Baban Sarbana

Social Business Coach

Handphone-nya jatuh

Buk… ada handphone jatuh…. seorang anak muda, kayanya mahasiswa, memungut handphone di lantai koridor busway. Laki-laki di sebelahnya, keturunan Arab, melihat dan langsung meraba kantongnya. Handphonenya tidak hilang.

Busway berjalan dari Kampung Melayu menuju Matraman.

Menunggu busway. Lumayan berdesakan. Seorang guru kayanya, berpeci membawa tas, grasa grusu menyerobot ke depan. Saya memegang tas lebih erat. Beberapa orang lainnya juga mewaspadai miliknya.

Ada apa dengan hati kita?

Continue reading

Chicken Litte

Ini sebenernya film jadul banget…

Film ini udah saya beli lamaaaaa banget. Entah kenapa, Naya jadi pengen nonton terus..Udah 15 kali nonton…pulang dari Mall, eh nonton lagi… jadi 16 kali. Dia ketawa (lagi) di bagian tertentu… jadi kaya rutin. Mungkin dia suka ngeliat tampang chickhen litte yang lucu… Alhasil, Naya minta dibeliin helm kecil warna merah, yang sama dengan yang dipakai oleh Chickhen Little waktu jadi pahlawan pertandingan baseball…..

Tapi banyak juga pelajaran yang bisa ketangkep dari film ini, karena mau ngga mau, saya harus nemenin Naya nonton…

Pelajara 1:

– Anak kecil lebih sulit mendapat kepercayaan dari orang tua, daripada sebaliknya

– Usia adalah ketentuan, dewasa adalah pilihan

– Rencanakan… karena gagal dalam merencanakan berarti merencanakan untuk gagal

– Teman sejati memang berarti

– Kesempatan bisa datang berkali-kali, tinggal dicari lagi dan lagi

Hmmm… semoga saja ada ilmu dari film yang akhirnya saya tonton berkali-kali juga… padahal saya udah beli film kartun lain yang baru-baru. Ngga apa-apa… yang penting bisa nonton bareng… asal ngga keseringan….

Menulis itu Mengalur dan Mengalir

Seharian saya di rumah.. ternyata menyenangkan juga. Naya (anak saya) sih nonton Chicken Littel untuk yang ke-15 kalinya… gak bosen-bosen dia…. Saya lagi dikejar deadline beresin dua buku… tentang Pilkada bareng Helmy Yahya sama A to Z tentang Sugesti Diri yang dulunya wawancara ama Dewi Hughes, tapi baru sekarang ada yang tertarik buat nerbitin..alhamdulillah… paling ngga ini menimbulkan keyakinan, kalau sebuah gagasan ditolak, bukan jelek, masalah waktu aja dan kudu sering-sering ketok pintu… siapa tahu pintu yang bener kebuka pada akhirnya, dan ide kita diterima..

Menulis menjadi pekerjaan utama saya sekarang, karena memang ngga ada kerjaan lain. Tapi dengan fokus nulis, kok kerjaannya jadi banyak ya, nulis buat sendiri, buat orang lain.. eh, nambah lagi nulis buat anak saya juga. Saya berjanji untuk buat buku sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-3 nanti…. untungnya masih 20 oktober 2009…

Continue reading

Mencari Ketenangan

Ciapus.. dekat danau

 Saya kedatangan tamu istimewa, Elang Gumilang, anak muda usia 23 yang kini bisnis developer dan mendapat penghargaan sebagai Wirausahawan Muda Mandiri 2007, Pemuda Pilihan 2008 dan Young Entrepreneur 2008 dari Warta Ekonomi.

Elang datang dengan motor bututnya dan bermaksud mencari tempat merenung yang terpencil. Kebetulan rumah saya memang terpencil dan ngga beberapa jauh dari rumah, ada rumah kakak saya yang letaknya di pinggir danau dan punya musholla kecil. Nah, cocok kayanya. makanya kemudian rumah itu dipilih Elang untuk merenung.

Saya nanya, kenapa milih rumah itu untuk menyepi? karena ingin meluruskan niat katanya. Hmmm, dengan sedemikian banyak gelar yang dia miliki saat ini, memang berat rasanya untuk mengarungi tanpa meminta keseimbangan untuk tetat berniat lurus, menjaga agar apa pun yang dilakukan dalam kerangka mencari harta yang berkah.

Makanya, Elang meniatkan untuk merenung seminggu sekali di tempat saya itu, sekalian ngobrol-ngobrol tentang apa pun. Kemungkinan dia akan mengajak beberapa anak muda yang sebenarnya memiliki latar belakang keluarga berada di Bogor, tapi hampa di dalamnya. Banyak orang yang ingin tetap lurus niatnya, akan tetapi harus mencari tempat yang begitu jauh untuk mendapatkannya.

Satu lagi, ternyata kebiasaan Elang merenung itu sebenarnya ingin meniru idolanya, Nabi Muhammad SAW, yang biasa merenung untuk mengatur seluruh sel-sel di tubuhnya agar tetap tunduk ke hadirat Illahi.

Memang mencari ketenangan harusnya di tempat tenang, bukan di tempat yang ramai. Supaya sinyal-sinyal dari Allah itu bisa sampai.

Nulis itu… Tulisin yang Dipikirin.. Pikirin yang ditulisin

Perhatikan jempol kanan Anda (untuk yang tidak kidal). Apakah ukurannya lebih besar daripada jempol kiri…?

Kalau ukurannya lebih besar dari jempol kiri, maka dipastikan Anda memiliki bakat menulis, karena jempol itu pasti Anda gunakan untuk mengirim sms, terutama disaat nyetir mobil atau mengerjakan pekerjaan lain, sehingga HP Anda pegang dengan satu tangan….

Memang beberapa waktu ini, banyak teman-teman dari aneka profesi nanya ke saya, yang gara-gara baru nulis beberapa buku, udah dianggap jadi penulis…. (ya iya lah… karena nulis makanya disebut penulis.. kalau lamar jadinya pelamar, kalau ramal jadinya peramal). Mulai dari penyiar, orang kantoran, pembicara top sampai public figure.

Rasanya kok nulis itu simpel aja ya.. ada yang bilang kudu pake otak kanan kalau mau kreatif dan kudu pake otak kiri kalau mau teratur… buat saya, nulis itu ngga usah dipikirin pake otak kiri atau otak kanan. yang jelas nulis itu kudu pake otak…. kalau ngga pake otak, namanya bukan lagi nulis tapi lagi ngotak-atik kode togel….

Sebenarnyan nulis itu tipsnya 2 aja…..

1. Tulisin yang dipikirin 

2. Pikirin yang ditulisin

Nah.. simpel khan… tulisin yang dipikirin artinya jangan mikirin macem-macem dulu tentang hasil tulisan kita. Pokoknya tumpah ruah loh jinawi aja….. (itu gemah ripah ya). Apa pun yang ada di pikiran tulisin aja. Untuk teknik ini ada yang namanya Fast writing, yaitu nulis cepet tanpa mengangkat pulpen dari kertas (itu kalau pake buku). Tulis aja apa yang dipikirin. Kalau pegel ya tulis “pegel… kok macet nih… ngga ada ide lagi.. mentok… gimana ya….” tulis aja. Kita akan kaget sendiri dengan banyaknya kata-kata yang bisa tuangkan dengan mengalirkan pikiran.

Yang kedua adalah  pikirin yang ditulisin… nah ini baru otak kirinya jalan, ngatur mana yang harus diambil mana yang harus dibuang. Terus membuat gagasan terdistribusi sempurna. Jadi satu gagasan ada di satu paragraf. Antar paragraf pun menjadi sempurna hubungannya.

Jadi, nulis itu kaya ngambil batu untuk bahan baku bikin patung…

Nulisin yang dipikirin itu ibaratnya ngambil batunya… emang awalnya ngga jelas bentuknya….

Pikirin yang ditulisin itu ibaratnya memahat batu itu sehingga menjadi patung yang kita inginkan…

Berani nyoba… ketik reg spasi MANJUR…..

chat aja ke banban_sar@yahoo.com, kalau orangnya ngga ada, titip pesen aja…
 

Pilkada Sumsel dan Hikmahnya

Kemang Regency…

Ketemu sama HY untuk diskusi tentang buku belajar dari Pilkada… Rada buru-buru, karena HY harus terbang ke Swiss malam ini juga.

Kebanyakan buku memang cerita tentang kemenangan dalam Pilkada, tapi yang cerita tentang sebaliknya masih jarang. Ternyata banyak yang bisa dipelajari setelah Pilkada Sumsel berlalu. Saya ngeliat HY seperti anak kecil yang menyerap segala pengalaman dengan mata yang bersemangat untuk menjadikannya sebagai ilmu.

Banyak hal yang dibahas, salah satunya tentang TIM SUKSES… sesuai namanya, memang timnya sukses, walaupun kandidatnya ngga sukses….hahahaha.

Kita juga cerita tentang betapa majunya kemampuan masyarakat kecil dalam menyusun proposal bantuan kepada calon pimpinan mereka. Saking majunya, ada proposal bantuan yang kop dengan alamatnya sama, tapi isinya berbeda. Ada juga yang sebaliknya. Isinya sama walaupun kop suratnya berbeda.

Permintaan proposal bantuan beraneka ragam, mulai dari pembangunan sarana olahraga sampai operasi mata dan pembiayaan pernihakan. Dan yang paling banyak adalah permohonan untuk pendirian posko pemenangan pemilu dengan rincian permintaan dari mulai sewa gedung hingga jumlah kopi dan teh yang harus dibeli. Hebat juga masyarakat kita, tahu apa yang dimau, walaupun tidak tahu kalau calon pimpinannya belum bisa memenuhi semua keinginan dan beberapa mungkin syahwat politik, karena proposal yang sama bisa jadi diajukan kepada kandidat lawan.

Masih banyak yang akan kita bahas tentang apa yang terjadi selama Pilkada dan bagaimana seorang HY menyikapinya sebagai hikmah, dan berharap agar hikmah itu bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.

Salah Kaprah vs Benar Kaprah

Smart FM

Saya ditanya sama Ade Rai (AR)

AR : yang namanya konsumtif itu apa coba?

Saya : beli makanan, beli sesuatu yang pokoknya berlebihan

AR : beli tas harganya berapa?

Saya : 400 ribu

AR : mikir ngga pas milih tas

Saya : Iya

AR : tasnya dapet

Saya : dapet, dituker sama uang

AR : kalau ke rumah sakit, pernah nawar obat? kalau dikasih obat yang 100 ribu ama 500 ribu, milih mana?

Saya: ngga pernah nawar obat. Pilih yang 500 ribu dong. Ngga apa-apa mahal.

AR : Nah.. itu konsumtif…

Saya : hah…..

Percakapan sederhana, untuk memahami mindset masing-masing, karena kita akan mengupas sisi pandang dari seseorang yang tercelup dan menjadi bagian penting dari perjalanan olahraga dan pola hidup sehat di Indonesia.

Saya baru kebuka bahwa sakit itu bisa konsumtif, letaknya pada tidak adanya kecenderungan untuk memilih, alias menerima obat asalkan sehat bisa didapat. Padahal sehat itu sudah kita miliki sebelumnya. Konsumtif itu ketika kita keluar uang karena sakit untuk beli kesehatan. Hmmm, kudu rada dipikir-pikir juga nih…

Memang kita seringkali salah kaprah, tanpa tahu yang benar kaprahnya bagaimana. Salah kaprah mengartikan yang namanya sakit adalah berhubungan dengan fisik. Padahal sakit itu bukan hanya terbaring di rumah sakit, akan tetapi lebih sakit lagi karena terbaring itu, kita tidak bisa memberi nafkah kepada anak-anak dan ketika alokasi dana yang seharusnya untuk hal lain malah dialokasikan untuk mengobati sakit.

Salah kaprah ketika melihat sakit hanya berurusan dengan penyakit fisik. Sakit juga berhubungan dengan perasaan. Dalam olahraga, sakit itu ya kalah dan malu.

Makanya perlu kita re-definisi sakit itu menjadi sehingga benar kaprah… bahwa sakit berhubungan dengan segala sesuatu yang membuat kita mengalami kerugian, baik dari sisi fisik, maupun non fisik.

Lubang Hidungnya Gede Banget ya…?

Tumben, hari ini saya merhatiin aneka bentuk hidung. Naik bis Bogor UKI seperti biasa, ambil posisi di belakang, biar ngga keganggu ama pengamen. Soalnya ada planning sambil meriksa revisian buku. Lagi anteng2nya meriksa, dan bisa belum jalan. Dari arah depan muncul cewe yang wajahnya biasa-biasa aja, tapi ada yang membuat saya memperhatikan. Apa coba? LUBANG HIDUNG.

Hehehehe. Cewe itu lubang hidungnya gede banget, kayanya kalau ngambil nafas gelagepan kali ye…hehehehe. Jalannya santai dan alhamdulillah dia gak duduk sebelah saya. soalnya kalau duduk sebelahan, pasti saya ngga tahan buat ngelirik. hihihi.

Buat dia sih biasa aja kali ya berangkat dan ada orang yang ngeliatin… atau jangan-jangan saya orang pertama yang ngeliatin dia? walaupun dia ngga ngeliat kalau saya ngeliatin…?

Buy the way, Allah memang Maha Adil ya…. besarnya lubang hidung tidak sama rata diciptakan.. ada yang kekecilan, ada yang kebesaran. Kalau lubang hidung cewe itu biasa aja, pasti ngga menarik perhatian.. siapa tahu lubang hidung itu yang bikin dirinya beruntung; kaya tahi lalat buat Rano Karno, bibir untuk Tukul Arwana. Kuncinya memang kudu disyukuri… kalau bersyukur memang ada aja berkahnya….

JCo dan Tua itu Relatif

Sore ini nongkrong di JCo; mau ngelanjutin nulis buku baru.. hmmm, enak juga ya… ngga berapa lama, muncul segerombolan anak SMU dengan seragam masih melekat. Kebetulan mereka duduk di sebelah kanan. Keliatan deh badge sekolah di bahu kanannya. SMA 1 Bogor.

hehehe, ternyata adik kelas. Jadi ngebayangin jaman dulu; nongkrong dimana ya kalau mau ngabisin waktu pulang sekolah? perasaan, nongkrong di depan kantor pos aja udah keren. Pernah juga nongkrong di depan apotik.. hahahaha, ngga keren amat tempat nongkrongnya…. kalau anak SMA 1 Bogor sih paling aman and asyik di gang selot….

Tapi.. jadi mikir juga, dengan datangnya gerombolan itu.. berarti udah puluhan tahun ya ninggalin SMA..? berarti udah tua banget ya…hahahahaha. Kayanya ngeliat mereka bercanda, ngga ada beban gitu. Dunia seolah berjalan walaupun mereka ngga ada… karena mereka ngerasa punya dunia sendiri. Sementara, saya ngga bisa begitu. Ada dunia yang harus bergerak terus; kalau saya berhenti maka dunia itu pun ikut-ikutan terhambat.

Merasa tua karena dekat dengan adik kelas yang jauh lebih muda.

Tapi.. ngga beberapa lama, ada rombongan biker yang udah tua-tua, mungkin abis jalan kemana gitu, duduk rame-rame di samping kiri saya. Becanda, ngomong ngalor ngidul. Umurnya mungkin antara 50 – 60-an…

Tiba-tiba saya ngerasa jauuuuh lebih muda….
Makanya sejak itu, saya milih nengok ke sebelah kiri, supaya ngerasa muda terus…

Tua itu emang relatif. Dewasa itu pilihan…