Makin parah saja kondisi hasil pemilu kali ini. Disebut sebagai pemilu terburuk pasca reformasi oleh tokoh-tokoh lama dengan baju lama dan baju baru, yang bertemu untuk membahas tentang ‘kecurangan’ yang dilakukan, sistematis katanya. Bahkan, ketika peta BLT ditaruh ke peta DPT, hasilnya signifikan. Hmmm…. memang kita disodori politik dari sisi yang muram. padahal, sesungguhnya politik punya sisi yang cerah juga, jika pelakuknya memang memiliki hati yang cerah.

Di beberapa daerah, malah banyak caleg yang almarhum, pasca pencontrengan, kebanyakan kena serangan jantung, depresi, atau stroke. Malaikat maut tak pernah bertanya asal partainya, makanya, almarhum itu pun bervariasi, tak berasal dari satu partai atau partai yang kalah saja, ada juga yang asalnya dari partai yang menjadi pemenang versi Quick Count; parahnya, ada juga yang mengambil jalan pintas, masih dalam kondisi hamil, bunuh diri.

Jadi, pemilu kali ini bukan hanya menghasilkan bertambahnya penghuni rumah sakit jiwa, akan tetapi kuburan pun bertambah penghuninya.

Jangan kaget, kalau pemilu ini indikasi dari Republik almarhum, karena sejak awal, ada caleg yang sudah almarhum saja, inisialnya SG, mendapat suara cukup banyak di daerah pemilihannya. Dan jangan kaget juga, banyak yang sudah almarhum masih punya hak pilih.

Memang, KPU kini mengiming-imingi dengan mengatakan ‘biarlah ini menjadi pelajaran untuk Pilpres’; seolah hak warga negara tak ada harganya. Kalau republik ini menjadi Republik Almarhum, ya sudah; akan lebih mengerikan lagi kalau jadi Republik Zombie, karena dalam mengelolanya tak menyertakan hati untuk menngedepankan rakyat;

Bukankah hati adalah indikasi seseorang itu hidup dalam pengertian yang sebenarnya?

One thought on “Republik Almarhum jadi Republik Zombie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *