyak, tapi memang cukup diangkut di angkot.

Ketika menuju tempat angkot diparkir, ternyata tidak ada… saya bertanya kepada anak-anak..

“Angkotnya kemana nih..?”

“Tadi disuruh Pak Satpam pergi.. jangan parkir disitu.. banyak tamu katanya…parkir deket mesjid aja.. dipojok..” jawab salah seorang anak yatim.

Hah…Banyak tamu? emang kita bukan tamu? kita khan pengisi acara? Apa ngga boleh mobil angkot parkir disitu? mengganggu pemandangan kah? atau karena ada tamu Bapak Staf Ahli salah satu menteri….

Berkecamuk pertanyaan di kepala saya.

Teringat kejadian beberapa bulan lalu, ketika teman saya mendapat perlakukan tak nyaman, hanya karena membawa kamera tele nya ketika menonton di bioskop dekat situ. Padahal, dia membawa kamera itu, karena khawatir ada apa-apa kalau dititipkan ke security yang kasar itu…Hanya cara menegur dan menggiring teman saya itulah yang membuat teman saya tak terima diperlakukan tak nyaman.

Saya kelimpungan.. akhirnya, bbrp anak yatim menawarkan diri untuk mencari mobil tersebut…

Mereka berkeliling hingga dua kali, mencari angkot sewaan tsb. Nihil. Entah dimana angkot itu.

Saya memutar lagi, bertanya ke security di berbagai posisi parkir. Nihil juga.

Akhirnya saya ambil inisiatif solusi. Karena hari makin siang, dan ada beberapa anak yatim yang harus sekolah siang. Mencari angkot agak susah, jadinya kita menaikin bus Trans Pakuan (Busway versi Bogor). Biaya-nya hampir sama dengan biaya sewa angkot tadi. Jadilah harus keluar budget double.

Anak-anak yang kelelahan (saat itu jam 11.30); naik bus Trans Pakuan dengan membawa peralatan yang cukup bikin ribet. Busnya kosong, jadi mrk bisa masuk kendaraan tidak susah.

Bus Trans Pakuan membawa kami ke Tugu Kujang, dan dari situ kami menyewa lagi angkot hingga ke Tamansari.

Pfyuuuuuuh…

Lelah badan, lelah hati. Tak habis pikir, angkot sewaan itu tak boleh parkir, di tempat yang diperbolehkan untuk parkir.

Semoga Allah mengampuni.

Hari ini, kami datang lagi untuk mengisi acara penutupan. Sewa angkot lagi; dan kemungkinan ketemu dengan security itu lagi. Kali ini mungkin kami yang tahu diri. Memang ada beberapa lokasi yang tidak boleh kelihatan ada ‘kendaraan orang biasa’ disitu…

One thought on “Security Sentul City dan Angkot Anak Yatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *