Ini cerita dari teman saya, marboth sebuah mesjid kampus. Penampilannya sederhana, berjanggut lumayan banyak, berkaca mata, dan bermata sejuk.

Suatu hari, dia naik kereta api, rute Jakarta – Bogor. Dia duduk, dan tak jauh darinya duduk juga seorang pemuda, sepertinya preman, dari komunikasinya dengan orang-orang di sekitar dan juga, bagaimana respon orang di sekitarnya.

Teman saya ini, yang memang baik.. sekedar basa-basi, menanyakan tentang preman itu, ke orang yang duduk tak jauh darinya.. dari Bojong Jengkol katanya… sebut saja dia Kang BoJe.

Biasanya, setiap ada yang melihat si preman alia Kang Boje ini, segera Kang Boje balas menatap, dan menghardik:

“He.. apa lu liat-liat.. gua clurit lu….”

Pokoknya, segala macam jenis senjata dan kebun binatang, keluar dari mulutnya, ketika ada orang yang bikin tak enak hati.

Teman saya, sudah melihat beberapa orang yang dihardik oleh Kang Boje.

Suatu kali, ada seorang penjual minuman ringan yang biasa lewat di di tengah lorong gerbong kereta, berhenti tepat di depan teman saya. Kang Boje rupanya haus, dan berjalan menuju tukang minuman itu, tak menghardik, tak memanggil. Di mengeluarkan uang 2.000-an, mau membayar; sementara di kantong bajunya, terlihat berjejal uang puluhan ribu dan receh; entah darimana.

Ketika berjalan menuju tukang minuman itulah, Kang Boje melihat ke arah teman saya. Saling pandang terjadi, dan tentu saja teman saya rada kaget juga dilihat oleh Kang Boje; karena matanya memang agak merah, takutnya mabuk atau apa.

Setelah kedua mata saling pandang itu, tiba-tiba Kang Boje mengambil uang yang ada di kantong bajunya, lumayan banyak dan bermaksud menyerahkan ke teman saya…

“Akang.. siga ajengan…” (Anda seperti kyai).. kata Kang Boje
Mungkin Kang Boje melihat ‘tampang baik’ plus janggut dari teman saya; atau memang matanya lagi remang-remang..
“Iyeu.. kanggo sodaqoh…” Kang Boje menyerahkan uang di tangannya ke teman saya
Teman saya terang saja kaget dan refleks menolak, tangannya menunjukkan penolakan itu…
“Ngga.. saya bukan ajengan, makasih banyak… buat Akang saja…” kata teman saya…
“Henteu.. iyeu kanggo ajengan…” (nggak.. ini buat ajengan…). Kang Boje tetep maksa memberikan uang di tangannya.

Kebetulan sekali, kereta itu sudah sampai di stasiun Bogor. Teman saya bergegas turun, berlari. Sementara Kang Boje memanggil-manggil dari belakang.
“Ajengan.. ajengan.. iyeu sodaqoh…”

Teman saya yang ketakutan, malah tambah kenceng larinya. Lari karena kaget dan bingung.

Mungkin saja, di bawah sadar Kang Boje, ada respek terhadap seseorang, sehingga penampilan luarnya luruh ketika bersentuhan dengan apa yang ada di pikiran bawah sadarnya itu.

Mendengar cerita ini, saya jadi yakin, bahwa sesungguhnya setiap orang pasti punya sisi baik; masalahnya adalah apakah kita menjadi orang yang bisa memunculkan sisi baik dari orang yang kita hadapi, atau malah memunculkan sisi buruk dari orang yang kita hadapi. Tak jarang, ada orang yang seringkali membuat sisi buruknya terpancing keluar, tapi ada juga yang sebaliknya.

Berbahagialah orang yang dirinya membuat sisi baik orang lain muncul. Introspeksilah bagi seseorang yang membuat sisi buruk orang lain muncul.

Teman saya, yang marboth itu memang ‘sejuk’ perilakunya, dan sepertinya punya magnet untuk memunculkan sisi baik dari siapa pun orang yang ada di hadapannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *