Ketika kami akan pergi dan isteri saya masuk ke kamar (saat itu sudah berpakaian lengkap, tapi belum berjilbab); Naya, anak saya yang sudah berpakaian rapi dengan warna pakaian favoritnya–merah–ngomong:

“Pake Jilbab, Bunda!” dengan ucapan yang masih cadel, khan anak umur 2 tahun.

Pagi itu isteri saya punya jadwal senam hamil di RS Melania, Bondongan. Ini sudah bulan ke-9 kehamilannya.

Saya terdiam sebentar…. rasa-rasanya permintaan itu biasa saja, tapi kalau dipikir-pikir kok jadi dalem juga kata-katanya.

Saya jadi ingat, ketika pagi-pagi sekali datang ke sebuah studio tv lokal, dan saat itu acara rohani sedang berlangsung. Host-nya cantik sekali, apalagi pake jilbab. Begitu selesai acara, hostnya ke ruang make up, dan keluar dengan pakaian yang berbeda, tanpa jilbab. Mungkin biasa saja. Banyak yang begitu.

Saya mikir lagi tentang permintaan sederhana Naya.. “Pakai Jilbab, Bunda!”.

Isteri saya memang sudah mengenakan jilbab, bukan tentatif jilbabnya, tapi permanen, insyaallah. Tapi, bisa jadi kalau isteri saya mengenakan jilbab hanya untuk memenuhi permintaan Naya; bermaksud untuk menyenangkannya, maka yang didapat isteri saya adalah kecintaan dan kesenangan dari anak saya; dan tentu saja dari saya yang senang kalau anak saya senang.

Kalau isteri saya ‘jilbaber tentatif’ seperti artis yang membawakan acara rohani tadi; maka bisa saja dia menolak untuk mengenakan jilbab dengan alasan panas lah, atau alasan lain yang pasti stocknya banyak. Isteri saya akan mengecewakan, membuat sedih anak saya.

Alhamdulillah isteri saya jilbaber permanen, sampai detik ini. Yang jelas, yang meminta wanita mengenakan jilbab itu Tuhan. Silahkan saja memilih untuk menyenangkan-Nya atau malah mengecewakan-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *