Hari Minggu kemarin, saya berada di rumah mertua. Siang hari pulang sendirian ke Ciapus, karena Naya, puteri saya akan mengikuti karnaval Kartini-an di Tanjung Priok. Saya memilih pulang menggunakan kereta api, karena biasanya tak sesak kalau hari Minggu.

Dari Terminal Tanjung Priok, saya menggunakan angkutan umum no.15. Saya duduk di depan. Supirnya bertato. Logatnya menunjukkan kalau dia berasal dari salah satu suku di Sumatera. Lumayan lama  menunggu sebelum akhirnya penumpang penuh. Maka, berangkatlah mobil menuju stasiun Kota.

Beberapa saat kemudian,

“Kiri Bang…” salah seorang penumpang berteriak, karena akan turun.

“Iya De, bentar..” Bang Supir meminggirkan mobilnya.

Seorang penumpang turun. Sudah lumayan berumur.

“Nih Bang” dia menyodorkan uang Rp 1.000.

“Kurang Bu…” kata Bang Supir

“Deket Bang…” kata Ibu tadi, tak menggubris komplain dari Bang Supir. Ibu itu langsung berbalik dan pergi menjauh dari mobil.

“Kalau ngga punya duit, ngga usah naik mobil, jalan kaki aja…” kata Bang Supir, melihat Ibu tadi sambil memutar mobilnya bergerak kembali. Mobil melaju.

Beberapa saat kemudian, ada lagi penumpang yang mau turun. Kali ini 2 orang ABG.

“Ini ongkosnya Bang..” salah seorang menyorkan uang Rp 2.000 untuk ongkos berdua.

Belum sempat Bang Supir protes, ABG itu sudah ngacir duluan.

Kali ini, keluarlah kosa kata kebun binatang dan alam ghaib dari mulut Bang Supir. Heran dia melihat penumpangnya berperilaku seperti itu. Tengah hari yang terik dengan tindakan yang mengesalkan seperti itu dari penumpang, tentu stimulus yang sempurna untuk memicu kemarahan. Apalagi Bang Supir ini sepertinya sumbu pendek.

Setelah menyumpah serapah dengan kosa kata kebun binatang dan alam ghaibnya, Bang Supir membawa mobilnya melaju kembali. Saya hanya melirik saja. Tak bisa berbuat apa-apa. Dalam hati, saya niat aja, ngasih ongkos uang 10.000-an dan pasrah berapa pun kembaliannya. Daripada bikin dia marah lagi, dan yang doa khan ngga cuma dia yang marah, tapi bisa jadi kita juga yang bikin dia emosi?

Setelah mobil melaju, ada lagi penumpang yang turun. Kali ini seorang Ibu yang menggendong anaknya yang masih kecil.

Begitu ada di samping saya, dekat jendela mobil, dia memberikan uang ke Bang Supir.

“Bang.. ngga ada uang lagi, maaf ya…” kata ibu itu. Mungkin ibu tadi sudah mendengar kalau Bang Supir marah-marah, makanya mending dia minta maaf duluan.

Bang Supir ngga menjawab. Tapi mukanya ditekuk, alias sebenarnya dia kesel juga.

Mobil kembali melaju. Dan semakin dekat dengan stasiun kota. Ketika sampai, seperti janji di hati saya, maka saya berikan uang 10.000 dan kembaliannya Rp. 6.500. Pas. Memang uang saya lagi tiris juga soalnya.

Tapi, saya tak lantas melanjutkan perjalanan, malah diam memperhatikan seorang Bapak yang juga memberikan ongkos ke Bang Supir.

“Bang.. ini ongkosnya. Kembaliannya ambil buat Abang.. jangan marah-marah melulu ya… sabar… rezeki ngga kemana…”

Bapak tadi menyerahkan uang Rp 10.000 tanpa meminta kembalian. Kalau dihitung-hitung, kekurangan ongkos dari para penumpang tadi, tertutup jumlahnya oleh kebaikan si Bapak.

Saya tertegun sejenak. Hebat juga Bapak tadi, bisa mengambil peluang sekaligus, berbuat baik dengan memberikan uang sekaligus meredakan amarah Bang Supir. Sayangnya, saya tak menangkap peluang itu, hanya jadi penonton saja. Semoga lain waktu ada kesempatan.

One thought on “Rezeki Untuk Pemarah

  1. Abis nerima duit si bapak si Sopir bilang gini…
    “Apa apaan ini pak? Ini kembaliannya!! Emang saya gak mampu nyari duit apa?” , Teriak si sopir sambil ngelempar kembalian uang si bapak.

    hehehe…
    untung si sopir ga protes gitu ya gara gara dikasih duit lebih.. :p

    huahahahahaha.bisa aja. Ini Bang Supir miskin tapi sombong…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *