Palu hanyalah sebuah alat. Biasanya dibuat indah, enak dipegang dan tentu saja mantap diayun.
Palu biasa adanya di tempat biasa. Mungkin di pojokan sebuah bengkel, atau di tas seorang tukang bangunan.

Ketika palu itu ada di meja, tepat di depan seorang wakil rakyat yang mewakili para wakil rakyat, karena posisinya sebagai ketua salah satu lembaga tinggi wakil rakyat, palu itu menjadi istimewa.

Ketika dipukulkan, maka banyak makna yang bisa terjadi. Makna itu adalah akumulasi dari motif dan pola pikir dibalik sang pengayun dan pemalu.

Marzuki Alie kelihatannya memang pemalu. Bicaranya santun, pelan dan tangannya berekspresi, persis seperti idolanya, SBY.

Kali ini Marzuki Alie menjadi pemalu betulan, dengan makna yang lebih luas dan dampak lebih sistemik; seperti kasus yang sedang hangat jadi perbincangan dan perdebatan.

Palu yang diayun dengan motif tak santun tentu akan menjadi palu yang memalukan. Karena, palu itu terayun demi sebuah pembenaran, bukan lagi membela kebenaran.

Palu yang diayun dengan motif yang bersih dan tulus demi kepentingan rakyat dan kebenaran yang menyertainya, tentu tidak akan memalukan, karena ia akan memuliakan.

Tapi, di negeri ini, hidup mulia, bagi beberapa kondisi, tak lagi menjadi tujuan. Kadang, hidup ini dijalani dengan melakukan hal yang memalukan.

Buktinya, banyak yang gembira ketika terjadi kekisruhan. Kekisruhan yang stimulusnya sudah terskenario. Dampaknya lah yang kemudian menjadi konsumsi media.

Negeri ini memang hebat dan besar secara statistik, tapi kerdil secara karakter.

Ketika hidup mulia bukan lagi tujuan, maka bersiaplah untuk dipermalukan di hadapan kekekalan di akhirat kelak…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *