Tumben…

Itu kata yang ada dalam benak saya, ketika mengisi bensin di sebuah SPBU di Jl. Pegangsaan Kelapa Gading.

Mungkin sudah lama ada disana, tapi saya baru sadar kalau alat itu ada disana.

Ya.. alat untuk mencetak bon pembelian bensin.

Jadi ingat, ketika jaman dulu, waktu masih kerja di perusahaan yang sopirnya suka iseng. Biasanya, kalau setelah membeli bensin, dia akan minta bon. Dan terjadilah transaksi….

“Mau diisi berapa bon-nya?” kata si petugas

“Sekian rupiah aja deh….” kata si supir.

Ditulislah angka sekian rupiah di bon SPBU itu dan tentu saja, angka yang ditulis lebih dari seharusnya, supaya ketika diganti oleh kantor, ada lebihannya dikit.

Jika supir yang dulu suka nambahin angka di bon SPBU itu ngisi bensin di SPBU Pegangsaan, mungkin ngga bisa lagi mark up; karena sistemnya sudah diatur sedemikian rupa untuk supaya sesuai dengan realita. Itulah sistem yang bagus; sistem yang menggambarkan kejujuran. Kalau belinya Rp 15.750, yang tercetak juga Rp 15.750..

Sistem yang memaksa orang untuk jujur.

Sayangnya di Indonesia ini banyak yang pinter tapi keblinger; ngga mau jujur, akhirnya sistemnya lah yang dikerjain. Akhirnya, dengan dalih aturan, pembenaran atau apa pun namanya, atas nama kepintaran, dibuatlah sistem yang menguntungkan diri atau kepentingannya.

Saya kira, kasus Bank Century, atau kasus-kasus lain yang angket-angket tahi ayam (kata Febri Diansyah ICW); pasti dilakukan oleh orang pintar yang punya kepentingan.

Selayaknya lah sistem apa pun, membuat setiap orang menjadi pribadi yang jujur.

Kata orang bijak.. sistem yang baik belum tentu akan membuat orang menjadi baik; tapi orang yang baik bisa menciptakan sistem yang baik….

Nah.. di Indonesia, udah banyak orang tak baik, sistemnya pun banyak yang tak baik….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *