Saya kedatangan tamu, seorang wartawan. Cerita tentang sahabatnya yang jadi kepala sekolah di sebuah desa di Jawa sana. Jabatannya itu membuatnya menjadi tokoh masyarakat. Menjelang pemilu, banyak partai yang mendatangi, memberi bantuan dengan syarat bisa mendatangkan massa.

Setiap partai datang, maka datang pula ‘massa’ Pak Kepsek itu. Orangnya banyak yang sama, hanya kaosnya yang berbeda, disesuaikan dengan partai yang menjumpai mereka.

Pak Kepsek bersyukur bisa memberi banyak kepada orang-orang disekitarnya. Ketika ditanya nanti akan milih siapa.. pak Kepsek dengan polos menjawab…
“Karena yang ngasih bantuan partainya lumayan banyak, saya mewanti-wanti kepada masyarakat untuk bersikap adil, sehingga mereka mencontreng semua partai yang memberi bantuan…”

Nah…!

One thought on “Pak Kepsek dan Contreng Kolektif

  1. sungguh arif dan bijaksana tuh pak kepsek…….,
    patut menjadi pemimpin yang mengayomi dan mensejahterakan masyarakatnya

    dalem nih komentarnya….

  2. keren kepseknya.
    tapi mestinya milih yang gak ngasih bantuan sekarang gpp asal emang calegnya bener dan mau bantuin rakyat ntar kalo sudah terpilih atau telah terbukti sudah bantuin rakyat.

  3. mau diutnya ok sip itu
    wong kita sbg rakyat kecil bisanya ya gitu itu
    mumpung ada kesempatan
    belum tentu jk caleg nanti terpilih mereka akan memikirkan nasib kita, paling mikirin nasib sendiri, gmn cr spy modalnya bisa balik
    hehehe…
    salam
    wha1.blogdetik.com

  4. Wah pak Kepala sekolah yang aneh…..
    Harusnya pesanya…..pilihlah sesuai hati nurani. kan biasanya ada yang ngasihnya pakai kacak pinggang, atau ada yang sambil bungkuk2. Klo ngasihnya sambil di lempar …ya…lempar balik aja…

    Ingat pilihan kita akan menentukan jadi nggaknya Caleg busuk…..

    http://www.kalbuku.blogdetik.cm

  5. Huehehe… kalau gitu mending kita pilih KEPSEK aja dari pada pilih CALEG dan Presiden. Karena KEPSEK lebih bisa di percaya sama rakyat untuk jadikan ” Tokoh Masyarakat “

  6. hehe…saluto utk pak kepseknya. semoga sehat selalu dan terus berjuang utk menjadi tokoh masyarakat yg diteladani semua orang.
    Go ahead Indonesia !!

  7. kalo kepsek kaya begini……….ancur negara kita………tidak punya prinsip….yg penting bantuan ngalir………hasilnya ya percis negara kita mengistilahkan bantuan…….masyarakat yg kena getah nya………

  8. Golput maning…golput maning….
    Bantuan boleh diterima, tapi sebaiknya gunakan hak pilih anda sebaik-baiknya…(ciee..gw dah macam caleg sedang kampanye aja nih)

  9. Salah satu “musuh” terbesar Pemilu adalah jual beli suara. Ia bukan hanya menginjak-injak suara dan aspirasi sejati rakyat, tapi juga meniadakan demokrasi dan hak rakyat untuk memperbaiki masa depan. Bila kerusakan bangsa ini berawal dari proses transaksi jual beli kekuasaan yang merugikan masyarakat banyak, dengan ditandai begitu banyaknya Undang-Undang yang dilahirkan justru memiskinan rakyat dan tidak berpihaknya APBN yang menjamin hak sejahtera rakyat, maka sangat mengkhawatirkan bila proses transaksi jual beli tersebut diikuti oleh masyarakat di bawah.

  10. wah klw saya mah binun neh mau mili salah satu tapi kasian yg lainnya gak sampai hati kan mereka dah berkoar kor tiap hari dimanapun mengharapkan di contreng nah daripada binun memikirnya yg mana yg mau dicontreng mending saya mau tidur aj heheheh kan lumayan tuh libur panjang

  11. Saya duKung Pak Kepsek :-)/

    jangan lupa bantuannya disalurkan ke guru-gurunya yah biar guru-gurunya juga ikut nyontreng semua yang menberi bantuan.

    jadi makin banyak yg GOLPUT dah…
    :-Dhe.he.he.he.

  12. BagusLah bisa cerdas, maLah bisa lebih cerdas dari orang partai itu sendiri .. hehehe ..

    saLam hangat,

    airbening21.blogspot.com

  13. salam dari bandung

    Doa politik kaum jelata

    Tuhan
    Orang-orang tak lagi percaya keadilan
    di negeri ini karena tiap hari di suguhi kerak nasi

    Tuhan
    tiap tahun kami membayar pajak tapi orang miskin, anak terlantar, dan pelacuran makin
    subur di negeri ini.

    Tuhan
    Betapa naifnya hidup di negeri ini, kami rakyat kecil diajak berhebat, tidak korupsi, jujur, mencintai negeri ini dengan segenap jiwa dan raga, mencintai produk dalam negeri seperti pesan “penghibur rakyat” di iklan politiknya di TV.

    Tapi, mereka tertidur seperti bayi, ada yang sibuk ber sms, menelpon diasaat rapat memperjuangkan hak-hak kami sebagai rakyat di parlemen dan lebih kejam lagi mereka menghambur-hamburkan pajak yang kami bayar, mereka pergunakan ke panti pijit dengan alasan merilekskan pikiran, main perempuan (mungkin karena istrinya sudah tua dan sibuk arisan), dan bermain judi.

    Tuhan
    Ada juga yang nekat jadi calo/broker misalnya calo politik, calo proyek, calo bencana, calo pemekaran wilayah seperti berita di Koran, apa gaji mereka tidak cukup sampai mereka begitu kejam melakukan hal tersebut. Padahal di negeri ini banyak sarjana menganggur dan relah bekerja apa saja karena susah dapat pekerjaan.

    Tuhan
    Penguasa di negeri kami memang tidak semua suka berbuat keji dan hina, tapi kami tidak punya kuasa untuk menandai wajah mereka, mana yang baik dan buruk

    Tuhan
    Kalau Engkau tidak memberi kami petunjuk untuk membedahkan mana pemimpin yang hanya pandai menjual kecap dan mana yang tulus, jangan salahkan kami, kalau terpaksa kami menantang fatwa MUI untuk golput

    http://esaifoto.wordpress.com

  14. daripada udah kepilih ga inget rakyat, mending pas kampanye duitnya diambil aja. Masalah ntar kepilih mah hanya tuhan yang tau?

  15. Menjelang pesta demokrasi alias pemilu, begitu banyak persiapan yang dilakukan para pengusungnya, dari kota sampai ke desa; berjajar partai-partai yang akan turun ke kancah politik. Mulai dari partai senior sampai partai junior, bahkan partai yang menisbahkan dirinya kepada Islam pun tidak mau ketinggalan mengambil posisi dalam memeriahkan pesta demokrasi. Tak ada satu jalan pun kecuali telah dipenuhi dengan baleho-baleho para caleg, spanduk-spanduk partai, stiker, dan atribut lainnya. Beribu-ribu ungkapan dan janji yang tertulis hampir di setiap sudut kota. Semuanya terkadang buat bingung; yang mana harus dipilih?

    http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1432

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *