(((ini cerita tentang masa kecil saya, semua laki-laki pernah mengalaminya, di usia yang berbeda. Sekedar buat bacaan supaya pagi lebih ceria. Mohon maaf bila ada nama yang disebutkan, sungguh tak sengaja…itu hanya kebetulan belaka.)))))

 

Namanya Parman Suparman. Pekerjaannya adalah tukang nyunatin orang. Di Sunda, profesi ini namanya bengkong, bahasa kerennya mantra sunat. Makanya, Parman Suparman, lebih dikenal dengan nama Parman Bengkong.

 

Perlengkapan utama Parman Bengkong untuk menyunat adalah pinset penjepit yang terbuat dari baja tipis dan sembilu (kulit bambu yang sisinya tajem banget), panjangnya 20 cm. Sembilu itu tipis, tapi ujungnya sangat tajam. Pinset jepit digunakan untuk menjepit ‘ujung’-nya, dan dengan tarikan secukupnya, maka ujung itu akan dipotong oleh sembilu. Parman Bengkong biasanya meminta air panas, untuk mensterilkan pinset dan sembilu itu.

 

Kedatangan Parman Bengkong biasanya menggembirakan orang tua dari anak yang disunat dan menjadi mimpi buruk bagi anak yang disunat. Parman Bengkong dengan baju kebesarannya, karena badannya kurus sehingga bajunya kelihatan longgar; jas sederhana warna abu-abu, bukan karena warnanya abu-abu, tapi sebenarnya berwarna putih, kemudian seiring perjalanan waktu dan kontaminasi polusi jalanan, warnanya bertransformasi menjadi abu-abu.

 

Ketika prosesi sunatan itu, Parman Bengkong tak sendirian; biasanya bekerja sama dengan Ki Topa, seorang pakar pembuat petasan, yang karena seringnya mendengar ledakan petasan dari dekat, pendengarannya pun pergi meninggalkannya alias budeg. Untuk menghormati Ki Topa, alias supaya aman ketika membicarakannya, Ki Topa biasanya dipanggil Apotik. Apotik adalah cara membaca terbalik dari Ki Topa.

 

Apotik yang tak bisa mendengar itu, selalu mengatakan bahwa petasannya adalah petasan dengan ledakan paling hebat. Karena dia sendiri yang menjadi quality controlnya.

 

Ketika akan menyunat, Parman Bengkong akan menunggu bunyi petasan rantai yang dinyalakan oleh Apotik.

 

Begitu…DUARRRRRRRRRRRRRRR…

SRETTTTTTTTTTTT

 

Sembilu Parman Bengkong pun secepat kilat memotong ujung kelamin anak yang disunat. Karena kaget, maka tak ada jeritan sesaat sembilu memotong anak sunatan. Jedanya sekitar 30 detik, setelah itu barulah ada teriakan..

 

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriakan bercampur tangisan ‘korban’.

 

Setelah itu, para ‘dayang’ sunat yang biasanya terdiri dari ayah, ibu dan kakaknya yang menggunakan hihid, kipas tradisional, seperti bendera semaphore-nya Pramuka, terbuat dari anayaman bambu, sambil memberikan kopiah yang berisi uang cecepan. Sudah menjadi tradisi di setiap sunatan, biasanya undangan yang datang akan nyecep, alias memberikan uang seadanya. Saya, ketika disunat, mendapat cecepan 3000 dan dibelikan pohon cengkeh yang ditanam di depan rumah. Bukan sepeda, bukan mainan. Beneran, pohon cengkeh.

 

Untung saja, Parman Bengkong bukan bengkong yang kagetan dan nggak latah. Jadi, ketika petasan itu meledak, ngagetin banyak orang, Parman Bengkong tetap focus pada pekerjaannya. Coba kalau Parman Bengkong kaget dan ‘energi kaget’-nya mempengaruhi caranya menyunat? Bisa-bisa salah potong, dan bentuknya tak sesuai pesanan.

 

Butuh 2 minggu untuk menghilangkan rasa sakit akibat sunatan itu. Selama 2 minggu itu pula, biasanya anak sunat mengenakan sarung dan menggunakan tangan kanan untuk mengangkat sarung supaya tak terkena bekas sunatan, karena lumayan sakit.

 

Biasanya, kalau mau cepat sembuh, ada pantangan, selain dari jenis makanan tertentu yang bikin gatal; juga tidak boleh melangkasi segala jenis kotoran binatang, terutama kotoran kerbau. Lagian, ngapain juga, lewat-lewat ngelangkahin kotoran kerbau, emang ngga ada jalan lain apa?

 

Nah, kalau mau cepat sembuh, ada tips dari seorang teman, cukup menantang juga, yaitu

– letakkan nasi 1 atau 2 butir di ujung yang disunat,

– cari ayam yang lagi lapar.

– Bukalah sarung tepat di depan ayam yang sedang mencari makan,

– dijamin, ketika ayam melihat 2 butir nasi di tatakannya, dengan secepat kilat, ayam akan mematuk nasi itu berikut tempat nasi itu melekat.

 

Sembuh?

Boro-boro sembuh,

malah

sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.

 

Rupanya, cara dipatok ayam itu untuk melupakan rasa sakit disunat, dan berpindah menjadi rasa sakit dipatok ayam. Cara yang aneh. Sugesti yang aneh.

 

Dua minggu kemudian, setelah luka sunat itu, rasanya setiap anak kecil merasa lebih laki-laki dan lebih Islami, dan tentu saja tak perlu bersarung lagi.

 

 

One thought on “Parman Bengkong dan Dipatok Ayam

  1. Hatur nuhun atas tulisanna membuat kesangan dan demam hilang…. da seseurian tea…. hatur nuhun pisan,

    kang Jefree, ngalamin yang sama ya… hehehe”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *