15

Jan 2009

Pencuri Mimpi

“Naya kalau udah besar mau jadi apa?” tanya saya ke Naya, anak saya.

“Artis..!” jawabnya polos

“Artis apa?” tanya saya lagi

“Artis penyanyi…” jawabnya lagi sambil mengunyah biskuit cokelatnya

“Penyanyi apa?”

“Dangdut…!”

Haaaa

“Kok Naya pengennya jadi penyanyi dangdut…?” isteri saya kali ini nimbrung…

Mulailah isteri saya menceramahi tentang betapa bla.. bla..nya penyanyi dangdut…

Naya ngeliatin aja, bengong.. (tetep cantik).

Saya juga ingat dengan kisah lainnya, ketika kuliah…mirip-mirip juga alurnya…

“Silahkan kalian tuliskan visi yang ingin kalian wujudkan dalam 5 sampai 10 tahun ke depan”

Kata dosen saya yang sudah bergelar professor, di kelas dengan mata kuliah kewirausahaan.

Kami, para mahasiswanya pun mulai menulis. Saya melirik teman di sebelah saya, seorang perempuan yang menjadi sekjen di salah satu organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia. Dia menuliskan, salah satu visinya adalah menjadi politisi, hingga tingkat menteri dengan sasaran antara menjadi anggota legislative. Sekarang dia menjadi caleg DPR dari salah satu partai Islam, untuk salah satu wilayah di Pulau Sumatera.

Saya? Hmmm. Saya hanya ingin menulis buku ke-40 pada ulang tahun saya ke-40. Salah satunya harus diterbitkan dalam bahasa Inggris. Saya bilang ingin jadi penulis dengan mengangkat isu global. Disitu juga dituliskan apa saja yang akan kita lakukan untuk mewujudkan visi tersebut. Saat ini saya baru menyelesaikan 6 buku, di usia 34 tahun; jadi waktu 6 tahun (mudah-mudahan Allah memberikan usia yang berkah) tersedia untuk membuat 34 buku lagi.

“Oke.. sekarang, silahkan sharing tentang visi Anda.”

Bergiliranlah teman-teman menceritakan visinya. Tiba giliran saya, agak gemetar juga, karena visi yang saya tulis, memang bukan basa basi, beneran ingin saya wujudkan.

“Saya ingin menjadi penulis yang menghasilkan karya ke-40 di usia ke-40.” Saya share kepada seluruh kelas.

Ada satu orang yang duduk di belakang, mulai berkomentar—berkicau—tepatnya. Teman saya ini memang paling hobi menilai kelemahan orang lain. Komentarnya ngga jelas, tapi mengganggu banget, intinya mengatakan bahwa saya tidak akan bisa mencapai apa yang saya cita-citakan.

“Ngga mungkin.. susah tuh…!” begitu katanya. Pelan, ngedumel, tapi kedengeran. Suaranya seperti kepakan sayap nyamuk di sekitar telinga.

Saya langsung bilang ke dosen saya, yang juga seorang psikolog.

“Pak.. kalau kita punya visi atau mimpi, apa mungkin di sekitar kita ada para pencuri mimpi?”

Pertanyaan spontan muncul karena kekesalan saya, ada orang yang sama sekali tidak berkepentingan dengan visi saya, tapi memilih berkomentar negatif. Apa urusannya dia dengan visi saya? Toh, dia tidak akan terlibat dengan proses pencapaian saya? Mengapa tidak memilih mencari celah positif bagi terwujudnya cita-cita seseorang? Khan tidak ada ruginya?

Saya yang memang straight to the point, langsung bilang sama teman saya yang nyinyir itu,

“Mas… kalau kita ketemu di ulang tahun saya yang ke-40, insyaallah saya akan kasih buku saya, gratis pkus tanda tangan….” Saya mangkel juga sama orang yang model komentator seperti itu. Parahnya lagi, dia akan bersama dengan saya, sekelas selama 2 tahun.

Saya kembali duduk. Suasana agak panas ketika saya bicara langsung dengan komentator pencuri mimpi itu. Teman yang aneh.

Setiap orang harus punya mimpi. Setiap orang harus punya visi. Tapi hati-hati, di sekitar kita banyak para pencuri mimpi. Mereka adalah orang-orang yang bergaya hit and run.. menjatuhkan mental kita dan meninggalkannya begitu saja. Mereka adalah orang-orang yang melihat ketidakmampuan kita daripada potensi. Mereka adalah orang-orang yang dengan sangat diplomatis menyampaikan argument yang intelek hanya untuk mengatakan bahwa kita tidak bisa mewujudkan apa yang kita inginkan.

Hati-hati dengan pencuri mimpi. Para pencuri mimpi ini  bisa jadi orang terdekat, berwujud orang tua, kakak, adik, sahabat, musuh, tetangga, pemerintah, atasan, bawahan; bahkan diri sendiri pun bisa jadi pencuri mimpi. Kadang sebelum mencoba, diri kita sendiri mengumpulkan argument ‘ketidakbisaan’ begitu banyak, sehingga langkah pertama menjadi sangat berat.

Ketika seorang anak mengungkapkan mimpinya kelak, orang tua yang bertipe pencuri mimpi akan mengemukakan argumen betapa sulitnya mencapai mimpi itu. Anak pun akan tercuri mimpinya. Padahal ada pilihan lain, mengungkapkan banyak hal agar mimpinya bisa terwujud. Menggambarkan bagaimana selisih antara potensi yang dimiliki dengan apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan mimpinya. Jadilah orang tua yang bukan pencuri mimpi.

Hati-hati dengan pencuri mimpi. Para pencuri mimpi ini bergentayangan mencari mangsa, yaitu orang-orang yang sedang punya mimpi; dengan tujuan memperbanyak habitatnya, para pecundang yang ingin komunitasnya bertambah.

Deteksi para pencuri mimpi. Jika kita menemuinya, cukup berikan senyum manis saja. Kata-kata mereka seperti daftar pustaka, sayangnya daftar pustaka dari buku-buku jaman dulu yang sudah kadaluarsa. Layaknya pencuri, pekerjaan mereka memang ketika kita lengah; lengah dari kesungguhan untuk mewujudkan mimpi.

Saya sedang terus belajar menjadi penulis yang lebih baik, menyerap ide dan menuliskannya. Mengajak orang juga untuk membudayakan menulis. Saya memahami bahwa ketika menulis dikuasai sebagai ilmu, maka yang dapat meningkatkan produktivitas adalah kecepatannya. Saya fokus pada kecepatan menulis.

Saya masih punya alamat email dan nomor handphone teman sekelas saya  yang ‘pencuri mimpi’ itu. Sesekali saya chatting, hanya untuk sekedar tidak kehilangan kontak, supaya bisa menyerahkan langsung buku saya ke-40 nanti. Mungkin saja mimpinya adalah saya tidak bisa mewujudkan mimpi saya. Saya sudah siapkan kalimat di halaman mukanya.

Semoga Allah meridhai.

One thought on “Pencuri Mimpi

  1. Agak mirip dgn kisah temenku. Knp ya org seringkali “meremehkan” mimpinya org lain?? Menurutku mimpilah yg membuat kita bertahan menghadapi hari esok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *