Baban Sarbana

Social Business Coach

Siap Berdebat…! (2)

Novotel Palembang

Hari menjelang sore…

Saya dan HY kemudian masuk ke dalam kamar yang satu lagi. Saya membawa print out tambahan materi untuk persiapan debat. Kemudian, seperti biasa, sama seperti sebelum manggung kalau jadi presenter, HY akan ngomong sendiri, menguji pemahamannya tentang apa yang akan disampaikan. Saya berpikir, untuk ukuran presenter kelas satu seperti HY, masih saja ada perasaan grogi sebelum manggung.

Saya jadi inget cerita tentang Melly Goeslaw, yang karena groginya, maka setiap manggung, pasti di bait pertama dia merem, untuk menghilangkan groginya.. perhatiin deh.

Persiapan dirasa cukup. Meetting untuk koordinasi dilakukan lagi di ruang tengah. Kali ini antara Pak SO dengan HY, saling bertukar informasi tentang isu-isu yang diangkat dan kemungkinan menghadapi tanya jawab.

Seluruh tim menuju ke lokasi debat. HY dan tim berangkat lebih dulu, SO menyusul di belakang. Debat dilaksanakan di salah satu ruangan yang cukup besar. Sebelum sampai saya sudah mendengarkan suara pendukung yang sahut menyahut dengan yel-yelnya masing-masing…

“SOHE…SOHE..SOHE…!”

“ALDY…ALDY..ALDY…!”

Wah, pokoknya rame banget.

Tiba-tiba…

“BRAK!”, ada suara gaduh di luar, diikuti dengan teriakan-teriakan… “CURANG…CURANG!”

Continue reading

Siap Berdebat…! (1)

Novotel, Palembang

Jam 09.00 pagi ini, Tim SOHE, kandidat Cagub dan Cawagub Sumatera Selatan sudah bersiap di Novotel. Tim sukses sudah berkumpul di sebuah kamar yang cukup luas. Ada 2 tempat tidur, ruang tengah yang sudah ditempatkan meja besar untuk 10-15 orang, proyektor terpasang dan layar diletakkan pas di dinding sebelah dapur. Di dapur, aneka kopi sachet berserakan, karena semalam, ada tim yang menginap di kamar ini.

Saya datang bersama HY dan rombongan Cawagub. Pak SO beserta tim sudah tiba lebih dulu. Ketika HY datang, langsung disambut oleh seluruh tim, dan pertemuan singkat segera dilakukan. Pertemuan diarahkan untuk persiapan debat nanti malam yang akan disiarkan langsung oleh TVOne.

Continue reading

Banjir Jakarta dan Saling Curiga…

Jum’at, 2 Februari 2007.

Pagi-pagi buta saya sudah pamitan sama isteri. Hujan semalam sangat lebat. Naya, puteri saya masih tidur, nyenyak. Saya mengenakan celana selutut dan sandal jepit. Karena di luar air menggenangi jalan, setumit. Tas ransel saya gendong di punggung. Berat, karena di dalamnya ada laptop dan sepatu. Saya berjalan beberapa ratus meter. Saat itu jam 03.00, masih pagi buta. Sepi. Jalan tergenang air, di beberapa bagian, airnya deras. Mobil tidak ada. Taksi pun tidak ada. Padahal saya sudah memesan taksi Blue Bird. Mereka bilang, tidak bisa mengirim armada karena jalanan tergenang air.Saya mencari taksi. Melintas sebuah taksi warna biru, tapi bukan Blue Bird. Lewat begitu saja, menyisakan air yang mendera kaki, tidak sampai celana.Kembali mencari taksi, kini taksi warna krem. Saya yang bersendal jepit, celana selutut dan muka yang belum mandi, melongok ke supir taksi.

“Bandara Pak…” kata saya, sambil curiga. Maklum sepagi buta ini, apa pun bisa terjadi. Curiga perlu dong…

“Ngga De…” Kata supir taksi.Continue reading

Valuegraphy itu apa sih?

Valuegraphy adalah istilah yang saya create untuk mengisahkan seseorang dari perspektif nilai-nilainya. Bukan hanya dari kondisi yang dia alami, tapi lebih kepada bagaimana seseorang menghadapi sebuah kondisi. Karena saya percaya, kualitas hidup seseorang bukan ditentukan oleh kondisi yang dihadapinya, tapi bagaimana dia menghadapi kondisi tersebut.

Percayalah bahwa, selalu ada nilai dibalik kondisi paling menyenangkan dan paling menyakitkan sekalipun.

Kini saya ingin, metode penulisan valuegraphy ini sama berharganya dengan otobiografi dan biografi. Valuegraphy artinya sederhana saja; cetakan nilai.

Buku pertama dengan metode penulisan valuegraphy ini adalah cerita tentang Helmy Yahya pada saat menyongsong usianya yang ke-40, katanya life begins at forthy

Setiap orang menuliskan sejarahnya sendiri. Menemukan nilai dari setiap apa yang kita alami akan membuat sejarah kita bernilai. Mari mulai.

Dari Lapangan Parkir Sampai Balai Sarbini

….Teman-teman..ini bahan untuk buku saya, tentang biografi seseorang…. mohon inputannya ya?

Halaman parkir Hero Supermarket, Tebet.

Di sebuah pojok, lima binaragawan bersiap-siap untuk berlomba. Saya salah satu diantara binaragawan itu. ‘Kejuaraan’ yang lebih mirip tontonan orang berbadan besar, berminyak, hanya mengenakan celana pendek dan melakukan pose untuk menunjukkan otot-ototnya.

Beberapa orang lalu lalang di hadapan kita. Ada yang menoleh, ada juga yang berlalu begitu saja. Ada seorang ibu yang menuntun anaknya yang masih kecil. Melihat saya dan membisikan sesuatu kepada anaknya.

“Nak.. nanti kalau sudah besar, kamu jangan seperti orang-orang itu ya…”

Continue reading

Ide itu seperti Kunci Inggris

Menemukan ide sama sulitnya dengan mencari jarum di padang rumput. Kalau kita tidak menggunakan besi berani alias magnet. Menemukan ide sama mudahnya dengan menggunakan kunci inggris, yang lebarnya bisa disesuaikan dengan obyek yang akan kita pakai.

Menemukan ide bukan seperti segelas kopi pahit dengan takaran tertentu. Menemukan ide hanyalah sekedar menuangkan sesendok kopi, sesendok gula, air panas dan mengaduknya tanpa harus menghitung.

Kenapa ide sama dengan kunci inggris? karena ide  seharusnya lentur, menyesuaikan dengan keadaan. Ide bukan sesuatu yang dipaksa mengikuti keadaan, tapi ide adalah alat bagi kita untuk menyesuaikan dengan keadaan.

Ketika sepatu kebesaran, maka ide adalah bukan membuang sepatu itu atau mencelupkan kaki kita ke minyak tanah agar menjadi besar. Ide adalah mencari segumpal kertas koran dan meletakkannya di bagian tumit, sehingga sepatu yang kebesaran itu menjadi pas.

Sebenernya itu bukan sepatu yang kebesaran, tapi kaki yang kekecilan. Kalau kita berpikir bahwa sepatunya yang kebesaran, maka fokus kita tertuju kepada sepatu. Menyalahkannya dan membuatnya menjadi sebuah kecacatan.

Sebenarnya kaki kita yang kekecilan, sehingga kita akan melihat selisih antara sepatu yang kebesaran dengan kaki yang kekecilan tersebut dan menemukan jawabannya pada segumpal kertas.

Ide seperti kunci inggris, yang membuat kita menjadi sesuai dengan  keadaan dan tidak memaksa keadaan menyesuaikan diri kita. Kunci inggris tidak bisa terbang, harus dipegang oleh kita untuk dimanfaatkan.

Ngasih karena kasihan

Stasiun Pondok Cina, Depok

Pulang dari rumah kartunis buku saya, AMPUH. Shalat di Mesjid Gunadarma. Sepi, karena memang sudah kesorean. Bergegas ke stasiun Pondok Cina, membeli karcis dan menuju jalur ke Bogor.

Saya mencari tempat duduk. Duduk tenang.

“Kereta menuju Bogor saat ini berada di Stasiun Manggarai”

Continue reading

Kereta Api Jabotabek dan Silahkan Duduk

Stasiun Bogor

Siang ini mau ketemuan ama kartunis untuk buku AMPUH. Rumahnya di Depok. Otomatis saya memilih untuk menggunakan kereta api, walaupun ketar ketir dengan ‘perjuangan’ yang akan dihadapi, bahkan untuk mendapat tempat duduk sekali-pun.

Membeli karcis di loket, saya bilang “ke Pondok Cina Pak”, dan bertukarlah uang 2000 rupiah dengan selembar karcis yang distempel tanggal oleh penjaga karcis yang melakukannya tanpa melihat.

Saya masuk dan langsung menjuju jalur 3 yang sudah sesak oleh penumpang. Saat itu ada 2 rangkaian gerbong kereta. Di jalur 3 dan jalur 5.

Continue reading