Ini kejadian waktu masih kecil, kelas 5 SD.

Menjelang Agustus, biasanya di kampung kami diadakan kompetisi sepakbola antar anak-anak maupun dewasa. Saya, yang memang hobi main sepakbola, bergabung dalam tim sepakbola, namanya CIPAR, singkatan Ciapus Parapatan. Menggunakan nomor punggung 14, karena favorit saya adalah Johann Cruyff, pemain Belanda yang hebat di Ajax dan kemudian menjadi pelatih Barcelona. Posisi saya adalah striker.

Kompetisi diadakan di sebuah kebun yang rencananya akan dibangun rumah. Jadi, pemilik kebun merelakan tanahnya dijadikan sebagai lapangan sepakbola mini, sekalian membuat tanahnya jadi padat, dan lebih mudah ketika dibangun rumah di atasnya. Ukuran lapangannya kecil, 10% dari lapangan bola normal. Gawangnya terbuat dari bambu, tanpa jaring. Karena kebun jadi, seperti undakan, maka bagian out-nya (bola keluarnya) adalah apabila bola ‘gelundung’ ke gundukan di bawah; kadang ngga cuma bola yang ‘gelundung’; tapi pemainnya juga ikutan ‘gelundung’.

Peserta kompetisi adalah 8 tim ke-tujuh-an; karena setiap tim terdiri dari 7 orang, berasal dari kampung atau RT yang berbeda. Ada CIPAR (tim saya), GORITA, TAMAN, CIPADUNG, GARDU (Gang Duren),  GAMES (Gang Mesjid), BANGLADESH (Belakang Desa) dan WARLO (Warung Loa).

Saya sebenarnya berada di perbatasan wilayah RT, antara CIPAR dan GORITA; makanya kalau latihan, sebenarnya ikutan GORITA. Tapi, ketika bertanding, menggunakan kostum CIPAR. Itu, tentu saja membuat suporter GORITA rada-rada marah. Oh ya, masing-masing ke-tujuh-an itu punya suporter yang ‘gila’ banget. Biasanya sih orang-orang dewasa yang mendukung tim. Dan, setiap nonton, namanya juga di kampung, segala aksesoris pekerjaan harian mereka pun turut dibawa. Kalau tukang mancing bawa pancing, tukang cari kayu bakar, ya bawa golok, dan lain-lain.

Sistem kompetisi dibagi 2 pool dan juara serta runner up akan masuk ke semifinal. Perjalanan tim CIPAR lumayan mulus. Menjadi juara grup dan bertemu dengan runner up pool lain. Jadilah CIPAR bertemu dengan GORITA. Wah.. saya mulai deg-degan, karena pasti akan banyak emosi disitu.

Pertandingan CIPAR vs GORITA dilakukan. Penonton lumayan banyak, utamanya dari GORITA, karena memang lapangan berada di wilayah GORITA, bisa dikatakan mereka adalah tuan rumah.

Pertandingan dimulai dan saya kena terus dengan kecurangan pemain-pemain belakang GORITA. Apalagi main sepakbolanya tanpa sepatu. Wah.. kena terus deh kaki saya. Akan tetapi, memang skill tim CIPAR sedikit lebih baik, makanya, kengototan tim GORITA bisa diredam. Gol pun datang. Setengah main, tim CIPAR sudah unggul 6-4. Saya mencetak 6 gol. Lumayan.

Ketika istirahat; suporter GORITA mulai memprovokasi tim CIPAR; beberapa diantaranya mengacungkan golok yang dibawa. PErtandingan dilanjutkan. Kali ini, tim GORITA bisa mengimbangi permainan, tentu saja bukan hanya dengan teknik, tapi juga dengan fisik. Saya, yang memang berbadan kecil, beberapa kali jadi korban benturan fisik itu. Lumayan sakit; tapi jalan terus. Gol demi gol lahir dan kedudukan menjadi 11-9.

Ketika pertandingan di lapangan tengah seru; tiba-tiba terdengar bunyi ‘BRAAAAK!” “BRAAAK!”. Dan wasit menghentikan permainan. Rupanya, gawang tim GORITA di tebas, dan tinggal sepotong. Bentuknya jadi aneh. Tadinya berbentuk kotak, akan tetapi, kini, karena salah satu tiang gawangnya sudah ‘putus’ dan tinggal setengah. maka jadi miring. Tiang atasnya jadi ‘mencong’. Wasit kemudian mendatangi suporter, dan meminta mereka tenang.

Wasit kemudian meminta panitia mengganti gawang. Pertandingan dilanjutkan. Pertandingan makin keras. Wasit makin hati-hati. Saya kemudian mencetak satu gol lagi; total jadi 9 gol. Kedudukan menjadi 12-9. Waktu tinggal sedikit lagi.

Bola dikembalikan ke tengah, dan pertandingan akan dilanjutkan. Tiba-tiba di gawang tim GORITA, terdengar bunyi “BRAAK!” “BRAAK!” diiringi sumpah serapah. Semua orang melihat ke arah gawang tim GORITA, dan menyaksikan, beberapa orang yang membawa golok, menebas gawang sekaligus mencabut gawang sekalin. Hingga, gawang tim GORITA tandas, tidak ada, karena dicabut oleh suporter yang kecewa. Suporter yang pekerjaannya mencari kayu bakar, membawa golok, dan mungkin menganggap gawang sebagai kayu bakar juga.

Wasit akhirnya menghentikan pertandingan. Kami, para anak kecil yang bermain di lapangan, jadi ngeri juga. Bisa bahaya kalau begini kejadiannya. Wasit kemudian memanggil kedua pelatih dari tim GORITA dan CIPAR. Setelah mereka berunding, akhirnya wasit memutuskan untuk menghentikan pertandingan dan memberikan kemenangan 12-9 untuk tim CIPAR.

Kami, para pemain, akhirnya bersalaman. Tak bertukar kostum, karena memang itulah kostum satu-satunya, setelah bermain biasanya dicuci, dijemur dan dipakai kembali untuk pertandingan berikutnya. Tak ada masalah dengan para pemain yang masih anak-anak ini. Mungkin masalahnya malah ada di para suporter.

Saya mencetak 9 gol dan mulai menghitung uang yang bisa saya dapatkan. Pelatih menjanjikan ‘harga’ setiap gol adalah 50 rupiah, jadi saya akan mendapat upah Rp 50 x 9= Rp 450; lumayan untuk membeli sesuatu.

Tim CIPAR bersiap menuju pertandingan final, menghadapi tim unggulan; pemenang antara tim CIPADUNG vs TAMAN. Mudah-mudahan suporter yang ber-golok itu tak ikut serta, karena bisa merepotkan panitia, kalau harus mengganti gawang lagi.

 

One thought on “Pertandingan Sepakbola Tanpa Gawang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *