Pagi ini, usai mengantar Naya belajar di PAUD, saya langsung menuju RCTI untuk shooting Kuis Siapa Lebih Berani. Memang, bela-belain telat shooting, demi mengantar anak belajar. Akhirnya, yang mengantar memang tak cuma saya, tapi isteri, eyangnya plus Andra, si bungsu yang ikutan melihat, sambil disuapi makanan barunya, jagung manis yang diblender.

Karena berangkat dari Semper Barat, Tanjung Priok, maka saya pun menunggu bis jurusan Merak di Mambo. Sambil menunggu, saya membeli koran, seharga Rp 3.000, dan akan saya buat jadi 1 soal kuis, supaya balik modal (hehehehe… ini namanya, beli koran tapi dibayar).

Setelah beli koran, menunggu bis, tiba-tiba ada seorang nenek, sudah tua pastinya, kelihatan masih sehat, anggota tubuhnya masih normal, menghampiri saya:

“Bang.. minta uang dong Rp 1.300.. pengen naik bis ke UKI nih…”
Saya memperhatikan sejenak. Di tangannya ada uang Rp 1000, lecek. Rada bingung juga dengan jumlah yang dimintanya.. Tanggung banget dan ngerepotin… Rp 1.300… atau saya kasih Rp 1.000 plus permen aja? seperti yang sering diberikan oleh kasir di supermarket kalau kembaliannya tanggung….

Sekali lagi, nenek itu memelas…
“Bang.. minta uang dong Rp 1.300.. pengen naik bis ke UKI nih…”

Saya merogoh kantong dan memberikan uang, yang tentu saja tidak pas segitu.
Dalam hati, saya agak ragu juga, apakah dia betul-betul butuh uang Rp 1.300?

Ah, biar saja. Kadang kita berbuat sesuatu, tak usah dikendalikan oleh orang yang meminta kita berbuat sesuatu. Lebih baik diniatkan saja perbuatan itu, bagian dari ketulusan bersedekah. Pemikiran apakah dia jujur atau tidak, saya usahakan buang jauh-jauh.

Nenek 1.300 itu berlalu dari hadapan saya. Uang yang saya berikan, lebih dari cukup untuk ongkos menuju UKI.

Bis yang saya tunggu datang. Saya segera naik. Duduk di dekat jendela. Sesaat bis menunggu penumpang, kemudian berjalan perlahan.

Karena duduk di dekat jendela, saya pun leluasa melihat ke jalanan. Dan.. ternyata, Nenek Rp 1.300 itu sedang mendekati seorang pemuda berpakaian rapi, persis seperti dia mendekati saya. Walaupun saya tak tahu apa yang dibicarakannya, saya menduga, Nenek Rp 1.300 itu melakukan hal yang sama, dengan obyek yang berbeda.

Rupanya, dugaan saya benar. Nenek Rp 1.300 itu melakukan trik yang sama untuk mendapatkan uang. Cocok sepertinya dia jadi politisi, karena bisa memperoleh keinginannya dengan berbagai cara.

Saya membuka koran yang saya baca. Di halaman muka, ada sub judul “Lebih Elegan daridapa Mengemis Kekuasaan”.. Berita itu tentang bagaimana sebuah partai politil besar, yang diduga oleh beberapa pihak, sedang dalam posisi limbung antara sebagai oposisi atau ‘mengemis’ kekuasaan.

Saya berpikir, berbahasa sekali, jika negara ini dihuni oleh para politisi bermental pengemis seperti yang disebutkan oleh koran itu. Karena, mental pengemis adalah mengajukan argumen apa pun untuk memperoleh keinginannya. Bahkan, dengan cara merendahkan diri serendah-rendahnya. Bukankah, pengemis banyak yang mencoreng wajahnya supaya kelihatan menderita, atau berpura-pura cacat, demi mencari belas kasihan.

Pffuih… Nenek Rp 1.300 itu bisa jadi, hanya menimbulkan kerugian dalam jumlah rupiah yang sedikit. Akan tetapi mental nenek itu, jika menjadi bagian dari mental para politisi negara kita, tentu kerugian besar yang akan dialami dalam proses berdemokrasi. Hitungannya sudah tak mungkin lagi ditukar dengan permen. Entah ditukar dengan apa.. mungkin pulau, manusia, atau bahkan harga diri….?

One thought on “Pengemis Politis dan Nenek Rp 1.300

  1. Wah seandainya negeri ini bisa belajar dari pengemis tersebut. Mungkin akan maju negeri ini. Artikel yang membangun !

  2. pengemis model gini ni yg sering bikin berat ngasi sedekahnya. bukan berburuk sangka, tapi hati2. takutnya kita malah salah sudah bersedekah….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *