Baban Sarbana

Social Business Coach

Ide itu seperti Kunci Inggris

Menemukan ide sama sulitnya dengan mencari jarum di padang rumput. Kalau kita tidak menggunakan besi berani alias magnet. Menemukan ide sama mudahnya dengan menggunakan kunci inggris, yang lebarnya bisa disesuaikan dengan obyek yang akan kita pakai.

Menemukan ide bukan seperti segelas kopi pahit dengan takaran tertentu. Menemukan ide hanyalah sekedar menuangkan sesendok kopi, sesendok gula, air panas dan mengaduknya tanpa harus menghitung.

Kenapa ide sama dengan kunci inggris? karena ide  seharusnya lentur, menyesuaikan dengan keadaan. Ide bukan sesuatu yang dipaksa mengikuti keadaan, tapi ide adalah alat bagi kita untuk menyesuaikan dengan keadaan.

Ketika sepatu kebesaran, maka ide adalah bukan membuang sepatu itu atau mencelupkan kaki kita ke minyak tanah agar menjadi besar. Ide adalah mencari segumpal kertas koran dan meletakkannya di bagian tumit, sehingga sepatu yang kebesaran itu menjadi pas.

Sebenernya itu bukan sepatu yang kebesaran, tapi kaki yang kekecilan. Kalau kita berpikir bahwa sepatunya yang kebesaran, maka fokus kita tertuju kepada sepatu. Menyalahkannya dan membuatnya menjadi sebuah kecacatan.

Sebenarnya kaki kita yang kekecilan, sehingga kita akan melihat selisih antara sepatu yang kebesaran dengan kaki yang kekecilan tersebut dan menemukan jawabannya pada segumpal kertas.

Ide seperti kunci inggris, yang membuat kita menjadi sesuai dengan  keadaan dan tidak memaksa keadaan menyesuaikan diri kita. Kunci inggris tidak bisa terbang, harus dipegang oleh kita untuk dimanfaatkan.

Ngasih karena kasihan

Stasiun Pondok Cina, Depok

Pulang dari rumah kartunis buku saya, AMPUH. Shalat di Mesjid Gunadarma. Sepi, karena memang sudah kesorean. Bergegas ke stasiun Pondok Cina, membeli karcis dan menuju jalur ke Bogor.

Saya mencari tempat duduk. Duduk tenang.

“Kereta menuju Bogor saat ini berada di Stasiun Manggarai”

Continue reading

Kereta Api Jabotabek dan Silahkan Duduk

Stasiun Bogor

Siang ini mau ketemuan ama kartunis untuk buku AMPUH. Rumahnya di Depok. Otomatis saya memilih untuk menggunakan kereta api, walaupun ketar ketir dengan ‘perjuangan’ yang akan dihadapi, bahkan untuk mendapat tempat duduk sekali-pun.

Membeli karcis di loket, saya bilang “ke Pondok Cina Pak”, dan bertukarlah uang 2000 rupiah dengan selembar karcis yang distempel tanggal oleh penjaga karcis yang melakukannya tanpa melihat.

Saya masuk dan langsung menjuju jalur 3 yang sudah sesak oleh penumpang. Saat itu ada 2 rangkaian gerbong kereta. Di jalur 3 dan jalur 5.

Continue reading

Diinterview kandidat Doktor dari Jepang

ILNA Learning Center, Bogor

Siang ini kita kedatangan tamu istimewa, Mrs Yo Nonaka dari Keio University, Jepang. Pakaiannya seperti wanita muslim, walaupun agamanya Budha. Datang mengucapkan “assalamu’alaikum”, tidak bersentuhan ketika bersalaman.

Saya cukup kaget juga. Mau apa ini orang Jepang? Ternyata Mrs. Yo sedang mengadakan program doktoral, dan meneliti tentang perkembangan dakwah kampus dan merujuk kepada bahwa dakwah kampus dimulai dari sekolah. Kebetulan, tahun 2003, ILNA menerbitkan buku–Super Mentoring–yang merupakan literatur para mentor di seluruh Indonesia.

Jadilah kita ‘diinterview’ sambil makan gado-gado. Tentu dengan bahasa Indonesia interviewnya. Seputar bagaimana mentoring itu dirintis di SMA 1 Bogor. Saya tinggal cerita apa adanya saja, tentang sejarah di tahun 1991 – 1992, bagaimana kita merintis, dan ternyata, rintisan tersebut berbuah menjadi  aktivitas yang sampai sekarang kontinuitasnya terjaga.

BEnang merah dari mentoring yang dikerjakan adalah belajar untuk menjadi lebih dewasa.. bener. Bahwa, apa yang kita lakukan di SMA ternyata dalam rangka membantu anak-anak sekolah lebih cepet dewasa. Hmm, dan itu rupanya menarik perhatian seorang kandidat doktor dari Jepang.. jauh amat, padahal di sekitar kita saja, belum tentu orang tertarik.

Semoga ini awalan yang menarik untuk terus dilanjutkan…

Menikmati Kompetisi

Backstage, Ancol.. acara Cover Story, TVOne

Ikutan shooting live Cover Story TVOne, bintang tamu-nya Keris Patih, tapi ngga nyambung ama materi yang didiskusiin sama host acara. Ada Helmy Yahya (HY) yang seharian ini saya barengan, mulai dari pagi di Bekasi, siang di Bandung minum kopi duren, sore di FX dan endingnya di Ancol…. what a day…

Topiknya ngga jauh-jauh sama artis yang terjun ke politik. Sorotan diarahin sama HY yang ‘kalah’ di Pilkada Sumsel. Ada statemen menarik ketika host nanya:

Host : Mas, bagaimana perasaan setelah kalah tipis di Sumsel

HY : Biasa aja. Kalah – Menang itu biasa. Itu hasil. Yang jelas saya sudah bertempur habis-habisan. Pokoknya, bagi saya bagaimana menikmati kompetisi itu dan all out (gitulah kira-kira)

Yup… memang dibutuhin jiwa besar dan mental kuat untuk ngakuin kesalahan. HY bisa saja melanjutkan gugatan ke MA. Tapi memilih untuk tidak melanjutkan adalah indikasi bahwa HY sudah punya sudut pandang yang lebih luas. Kalau kata Mas Bima Arya sih, mirip-mirip Al Gore. Al Gore punya kesempatan untuk nuntut, tapi milih ngga, milih ngabdi untuk dunia, dan sukses!

Realitasnya, George Bush setelah jadi presiden dihujat dimana-mana, Al Gore malah dapet hadiah nobel. Kondisinya mirip dengan HY. Ngga tahu gimana endingnya gubernur sumsel sekarang, dan ngga tau juga endingnya HY setelah ini. Yang jelas, saya sendiri ngeliat dan ngerasa, ada energi yang menambah kekuatan HY untuk bisa memberikan lebih banyak manfaat kepada lebih banyak orang.

Kalau sukses adalah sebuah perjalanan, maka politik adalah hanya salah satu titik di antara perjalanan itu. Naif sekali kalau kemudian dikendalikan oleh satu titik, padahal perjalanan untuk sukses dan bermanfaat bagi banyak orang masih begitu luas.

Walaupun saya jadi screensaver di acara itu, alias kadang muncul kadang ngga sebagai background, tapi saya ngerasain betul bahwa itu bukan sekedar talkshow. Ada message kuat yang tersampaikan, dan message itu telah membuat folder baru dalam otak saya tentang definisi menang – kalah.

Menang kalah adalah kondisi, bagaimana menikmati kompetisinya adalah ukuran kualitas individual

Flush Toilet ama TOTO

Mau sholat maghrib di toilet sebuah plaza..

Biasanya kalau ke toilet, tempat pipisnya ada di pojokan. Saya melipir ke pojokan dan ngikutin tanda menuju toilet. Sampai di dua pintu, saya ngeliat tandanya, seperti biasa, kalau toilet perempuan lambangnya khan rambut panjang sama pake rok… belum pake jilbab. Kalau yang toilet laki-laki ya standar juga.

Kali ini yang saya liat, pintu toilet laki-lakinya itu orang lagi berdiri dan cuuuuuuuuuuuuuuuur ada gambar air dari bagian tengah tubuhnya…hehehehehe ini berarti toilet laki-laki. Kalau toilet yang perempuan, gambarnya orang lagi duduk di toilet.

Jadi inget, waktu mampir di rest area sebelum menuju Cheonan di Korea Selatan, masuk toilet, lambangnya orang lagi kebelet….  kalau gambar yang perempuan malah kebeletnya lebih parah.

Saya masuk ke toilet dan seperti biasa saya rada ngga nyaman karena toilet buat pipisnya bukan yang diteken, yang ada tombolnya gitu, tapi yang pake sensor, jadi yang sebelum datang mancur dan pas pipis berhenti, setelah itu kita mau tinggalin baru airnya keluar lagi….

Hehehe, dasar orang kampung… saya curiga, ini tempat pipis kayanya ngga dibuat ama orang Islam. Dia bikin sistem air yang fungsinya cuman buat nyuci bersih tempat pipisnya deh, bukan buat yang pipis. Kalau tempat pipis yang pake diteken khan, begitu selesai, kita bisa langsung nyuci, jadi bersih dan bisa langsung shalat.

But, inilah tantangan. Sampai ke tempat pipis pun, kalau kita ngga bisa bikin teknologi yang ramah spiritual, ya kepaksa cuman bisa ngomel-ngomel karena ngga bisa adaptasi ama teknologinya.

Alhasil, saya celngak celinguk setelah pipis, nungguin rada lama, baru  bisa nyuci najisnya…

Atau saya emang terlalu kampungan, dan ada orang yang kota-an bisa bantu saya….?

Ide itu seperti batu

Sudirman FX…

Membaca sebuah buku tentang betapa rendah hatinya Micaelangelo, pematung hebat asal Italia yang juga menjadi salah satu nama tokoh Kura-kura Ninja…

Micaelangelo mengatakan bahwa dia sebenarnya tidak sedang membuat sebuah patung yang hebat, melainkan pada setiap batu dia melihat bahwa di dalamnya sudah ada patungnya. Yang dilakukannya hanya membuang bagian batu yang tidak perlu sehingga menghasilkan patung yang indah… humble banget ya…

Padahal Micaelangelo adalah salah satu pembuat patung paling hebat di dunia. Karya-karyanya monumental. Sekali lagi menurutnya, dalam setiap batu sudah ada patung yang indah. Yang perlu dilakukan oleh seorang pematung adalah membuang bagian yang tidak perlu.

Sama saja dengan sebuah ide. Dimana-mana informasi, peristiwa bertebaran, terjadi setiap detik. Terjadi begitu saja dan menjadi sejarah. Ide ada dan tetap ada disana. Bagaikan batu, bisa jadi dia teronggok, kadang menghalangi perjalanan, kadang menutupi pemandangan.

Ide ibarat batu. Bagi seorang penulis, alangkah baiknya jika setiap ide yang ditemuinya, dia pun memiliki cara pandang seorang pematung terhadap batu, melihat ada patung indah di dalam batunya.

Ide ibarat batu, menjadi kesenangan luar biasa ketika bisa mengupas lapis demi lapis, sehingga ide itu menjadi sebuah tulisan yang enak dibaca.

Ide itu ibarat batu. Tugas penulis pertama kali adalah menemukannya untuk kemudian membuang bagian-bagian yang tidak perlu.

Ide itu seperti oksigen

Siaran radio di Wadi FM, Bogor

Hari ini saya siaran radio dengan tema tentang mimpi… omong-omong bentar ama penyiar trus buka line telpon.

Penyiar: “Assalamu’alaikum”

Penelpon: “Wa’alaikum salam”

Penyiar: “Dari siapa ini…”

Penelpon:”Saya Usman, mau bicara langsung dong ama Kang Baban..”

Continue reading