Baban Sarbana

Social Business Coach

Mencari Ketenangan

Ciapus.. dekat danau

 Saya kedatangan tamu istimewa, Elang Gumilang, anak muda usia 23 yang kini bisnis developer dan mendapat penghargaan sebagai Wirausahawan Muda Mandiri 2007, Pemuda Pilihan 2008 dan Young Entrepreneur 2008 dari Warta Ekonomi.

Elang datang dengan motor bututnya dan bermaksud mencari tempat merenung yang terpencil. Kebetulan rumah saya memang terpencil dan ngga beberapa jauh dari rumah, ada rumah kakak saya yang letaknya di pinggir danau dan punya musholla kecil. Nah, cocok kayanya. makanya kemudian rumah itu dipilih Elang untuk merenung.

Saya nanya, kenapa milih rumah itu untuk menyepi? karena ingin meluruskan niat katanya. Hmmm, dengan sedemikian banyak gelar yang dia miliki saat ini, memang berat rasanya untuk mengarungi tanpa meminta keseimbangan untuk tetat berniat lurus, menjaga agar apa pun yang dilakukan dalam kerangka mencari harta yang berkah.

Makanya, Elang meniatkan untuk merenung seminggu sekali di tempat saya itu, sekalian ngobrol-ngobrol tentang apa pun. Kemungkinan dia akan mengajak beberapa anak muda yang sebenarnya memiliki latar belakang keluarga berada di Bogor, tapi hampa di dalamnya. Banyak orang yang ingin tetap lurus niatnya, akan tetapi harus mencari tempat yang begitu jauh untuk mendapatkannya.

Satu lagi, ternyata kebiasaan Elang merenung itu sebenarnya ingin meniru idolanya, Nabi Muhammad SAW, yang biasa merenung untuk mengatur seluruh sel-sel di tubuhnya agar tetap tunduk ke hadirat Illahi.

Memang mencari ketenangan harusnya di tempat tenang, bukan di tempat yang ramai. Supaya sinyal-sinyal dari Allah itu bisa sampai.

Nulis itu… Tulisin yang Dipikirin.. Pikirin yang ditulisin

Perhatikan jempol kanan Anda (untuk yang tidak kidal). Apakah ukurannya lebih besar daripada jempol kiri…?

Kalau ukurannya lebih besar dari jempol kiri, maka dipastikan Anda memiliki bakat menulis, karena jempol itu pasti Anda gunakan untuk mengirim sms, terutama disaat nyetir mobil atau mengerjakan pekerjaan lain, sehingga HP Anda pegang dengan satu tangan….

Memang beberapa waktu ini, banyak teman-teman dari aneka profesi nanya ke saya, yang gara-gara baru nulis beberapa buku, udah dianggap jadi penulis…. (ya iya lah… karena nulis makanya disebut penulis.. kalau lamar jadinya pelamar, kalau ramal jadinya peramal). Mulai dari penyiar, orang kantoran, pembicara top sampai public figure.

Rasanya kok nulis itu simpel aja ya.. ada yang bilang kudu pake otak kanan kalau mau kreatif dan kudu pake otak kiri kalau mau teratur… buat saya, nulis itu ngga usah dipikirin pake otak kiri atau otak kanan. yang jelas nulis itu kudu pake otak…. kalau ngga pake otak, namanya bukan lagi nulis tapi lagi ngotak-atik kode togel….

Sebenarnyan nulis itu tipsnya 2 aja…..

1. Tulisin yang dipikirin 

2. Pikirin yang ditulisin

Nah.. simpel khan… tulisin yang dipikirin artinya jangan mikirin macem-macem dulu tentang hasil tulisan kita. Pokoknya tumpah ruah loh jinawi aja….. (itu gemah ripah ya). Apa pun yang ada di pikiran tulisin aja. Untuk teknik ini ada yang namanya Fast writing, yaitu nulis cepet tanpa mengangkat pulpen dari kertas (itu kalau pake buku). Tulis aja apa yang dipikirin. Kalau pegel ya tulis “pegel… kok macet nih… ngga ada ide lagi.. mentok… gimana ya….” tulis aja. Kita akan kaget sendiri dengan banyaknya kata-kata yang bisa tuangkan dengan mengalirkan pikiran.

Yang kedua adalah  pikirin yang ditulisin… nah ini baru otak kirinya jalan, ngatur mana yang harus diambil mana yang harus dibuang. Terus membuat gagasan terdistribusi sempurna. Jadi satu gagasan ada di satu paragraf. Antar paragraf pun menjadi sempurna hubungannya.

Jadi, nulis itu kaya ngambil batu untuk bahan baku bikin patung…

Nulisin yang dipikirin itu ibaratnya ngambil batunya… emang awalnya ngga jelas bentuknya….

Pikirin yang ditulisin itu ibaratnya memahat batu itu sehingga menjadi patung yang kita inginkan…

Berani nyoba… ketik reg spasi MANJUR…..

chat aja ke banban_sar@yahoo.com, kalau orangnya ngga ada, titip pesen aja…
 

Pilkada Sumsel dan Hikmahnya

Kemang Regency…

Ketemu sama HY untuk diskusi tentang buku belajar dari Pilkada… Rada buru-buru, karena HY harus terbang ke Swiss malam ini juga.

Kebanyakan buku memang cerita tentang kemenangan dalam Pilkada, tapi yang cerita tentang sebaliknya masih jarang. Ternyata banyak yang bisa dipelajari setelah Pilkada Sumsel berlalu. Saya ngeliat HY seperti anak kecil yang menyerap segala pengalaman dengan mata yang bersemangat untuk menjadikannya sebagai ilmu.

Banyak hal yang dibahas, salah satunya tentang TIM SUKSES… sesuai namanya, memang timnya sukses, walaupun kandidatnya ngga sukses….hahahaha.

Kita juga cerita tentang betapa majunya kemampuan masyarakat kecil dalam menyusun proposal bantuan kepada calon pimpinan mereka. Saking majunya, ada proposal bantuan yang kop dengan alamatnya sama, tapi isinya berbeda. Ada juga yang sebaliknya. Isinya sama walaupun kop suratnya berbeda.

Permintaan proposal bantuan beraneka ragam, mulai dari pembangunan sarana olahraga sampai operasi mata dan pembiayaan pernihakan. Dan yang paling banyak adalah permohonan untuk pendirian posko pemenangan pemilu dengan rincian permintaan dari mulai sewa gedung hingga jumlah kopi dan teh yang harus dibeli. Hebat juga masyarakat kita, tahu apa yang dimau, walaupun tidak tahu kalau calon pimpinannya belum bisa memenuhi semua keinginan dan beberapa mungkin syahwat politik, karena proposal yang sama bisa jadi diajukan kepada kandidat lawan.

Masih banyak yang akan kita bahas tentang apa yang terjadi selama Pilkada dan bagaimana seorang HY menyikapinya sebagai hikmah, dan berharap agar hikmah itu bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.

Salah Kaprah vs Benar Kaprah

Smart FM

Saya ditanya sama Ade Rai (AR)

AR : yang namanya konsumtif itu apa coba?

Saya : beli makanan, beli sesuatu yang pokoknya berlebihan

AR : beli tas harganya berapa?

Saya : 400 ribu

AR : mikir ngga pas milih tas

Saya : Iya

AR : tasnya dapet

Saya : dapet, dituker sama uang

AR : kalau ke rumah sakit, pernah nawar obat? kalau dikasih obat yang 100 ribu ama 500 ribu, milih mana?

Saya: ngga pernah nawar obat. Pilih yang 500 ribu dong. Ngga apa-apa mahal.

AR : Nah.. itu konsumtif…

Saya : hah…..

Percakapan sederhana, untuk memahami mindset masing-masing, karena kita akan mengupas sisi pandang dari seseorang yang tercelup dan menjadi bagian penting dari perjalanan olahraga dan pola hidup sehat di Indonesia.

Saya baru kebuka bahwa sakit itu bisa konsumtif, letaknya pada tidak adanya kecenderungan untuk memilih, alias menerima obat asalkan sehat bisa didapat. Padahal sehat itu sudah kita miliki sebelumnya. Konsumtif itu ketika kita keluar uang karena sakit untuk beli kesehatan. Hmmm, kudu rada dipikir-pikir juga nih…

Memang kita seringkali salah kaprah, tanpa tahu yang benar kaprahnya bagaimana. Salah kaprah mengartikan yang namanya sakit adalah berhubungan dengan fisik. Padahal sakit itu bukan hanya terbaring di rumah sakit, akan tetapi lebih sakit lagi karena terbaring itu, kita tidak bisa memberi nafkah kepada anak-anak dan ketika alokasi dana yang seharusnya untuk hal lain malah dialokasikan untuk mengobati sakit.

Salah kaprah ketika melihat sakit hanya berurusan dengan penyakit fisik. Sakit juga berhubungan dengan perasaan. Dalam olahraga, sakit itu ya kalah dan malu.

Makanya perlu kita re-definisi sakit itu menjadi sehingga benar kaprah… bahwa sakit berhubungan dengan segala sesuatu yang membuat kita mengalami kerugian, baik dari sisi fisik, maupun non fisik.

Lubang Hidungnya Gede Banget ya…?

Tumben, hari ini saya merhatiin aneka bentuk hidung. Naik bis Bogor UKI seperti biasa, ambil posisi di belakang, biar ngga keganggu ama pengamen. Soalnya ada planning sambil meriksa revisian buku. Lagi anteng2nya meriksa, dan bisa belum jalan. Dari arah depan muncul cewe yang wajahnya biasa-biasa aja, tapi ada yang membuat saya memperhatikan. Apa coba? LUBANG HIDUNG.

Hehehehe. Cewe itu lubang hidungnya gede banget, kayanya kalau ngambil nafas gelagepan kali ye…hehehehe. Jalannya santai dan alhamdulillah dia gak duduk sebelah saya. soalnya kalau duduk sebelahan, pasti saya ngga tahan buat ngelirik. hihihi.

Buat dia sih biasa aja kali ya berangkat dan ada orang yang ngeliatin… atau jangan-jangan saya orang pertama yang ngeliatin dia? walaupun dia ngga ngeliat kalau saya ngeliatin…?

Buy the way, Allah memang Maha Adil ya…. besarnya lubang hidung tidak sama rata diciptakan.. ada yang kekecilan, ada yang kebesaran. Kalau lubang hidung cewe itu biasa aja, pasti ngga menarik perhatian.. siapa tahu lubang hidung itu yang bikin dirinya beruntung; kaya tahi lalat buat Rano Karno, bibir untuk Tukul Arwana. Kuncinya memang kudu disyukuri… kalau bersyukur memang ada aja berkahnya….

JCo dan Tua itu Relatif

Sore ini nongkrong di JCo; mau ngelanjutin nulis buku baru.. hmmm, enak juga ya… ngga berapa lama, muncul segerombolan anak SMU dengan seragam masih melekat. Kebetulan mereka duduk di sebelah kanan. Keliatan deh badge sekolah di bahu kanannya. SMA 1 Bogor.

hehehe, ternyata adik kelas. Jadi ngebayangin jaman dulu; nongkrong dimana ya kalau mau ngabisin waktu pulang sekolah? perasaan, nongkrong di depan kantor pos aja udah keren. Pernah juga nongkrong di depan apotik.. hahahaha, ngga keren amat tempat nongkrongnya…. kalau anak SMA 1 Bogor sih paling aman and asyik di gang selot….

Tapi.. jadi mikir juga, dengan datangnya gerombolan itu.. berarti udah puluhan tahun ya ninggalin SMA..? berarti udah tua banget ya…hahahahaha. Kayanya ngeliat mereka bercanda, ngga ada beban gitu. Dunia seolah berjalan walaupun mereka ngga ada… karena mereka ngerasa punya dunia sendiri. Sementara, saya ngga bisa begitu. Ada dunia yang harus bergerak terus; kalau saya berhenti maka dunia itu pun ikut-ikutan terhambat.

Merasa tua karena dekat dengan adik kelas yang jauh lebih muda.

Tapi.. ngga beberapa lama, ada rombongan biker yang udah tua-tua, mungkin abis jalan kemana gitu, duduk rame-rame di samping kiri saya. Becanda, ngomong ngalor ngidul. Umurnya mungkin antara 50 – 60-an…

Tiba-tiba saya ngerasa jauuuuh lebih muda….
Makanya sejak itu, saya milih nengok ke sebelah kiri, supaya ngerasa muda terus…

Tua itu emang relatif. Dewasa itu pilihan…

Ini Namanya Bebek… Bukan Ayam

Hari ini (Naya) anak saya sekolah lagi di PAUD. Pelajarannya menggambar hewan yang pernah diliat. Hmm, kebetulan Naya tinggal di kampung, jadilah dia memilih, gambar hewan apa yang mungkin dia bisa gambar. Gambarnya sih abstrak, karena Naya baru berusia 2 tahun; tapi kayanya sih ngarah-ngarah ke ayam…hehehe. paling ngga dari bentuk kakinya.
Temen-temennya juga milih gambar yang berbeda. Naya yang memang hobi muter-muter ngeliatin gambar orang akhirnya berhenti di gambar salah satu temennya dan nunjuk gambar.. sambil ngomong: “BEBEK”.. eh temennya itu protes dan bilang “AYAM” menegaskan kalau gambar yang dia buat itu bukan bebek tapi ayam.
Bebek versus ayam… begitulah kira-kira.. perdebatan antara Naya dengan temannya yang sama-sama belum sempurna dalam menggambar.
Gurunya kemudian datang… dan “memutuskan” bahwa gambar itu bebek.. seperti yang disebut oleh Naya… hmmm, Naya senang, tapi saya tidak senang, karena guru tersebut menutup kemungkinan kedua anak itu untuk kreatif dengan mengunci kedua imajinasi anak tersebut dan “mengkotakannya” dalam kata BEBEK….dan bukan bebek.
Kadang… kreatif itu ketika melakukan selisih dari yang nyata dengan imajinasi.. tapi, guru kita sering membuat imajinasi harus sesuai dengan yang nyata. ada yang hilang disitu.. yang namanya KEBERANIAN UNTUK BERBEDA….

Mendung….

Garuda Indonesia, penerbangan ke Bali…

Seperti biasa, pramugari Garuda mengumumkan  cara menggunakan pengaman. Kalau naik Garuda sih kayanya gak begitu perhatiin deh… lagian, pramugari Garuda juga rata-rata udah pada usia matang.. (gak tega mau ngomong tua); tapi kalau naik pesawat lain, kayanya rada-rada kudu merhatiin..hehehe…apalagi kalau pesawat yang di kursi-nya menyertakan do’a selamat dalam perjalanan.. bener-bener harus diperhatiin.

Selesai pramugari ngomong dan bergerak-gerak, saya melanjutkan dengan orat-oret diary… maklum, beberapa waktu ini banyak kejadian yang harus dicatet.

Ngga beberapa lama, karena saya duduk di jendela, keliatan deh udara di luar agak kurang bersahabat. Rada gelap. Rupanya pikiran yang ada di kepala saya pun sama dengan pikiran yang ada di kepala pramugari tadi. Bedanya, kalau pramugari itu punya kewajiban untuk mengumumkan kondisi cuaca.

Mulailah pramugari bilang…. tapi diawali dengan mukanya yang mendung, mewakili cuaca mendung di luar. Pokoknya mukana kusut, ngga kaya pramugari; kaya tukang ngamen yang kalau udah ngamen, narikin duit, tapi ngga ada yang ngasih

“Para penumpang yang terhormat, cuaca  di luar tidak bersahabat, mohon agar sabuk pengaman digunakan, tempat duduk ditegakkan… terima kasih..”

Hmmm, saya lebih tertarik ngamatin mukanya daripada omongannya…. mendung itu khan biasa kalau urusan cuaca.. kita ngga bisa ngatur.. kalau mau hujan, ya mendung.. as simple as that…

Kalau wajah..? khan bisa diatur.. walaupun cuaca mendung, ya wajah jangan mendung dong…. wajah bisa diatur…. apalagi dimulai dari hati juga.. hati yang mendung aja masih bisa ngatur wajah supaya ngga mendung.. apalagi hati yang ngga mendung…

Mendung sebagai cuaca emang hak-nya alam. Mendung di wajah emangnya hak yang punya wajah pramugari yang mengumumkan, tapi khan kita sebagai penumpang, punya hak dong untuk lihat wajah pramugari yang ngga mendung…

Kita udah tau kok kalau cuaca lagi mendung, ngga perlu deh diwakilin sama wajah yang mendung…

PS: Buat temenku yang pas tulisan ini dibuat lagi “mendung”…. di Jogja sana; cuaca punya haknya untuk mendung… tapi, hati itu bisa memilih.. mau mendung atau nggak.. hak kita untuk mendung, tapi ada hak orang lain juga yang pengen kamu ngga mendung…

Lucu itu ada ilmunya

Gedung Gema Insani Press, Depok

Siang ini meeting untuk diskusi lebih detail tentang buku baru.. A to Z tentang sugesti diri. Sebenernya ini draft buku waktu saya wawancara sama Dewi Hughes (duluuuuuuuuuuu banget). Ketimbang gak jadi apa-apa, saya coba tawarin ke penerbit, eh tertarik; lumayan.

Bukunya sih simpel banget, pake alfabet A – Z utk kiat membangun sugesti diri.. misal — W itu Waktu diukur bukan dari seberapa banyak yang kamu miliki, tapi bagaimana kamu menggunakannya…

Nah.. ada pesenan penting dari editor.. bukunya harus lucu, kaya Kambing Jantan-nya Radit…!

Hmmm, akhirnya saya kasih komen deh tentang bagaimana menjadi lucu. Saya bilang, Radit itu lucu bukan bikin cerita lucu, tapi mulai dari otak kecil sampai otak besarnya memang lucu. Dia itu baca buku tentang bagaimana membuat cerita lucu, buku berat tentang hal-hal ringan. Idolanya aja Jerry Seinfild ama Hilman-nya Lupus… so, lucu buat Radit itu emang udah jadi ilmu…bukan sekedar bodor….

Makanya, begitu dibilang bikin cerita yang lucu…. nanti dulu… saya kudu belajar dulu tentang ilmu lucu….

Lucu bukan sekedar membuat orang ketawa. Lucu yang pake ilmu itu bikin orang masuk ke tahap berikutnya setelah ketawa, yaitu ketawa geli… kikikikikikik…. gitu. Geli, kalau inget apa yang pernah dibaca, masih ketawa juga.. nah itu lucu yang sukses…

By the way, oke… saya dari sekarang mau belajar ilmu lucu.. karena idola saya untuk komedian itu emang Robin Williams dan untuk cerita emang Lupus, yang ditulis sama Hilman…

Doakan aku.. ya….!

Ade Rai itu bukan besar, tapi sehat

Smart FM, Jakarta

Datang jam 08.30, nungguin Ade Rai selesai talkshow. Saya ke Smart FM karena mau menyerahkan tesis yang judulnya “Transformasi Pola Pikir dan Ketangguhan Mental Mantan Atlet yang Menjadi Pengusaha (Studi Kasus Ade Rai dan Liem Siauw Bok)”. Selama nunggu itu saya coret-coret buku AMPUH yang dikejar deadline untuk direvisi.

Seperti biasa, saya disuguhi teh manis oleh OB Smart, laki-laki, badannya cungkring banget alias kurus. Saya minum teh dan melanjutkan mengoreksi buku AMPUH.

Jam 09.10, Ade Rai selesai talkshow, saya langsung keluar dan menyapa mereka. Seperti kata Ririe (penyiar Smart FM), kalau deket Ade Rai, kita itu kaya hamster, ngerasanya keciiiiiiiiiiiiiiil banget. Tapi karena dia ramah, biasanya negor duluan, makanya kita jadi nyaman kalau ngomong.

Saya kasih tesis untuk dia, dan dia mulai baca-baca. Mungkin ini pertama kalinya dia dijadikan sebagai obyek penelitian. Hmmm. Makanya Ade Rai cukup interest. Saya cerita kalau ujian kelulusan itu menjadi lebih mudah karena cerita tentang Ade Rai, bagaimana dia bisa mentranformasi pola pikir dan ketangguhan mentalnya dari atlet menjadi entrepreneur.

Obrolan berlanjut ke arah yang lebih dalem. Ternyata Ade Rai juga punya keinginan untuk bikin buku. Idenya banyak, mulai dari 100 ways to loose your fat, fitness untuk muslimah, dll. Ngga kelar2. Semoga aja ini jadi awalan untuk melakukan sinergi (silaturahmi energi).

Setelah obrolan cukup lama, dan kesana kemari, maka kemungkinan untuk kerjasama bikin buku, akan dirancang di pertemuan berikutnya. Saya cukup terperangah dengan cara pandang Ade Rai tentang apa yang sudah dikerjakannya saat ini. Saya sedang berhadapan dengan Juara Dunia Non Drugs Body Builder…. Hmmm, merinding jadinya.

Jadi Ade Rai adalah contoh bagaimana orang memelihara tubuhnya sesehat mungkin, udah paling mentok dan ajaibnya, tanpa menggunakan obat-obatan. Sementara banyak orang yang mau tubuhnya bagus, malah pake drugs.

Ade Rai itu bukan gede badannya, tapi sehat badannya. Gede ama sehat itu beda lho… Gendut ama berotot juga beda.

Pas udah mau pisahan, saya keluarin buku AMPUH, dan ngasih tau Ade Rai bahwa di tahun 2001 ketika saya pertama kali menulis buku itu, di bagian tentang Menjadi Model, saya katakan, bahwa Ade Rai adalah model kalau orang nyebut kata binaragawan.

Al hasil, buku saya yang udah bulukan itu, karena dicoret-coret malah membuat Ade Rai tertarik. Saya ragu juga, tapi ya… semoga saja dia baca dan bisa ngasih komentar atau pengantar….

Saya pulang dengan hati yang lebih gembira. Paling ngga, menjadi penulis bisa lebih membuat saya optimis menjalani kehidupan di dunia maupun akherat.