“Tahu… tahu.. tahu…”

Itu suara salah satu pedagang kereta ekonomi Bogor Jakarta. Seperti biasa, gerbong kereta pun bak pasar kaget.

“Tahu.. tahu.. berhadiah cabe. Tahu berhadiah cabe.”

Hmmmm. Hehehehehe.

Saya mikir trus ketawa. Kreatif juga nih si Abang Tukang Tahu, ngejualnya. Kalau ngga beli, ya paling nggak nengok lah orang yang denger. Dia menjadikan sesuatu yang emang gratis, tapi seolah-olah hadiah. Bagaimana rasanya makan tahu tanpa cabe. Jadi, cabe itu ya wajib jadi bagian dari paket jualan tahu.

Saya buka koran dan melihat iklan partai politik. Tepatnya partai politik yang tokoh utamanya sedang jadi petinggi di negeri ini. Saya jadi ingat juga dengan iklan keduanya di televisi.

“Pertama dalam sejarah, harga BBM turun 3 kali.. bla bla….”

Diakhiri dengan “Lanjutkan!”

Lho.. bukannya BBM ngga turun.. tapi naik turun? Bukannya itu memang kewajiban seorang pejabat tinggi dengan posisi tertentu? Memang harusnya begitu? Bukannya menurunkan BBM itu seperti cabe buat tahu? Bukan hadiah tapi bagian? bukan prestasi, tapi memang kewajiban?

Banyak pejabat di negeri ini sudah salah kaprah antara kewajiban dengan prestasi. Yang namanya kewajiban, memang melekat dengan jabatan yang diemban. Ketika terlaksana, ya gugur kewajibannya. Ibarat terkait agama, maka gugur kewajiban itu sekedar tidak berdosa.

Beda dengan prestasi. Prestasi itu ketika melampaui tujuan. Kadang terlepas dari kewajiban.

Bagaimana mungkin membanggakan gugurnya kewajiban sebagai prestasi? Apakah ini menandai terjangkitnya penyakit baru yang bernama Tahu Berhadiah Cabe?

Pyuuuuh….! Cabe deh….!

One thought on “SBY dan Tahu Berhadiah Cabe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *