Marak pemberitaan di media. Koran memasang headline demi headline yang menyedot perhatian. Televisi menayangkan informasi bertubi-tubi.
Para ‘pakar’ yang katanya pakar atau yang sekedar pakar, ramai bicara.
Anggota Pansus Century ada yang digiring masuk bui. Sangat cepat ditindaklanjuti dari staf khusus bidang bencana yang memberi rekomendasi. Lebih cepat diproses daripada lembaga tinggi negara yang memberikan rekomendasi dari rapat paripurna yang sudah bulat mengambil keputusan.

SBY yang ambigu, memerintahkan penghentian proses terhadap Bibit Chandra, supaya menyelesaikan masalahnya di luar peradilan dan dalam waktu yang sama, proses hukum harus berjalan.
Anggodo melenggang, walaupun dirinya sudah jadi tersangka.
Semua kartu berita ada di Satgas Pengalihan Isu. Menyiapkan berita satu untuk mengalihkan dari berita lainnya. Begitu seterusnya. Para politisi berdalih, apa yang mereka lakukan adalah bentuk pembelajaran politik. Para politisi itu seperti mendapatkan beasiswa tanpa ikatan dinas dari rakyat. Mereka (sebagian) sebenarnya memiliki ikatan dinas dengan partainya, dengan kepentingan golongannya, ketimbang dengan rakyat.
Media kini dipenuhi oleh pengamat dan pengawas. Semuanya membutuhkan biaya; utamanya untuk membayar langkanya kejujuran.
Satgas Pengalihan Isu sibuk bekerja, mengeluarkan kartu demi kartu untuk dikonsumsi oleh rakyat. Entah pembelajaran politik apa yang mereka berikan. Entah demokerasi apa yang hendak mereka bangun.
Juru bicara kini berubah menjadi juru bantah; karena kepandaian silat lidahnya digunakan untuk menjadi perisai bagi bosnya.
Inilah demokrasi di negeri yang katanya demokratis.
Entah isu apalagi yang akan digulirkan. Entah apalagi yang akan menjadi headline berita esok.
Tunggu saja; sambil nikmati, tak jauh beda dengan reality show yang sebenarnya sudah ada skenarionya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *