Baban Sarbana

Social Business Coach

SalamNgopi 4 Sukaluyu

sngo03a

Kumpul-kumpul #SalamNgopi pembentukan kepengurusan Karang Taruna Kecamatan Tamansari… dilanjutkan pembagian 75 paket sahur untuk yatim dhuafa. menyusul, saat i’tikaf bersama, 125 paket sahur lagi; rabu dinihari akan disebar ke yatim dhuafa di tamansari. terima kasih para donatur….. Mari kita buktikan dengan tindakan nyata… You are what you contribute. SalamAKMY

Salam Ngopi 2 Sukajaya

Kegiatan SalamNgopi 2 dilakukan di Desa Sukajaya. Dihadiri oleh rekan-rekan penggiat desa dari 5 desa di Kecamatan Tamansari. Diskusi ringan yang berujung pada persiapan pembentukan Karang Taruna Kecamatan Tamansari sebagai wadah ekspresi, sinergi dan kontribusi pemuda desa di wilayah Tamansari..

Salam Ngopi 6_Sukaresmi

Semalam program #SalamKopi ke RT 3 RW 11 Desa Sukaresmi Kecamatan Tamansari. Ternyata banyak warga disana, dulu adalah para reseller produk Emak saya; seperti es mambo, manisan pala, bakwan dll… de javu, bertemu mereka mengingatkan masa kecil yang harus bangun dini hari untuk ‘menyambut’ para reseller, atau mengemas aneka produk warung dengan bantuan lampu sebagai pengganti ‘sealer plastik’ yang menghasilkan lubang hidung menghitam di pagi harinya. Ikhtiar silaturahmi ini dalam rangka program RUSI-RT (Rumah Produksi RT) yang ternyata setelah berbincang banyak, satu RT tersebut memiliki bengkel sepatu/sendal dengan perputaran uang 40jt/bulan tapi tak berbekas karena tata niaganya dikuasai pemilik toko di Pasar Anyar, dan yang unik, wilayah RT tsb adalah sentra pembuat ketupat; yang mensupply beberapa lokasi di pasar Bogor dan Cunpok. Sambil ngopi, sambil ngobrol, sambil fokus mendengarkan. Terima kasih kepada Emak saya yang ternyata berkontribusi secara tidak langsung kepada pembentukan mental wirausaha warga yang sejak usia dini sudah menjadi ‘reseller’ warung Emak dan berbuah berbagai aktivitas ‘self-help’ untuk membangun kemandirian mereka. #DesaKuatEkonomi

Trubus Kusala Swadaya

Penganugerahan Trubus Kusala Swadaya dari Yayasan Bina Swadaya kepada pelaku kewirausahaan sosial muda pada Kamis, 5 November 2015.

Orang-orang muda berikut ini punya sejumlah kesamaan. Mereka tangguh menghadapi cibiran dan cemoohan. Mereka juga teguh menggapai cita-cita dan asa yang menggelora di hati. Mereka mampu melihat peluang di tengah ancaman. Semua aktivitas mereka digerakkan karena kepedulian kepada sesama. Guru Besar Fakultas Ekonomi Univeritas Indonesia dan praktikus wirausaha, Prof Rhenald Kasali, menyebut mereka kebalikan dari generasi wacana yang sekarang ini mewabah. Generasi wacana yakni mereka yang hanya bisa beropini tanpa melakukan tindakan nyata untuk mengubah keadaan.

Para generasi nyata itu adalah Baban Sarbana, pendiri Yatim Online, yang memanfaatkan teknologi internet untuk menggalang bantuan bagi anak yatim melanjutkan sekolah; Heny Sri Sundani menginisiasi Gerakan Anak Tani Cerdas berupa pendidikan anak-anak dengan berbagai kegiatan edukatif; Lasmi pendiri kelompok jamu gendong beranggotakan 1.500 orang; Linus Liarian yang menghijaukan lahan kritis di Nusa Tenggara Timur; Nissa Wargadipura dan Ibang Lukmanurdin, pendiri pondok pesantren ekologi At Thaariq; Regina Sari Febianti membuat aneka produk daur ulang limbah jelantah; Yohanes Ferry dan Audrie Sukoco memproduksi bulu mata palsu di Purbalingga yang melibatkan ribuan tenaga kerja dan mitra sehingga tidak ada lagi anak muda yang migrasi ke kota; Yoseph Budi Santoso, pendiri taman bacaan rakyat yang menyediakan buku-buku bermutu.

Selain itu ada juga kelompok perempuan Muara Tanjung menghidupkan dan mengelola hutan mangrove; kelompok Sapu Upcycle mengolah limbah ban bekas menjadi aneka produk kreatif; kelompok Tunas Muda, inovator budidaya tanaman di lahan marginal di NTT; dan Yayasan Merah Putih yang memberdayakan pendidikan bagi warga suku Taa Wana di Morowali, Sulawesi Tengah.

Penganugerahan Trubus Kusala Swadaya dari Yayasan Bina Swadaya kepada pelaku kewirausahaan sosial muda pada Kamis, 5 November 2015.

Kiprah mereka membuat panitia sepakat menjadikan mereka sebagai nomine peraih Trubus Kusala Swadaya 2015, penghargaan bagi wirausahawan muda yang melakukan upaya peningkatan keberdayaan masyarakat, melalui aktivitas di bidang pertanian, lingkungan, pendidikan, energi terbarukan, dan sosial-ekonomi dengan pendekatan kewirausahaan sosial. Trubus Kusala Swadaya diselenggarakan oleh Yayasan Bina Swadaya, lembaga kewirausahaan sosial yang membawahi Grup Trubus.

Pembaca terhormat, kisah para heroik nomine itu kami sajikan sebagai Laporan Khusus pada edisi Desember 2015, bertepatan dengan Majalah Trubus berulang tahun ke-46. Tulisan itu mendampingi topik utama kami: teknologi hidroponik dari 4 negara. Kami berharap sajian kali ini kian menginspirasi Anda, pembaca tercinta Majalah Trubus. ***

Salam,

Evy Syariefa

Ramadhan Hari ke-2: Sujudnya kecepetan

Jika Ramadhan sebelumnya saya terbiasa shalat subuh berjamaah dan shalat tarawih di mesjid dekat rumah, maka tahun ini, mencoba shalat subuh berjamaah dan tarawih di mesjid yang berbeda.

Pilihan hari kedua; saya dan anak saya melaksanakan shalat shubuh berjamaah di Mesjid Raya Nurul Iman Kecamatan Tamansari yang baru diresmikan Bupati Bogor pada 26 April 2018. Pilihan yang tidak salah, karena imam yang memimpin shalat masih muda serta bersuara merdu. Biasanya, mesjid dekat rumah diimami oleh orang yang sudah sepuh.

Ada hal menarik ketika shalat subuh itu. Imam usai membaca surat setelah Alfatihah, langsung sujud. Rupanya imam membaca ayat sajadah, sehingga langsung sujud tilawah usai ayat tersebut dibacakan.

Usai shalat dan dzikir, Andra, anak saya yang berusia 10 tahun, bertanya:

“Abi… kok gak pake ruku’, imamnya langsung sujud ya, terus berdiri lagi…. sujudnya kecepetan?”

Alhamdulillah, ada hikmah dari shalat shubuh kali ini, sekaligus memberikan pembelajaran agar anak saya lebih mengenal Al-Quran melalui ayat-ayatnya. Saya jelaskan semampunya tentang ayat sajadah dan tata cara ketika melakukan sujud tilawah membaca ayat sajadah tersebut; yaitu langsung bersujud dan melaksanakan rukun shalat seperti biasa.

lengkapnya tentang ayat-ayat sajadah dalam AlQuran:

Usai shalat shubuh, saya pun berbincang-bincang dengan para jamaah; tentang banyak hal, utamanya keegiatan-kegiatan seputar Ramadhan. Yang menyenangkan bagi saya, salah satu jamaah, namanya Pak Eman, ternyata adalah cicit dari pendiri Kampung Tamansari dan menjadi Kepala Desa, sebelum desa ini bernama desa Tamansari. Saya gembira, karena memang sedang menyusun sejarah Desa Tamansari, untuk memperingati Milad ke-35 Desa Tamansari pada 21 Februari 2019.

Masih ada kejutan lain; ternyata dipojokkan, saya mengenal wajah yang familiar buat saya, utamanya ketika saya masih bekerja di dunia entertainment. Ya, sesosok wajah yang kelihatan selalu terbasuh wudhu, duduk di pojokkan mesjid, ternyata adalah mantan vokalis band yang sudah hijrah sepenuhnya, melaksanakan ibadah. Rupanya, beliau berkeliling dari mesjid ke mesjid untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan menjadikan Ramadhannya berkualitas super.

Alhamdulillah…. shubuh di Ramadhan ini begitu bermakna; semoga bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk putra saya tercinta.

 

Pejuang Hijab

Ketika saya kelas 1 SMANSA Bogor, kakak kelas tidak banyak yang berhijab. Ada salah satu kakak kelas yang sangat saya kagumi. Namanya RA. Saya kenalnya karena sama-sama ngaji di Majlis Taklim Al Ihya Bogor. Berhijab sejak SMP, kakak kelas bermata teduh dan sangat antusias kalau ngobrol ini, tidak menunjukkan ketakutannya ketika masuk SMA mengalami diskriminasi dalam hal pemakaian hijab. Saat itu hijab dilarang dikenakan oleh siswa SMA.

Tidak sendiri, bersama teman-teman karibnya, RA memperjuangkan hijab sebagai jalan hidupnya.
Kami, para adik kelas, yang laki-laki, hanya bisa mendoakan saja, dan sebagai bagian dari anak-anak Rohis, tentu seringkali berdiskusi secara internal dengan RA dan kawan-kawan lainnya.
Pertentangan hijab tersebut meluas, hingga masuk ke ranah pengadilan. Tentu sebuah kondisi yang menegangkan, bagi seorang siswa SMA yang harus menghadapi pengadilan.
Akan tetapi, saya lihat, karena yang diperjuangkannya adalah jalan hidup, maka tak ada gurat ketakutan diantara RA dan teman-temannya.
Bahkan, kondisi ketegangan tersebut membuat tumbuhnya solidaritas dan silaturahmi di antara para orang tua. Mereka mengadakan pengajian; uniknya, salah satunya selalu mendoakan agar Pak Ng, Kepala Sekolah SMAN 1 Bogor, bisa segera naik haji. Sama sekali tak ada hal-hal negatif tentang Pak Ng, lebih fokus kepada agara dibukakan hidayah, hati dan kebaikan bagi pak Kepala Sekolah SMAN 1 Bogor.
Tak semua sekuat RA dan kawan-kawannya. Ada yang harus membuka hijab dan mengenakan wig, atau memilih mengenakan hijab ketika lulus SMA nanti.
Interogasi demi interogasi dialami Teh RA dan kawan-kawannya. Dialog antara siswi SMA yang mempertahankan tuntutan akidah dengan seorang Kepala Sekolah yang bermaksud menegakan aturan hingga di titik Kepala Sekolah mengeluarkan siswi yang tetap memaksakan diri untuk berhijab.
Tak patah semangat, solidaritas makin kencang, hingga pihak-pihak seperti Kemendikbud hingga LBH pun jadi upaya untuk memperjuangkan hijab tersebut.
Pengadilan Negeri Bogor adalah saksi bagaimana kemudian massa turut menjadi pressure grup bagi perjuangan sekelompok remaja yang berhadapan dengan kekuasaan, memperjuangkan akidahnya tanpa takut akan akibatnya, karena yakin Allah Bersama mereka.
Dan keputusan pengadilan pun akhirnya memenangkan RA dan kawan-kawan sampai bisa bersekolah kembali di SMAN 1 Bogor dengan mengenakan hijab.
Itulah yang mengawali maraknya penggunaan hijab di SMA se Bogor dan mungkin se Indonesia. Walaupun negara belum selesai dengan hal tersebut; karena di masa-masa berikutnya, persoalan hijab ini tetap menimbulkan polemik ketika menjadi bagian dari seragam sekolah.
Saya bersama teman-teman yang lain di Rohis, salut dan bangga dengan semangat RA dan kawan-kawan yang lain. Yang saya inget, saya pernah ‘nangis’ di depan RA, untuk menyampaikan bahwa adik-adik Rohis kelas 1 ini sangat mendukung perjuangan kakak kelas yang kami banggakan; walaupun kami belum paham sempurna tentang perjuangan yang dilakukannya.
Tonggak sejarah, bahwa SMAN 1 Bogor adalah kawah candradimuka bagi pembentukan karakter dari orang-orang yang memperjuangkan akidahnya; dengan cara-cara yang baik dan berharap kebaikan untuk semua orang; berharap ada hikmah besar dari peristiwa yang dialaminya.

Kekuatan spiritual itu pula yang kemudian tahun 2013, RA menuliskan buku In God We Trust: Meretas Hijab dari Indonesia sampai Amerika; karena di Amerika, RA menghadapi diskriminasi yang de javu, seperti pernah dihadapinya di masa SMA; tentu dengan tingkat tantangan yang berbeda; karena yang dihadapinya adalah institusi US Army.
Saya beruntung berada satu rentang masa remaja di SMANSA Bogor; sehingga bisa belajar banyak dari karakter RA dan teman-temannya.
Allah Melindungi orang-orang yang berjuang di jalan-Nya.
Sekarang RA berdomisili di Amerika Serikat dan menbuka klinik dokter gigi di beberapa kota disana.
#teROHISin God We Trust

Kepala Babi Cikal Bakal Pengadu Domba

Gak semua cerita tentang #teROHIS itu nyenengin. Mei 1998, saat panas2nya suasana jelang reformasi; saya dan teman biasa membersihkan teras mesjid, termasuk tempat wudhu juga. Mesjid kami berada di pinggir jalan. Saat itu jam 06-an; masih pagi. Tiba-tiba, ada mobil pick up yang lewat pelan-pelan di samping mesjid. Dan… swiiiiiing… seseorang yang mengenakan topi untuk menyembunyikan wajahnya, melemparkan sesuatu ke arah mesjid. dan ternyata, yang dilempar itu.. kepala babi….. masih ada darahnya… kami sangat kaget… teman saya langsung membungkus kepala babi tersebut dengan karung. mengamankan. dan beruntung saat itu mesjid masih sepi, jadi tidak ada yang tahu kejadian tersebut, kecuali kami, marboth. Kami langsung kontak Pak Rektor. Rektor memberikan keputusan bijak. Kesepakatan langsung dibuat. Jangan sampai berita ini tersebar ke seluruh mahasiswa, bisa kacau. Karena ini mungkin saja provokasi dari pihak tertentu untuk mengadu domba. Kepala babi itu pun kami kubur di belakang kampus. Kondisi kampus pun aman; walaupun kami dengar kemudian, teman-teman marboth di mesjid Amaliah, Juanda, juga mendapatkan perlakuan yang sama. Tapi, mereka melakukan tindakan yang hampir sama. Kami tidak mencari siapa yang melempar kepala tsb, kami hanya menjaga agar tindakan mereka tidak membuat kacau kondisi kampus. Orang lain boleh bertindak buruk terhadap kita. Akan tetapi, kita bisa memilih bersikap baik terhadap tindakan buruk tersebut. #teROHIS. True Story

Kursi dan Ayat Kursi

Ketika pindahan ke mesjid baru, saya dan teman-teman marboth Mesjid Al Kautsar tidak punya tempat tinggal lagi, karena mesjid lama dirobohkan. Jadilah, saya bersama sahabat saya dibangunkan ruangan kotak dari triplek dengan kasur seadanya. Berbatasan dengan tumpukan bahan bangunan yang masih bisa dimanfaatkan, seperti kusen, kursi-kursi, rak dan beberapa meja. 
Beneran marboth tanpa mesjid. Suatu kali, karena kami menginap di kotak marboth tersebut, malam-malam, teman saya yang sering terbangun malam, tiba-tiba membangunkan saya…
“Akh.. itu kayanya ada putih-putih yang ngoprek bahan bangunan.. hantu kali ya..” sambil mengintip dari balik jendela yang tidak ada kacanya. Lubangnya kecil tapi cukup untuk melihat ke tumpukan bahan bangunan tsb.
Teman saya ini mungkin punya pengalaman sama hantu dan identik dengan pakaian putih-putih…
Kemudian, kami pun segera makin mendekat untuk memastikan, apakah sesuatu berbaju putih itu benar-benar hantu; sambil baca-baca ayat kursi; dan akan mengambil keputusan kalau ayat kursi tidak mempan, mungkin bisa pake kursinya sekalian.
Karena hantu tersebut kelihatannya sedang mengambil kursi chitoos atau apa gitu…
Semakin dekat, kami akhirnya bisa melihat saat sesuatu berbaju putih itu membalik ke arah kami. Kok hantu itu ada tali peluit di lengan kanannya… hehehe.. ternyata bukan hantu… tapi security yang lagi cari-cari bahan bangunan yang mungkin masih bisa dipake….
Teman saya pun lega. Nggak jadi bersyakwasangka. Dan saya bisa tidur tenang kembali, istirahat sejenak, dan tidur kembali…

Nyewa Kereta Api Bogor-Jakarta

Ada yang pernah nyewa kereta sampai seluruh gerbongnya gak? Nah, anak SMANSA Bogor, dimotori anak2 OSIS dan anak rohisnya bisa nyewa kereta saat mengunjungi Festival Istiqlal I tahun 1991 di Jakarta. Khan keren bisa ngelobby PJKA sampai diijinin antar jemputnya (Bogor-Jakarta) pake kereta; satu angkatan 1992 sekali angkut. Yg tinggal di depok; nyegat dan kejar2an ditarik sama anak yg di kereta karena kereta berhenti di setiap stasiun tapi pintu tertentu aja yg dibuka. Alhasil.. warga yg cuma bisa melihat kereta lewat… melongo aja… gak bisa ikutan naik. Catatan. Saat itu penumpang kereta gak sepadat sekarang. #teROHIS. Rohis itu nggak cupu.. tapi bisa ngelobby dan mentingin banyak orang.. walaupun ada yang keningnya kena timpuk penumpang… hehehe