“Pak… kok pindah jualannya?”

Senin pagi, jam 07.15, 4 hari yang lalu, saya bertanya kepada penjual gorengan di depan kantor. Bapak penjual kantor berkeringat, sambil melayani beberapa pembeli.

“Iya.. tadi pagi ada trantib yang nendangin dagangan saya… makanya pindah. Sempet kabur dulu ke dalam..” kata Bapak penjual gorengan. Wajahnya masih kelihatan kesal, jengkel dan tak berdaya.

“Oh gitu…” saya sedih mendengarnya. Tadinya cuma mau lewat, akhirnya berniat beli..

“Iya.. tuh.. termosnya pecah, ditendang… udah kaya hewan aja….” kata Bapak penjual gorengan..

Saya berkata dalam hati..”yang hewan itu yang ditendang apa yang nendang ya…?”

Rupanya, Bapak penjual gorengan itu berlari ke dalam, meninggalkan beberapa peralatan jualannya; setelah dianggap aman, kemudian kembali ke luar dan berjualan.

Saya membeli beberapa gorengan dan masuk ke kantor. Sambil membayangkan bagaimana bapak penjual gorengan itu mencari nafkah dengan perasaan was-was…

Kamis, 08.45, empat hari kemudian alias hari ini; saya menuju kantor lagi dan mampir di tempat berjualan gorengan.

Saya kaget.

Rupanya penjual gorengan itu kini menjual gorengan dengan beberapa wadah seperti baskom, dll. Digelar di bawah, seperti penjual emperan. Kali ini yang jualan 2 orang, bapak penjual gorengan dan seorang ibu; mungkin ibunya; karena bapaknya masih muda.

“Bu.. gerobaknya mana?” tanya saya kaget. Saya berhenti dan mengeluarkan uang untuk membeli gorengan.

“Kemarin diangkut ke Cakung sama trantib. Jam 10.00” Ibu penjual gorengan menjawab. Raut mukanya kesal.

“Lho.. bukannya Senin kemarin, termos untuk jualan Ibu ditendang? kok sekarang gerobaknya yang diangkut…” tanya saya.

“Iya.. gerobaknya langsung diangkut gitu aja.. saya bingung juga ini. Pokoknya harus jualan, biarin gelar baskom begini juga. Biasanya sih boleh jualan disini, aman-aman aja; orang saya kasih uang juga kok ke orang-orang yang katanya bisa ngamanin…”

“Terus.. itu gerobaknya bagaimana?” tanya saya penasaran. Membayangkan Ibu itu berjualan tanpa gerobak. Pasti repot.

“Gerobak diangkut ke Cakung, nanti kalau kita ‘urusin’ sih bisa ditebus lagi…” kata Ibu itu.

“Urusin..? Maksudnya?”

“Ya.. ditebus, dibayarin…” kata Ibu itu lagi..

Oh gitu…

Saya menyodorkan uang dan mengambil beberapa gorengan. Di sebelah saya, ada juga ibu-ibu yang baru datang, langsung membeli gorengan sambil mengajukan pertanyaan yang sama, tentang hilangnya gerobak Ibu Penjual Gorengan…

Saya berlalu dan bergegas menuju kantor.

Hmm.. hebatnya Indonesia. Di satu dimensi kehidupan, koruptor berlenggang kangkung tak tersentuh hukum. Nun jauh di Tegal, seorang kakek usia 77 tahun, gara-gara dituduh mencuri sabun dan kacang hijau, harus menempuh perjalanan Tegal – Cirebon dan dihukum 14 hari kurungan; sementara 10 anggota DPRD Cirebon aman-aman saja, ketika memberikan argumen bahwa DPRD akan limbung kinerjanya ketika mereka ditahan. Padahal, justru karena ada 10 orang ‘kotor mental’ itulah, DPRD-nya limbung.

Ibu penjual gorengan, mencari nafkah dengan cara yang halal; tapi berhadapan dengan para petugas yang dengan modal seragam, kemudian mengintimidasi dengan kasar, sehingga mereka bisa kehilangan nafkah. Menendang termos dan mengambil paksa gerobak, dengan syarat untuk kemudian diberikan setelah ada tebusan….

Perih rasanya mendengar cerita, menyaksikan langsung, membaca berita tentang betapa serba relatifnya keadilan di bumi Indonesia ini..

Semoga saja masih ada secercah harapan yang bisa membuat negeri ini tersenyum kembali…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *