Ini cerita tentang ‘guru’ saya. Seorang sederhana, dari dulu dan kini, yang ilmunya sudah sangat banyak, seimbang kehidupannya.

Lulus dari magister manajemen dengan IPK 4.00. Lepas menjadi master, malah bisnis kambing kurban. Memangku kambing kesana kemari untuk memenuhi pesanan, utamanya menjelang idul adha.
 “Waktu kuliah S2, saya pake dasi, setelah kuliah malah bawa kambing…. This is life. Kehidupan sesungguhnya bukan di ruang kelas, tapi di alam nyata” Katanya berfilosofi.

Sebelas tahun berlalu, bisnisnya berkembang terus. Dulu menjual minyak goring 10 kiloan ke warung-warung, kini, dengan armada transportasinya, hampir menjelajah 2/3 dunia.

Kini, bisnisnya semakin berkembang. Bersama beberapa orang temannya, mendirikan perusahaan yang bergerak di perkebunan, transportasi, konsultan manajemen, hingga perdagangan.

Suatu kali, dia bercerita, mendatangi sebuah bank nasional. Dulu, ketika masih tak banyak uangnya, dia langsung ke customer service. Kini, setelah menjadi pebisnis sukses, kedatangannya disambut oleh jajaran direktur, dipersilahkan masuk.

Guru saya ini bercerita, bingung dia kenapa ketika dia datang, yang menyambut bukanlah customer service atau karyawan level staf, tapi direktur langsung. Rupanya, karena di tabungannya ada saldo sebesar lebih dari 2 milyar. Dan, untuk nasabah yang saldo tabungannya sejumlah seperti yang dimilikinya, maka yang menyambut adalah jajaran direktur.

Guru saya ini mengibaratkan, sambil merinding. Saldo di dunia bisa dia dapatkan, hingga milyaran rupiah; dan tentu saja sambutan yang diterimanya berkelas VIP. Membayangkan, ketika suatu saat dipanggil Allah, tak tahu berapa saldo yang dihasilkannya sebagai rekening pahala? Siapa pula yang menyambutnya? Apakah malaikat? Bidadari? Atau..siapa?

Jika saldo di dunia sampai milyaran, yang menyambut adalah pimpinan, karena kita istimewa. Kalau sedikit yang menyambut di level bawah, jika tak meyakinkan, malah bisa diusir security…
Jika saldo amal kita kelak sedikit saja atau malah minus, yang menyambut pun tak lain sesuai dengan jumlah saldo amal kita.

Merinding juga mendengarnya. Ingin rasanya disambut bidadari, kelak ketika usai dengan kehidupan fana. Tapi, apakah saldo amal sudah cukup untuk layak disambut bidadari untuk bertemu Sang Maha Pencipta yang juga Komisaris Tunggal dan Utama kehidupan di seluruh alam?

Guru saya masih berbisnis, makin sukses dia. Suatu saat, insyaallah Allah memberikan kesempatan, ingin sekali menuliskan ilmu yang dimilikinya untuk menjalani kehidupan, sehingga saldo dunia akhiratnya sama-sama punya nilai untuk disambut bidadari di surga sana.

One thought on “Saldo dan Bidadari

  1. Menyentuh sekali ceritanya, nyambung antara dunia & akhirat. Siapakah sosok guru anda itu? kita semua harus belajar darinya..
    Thanks
    *Hermawan Eriadi

  2. Mudah2an kita slh satu hamba yg akn dsambut o/ bidadari (saya bidadara tepatnya) ktika dipanggil o/ Allah kelak. kena’ bgt nih bang ceritanya

    amin….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *