Cerita 1

“Mau bareng ngga ke Pondok Cina?” ajak teman saya, yang membawa motor. Kebetulan rutenya ke arah Pondok Cina. Saat itu sore, sudah jam pulang.

“Ngga bawa helm, aman nggak?” jawab saya, sekaligus bertanya balik.

“Wah, ngga berani, polisinya suka iseng.. ntar kita dibiarin lewat, baru deh dikejar, ‘priiit’ dan ditilang.” Jawab temen saya.

“Lho.. saya kalau naik ojek, ngga pernah ditilang tuh..” kata saya.

“Polisinya udah kenal Pak, jadi dibiarin…” jawabnya enteng.

Saya memang sering naik ojek dan kadang tak pake helm, karena tukang ojeknya tidak menyediakan helm untuk penumpang. Hanya tukang ojeknya yang pake helm; dan tak pernah ditilang.

Wah.. ternyata, polisi itu nangkep orang bisa karena kenal atau ngga kenal; bukan karena melanggar atau tidak melanggar. Tukang ojek sering lolos walaupun membawa orang yang tak mengenakan helm, karena polisinya sudah kenal. Temen saya belum dikenal, pernah ditangkep ketika membonceng temannya yang tak mengenakan helm. Mungkin kalau dia mengaku tukang ojek, pasti ditangkap dua kali, karena membonceng teman yang tidak mengenakan helm, dan mengaku-ngaku sebagai tukang ojek.

Cerita 2

“Kok ngga bisa dihubungi tadi?” kata saya ke temen saya, yang datang tergopoh-gopoh. Kami ada rencana meeting di sebuah kantor di Kebon Sirih.

“Punteun, tadi HP saya dicuri orang…” kata temen saya.

“Oh gitu…” saya kaget. Padahal dua jam lalu, saya terakhir masih telponan sama teman saya itu. Setelah itu, karena saya tau dia akan naik kereta, maka saya pun tidak berusaha menghubungi. Setelah saya kalkulasi dia sudah sampai di daerah ‘aman’ yang bisa dihubungi, selalu tidak ada respon alias HP-nya mati.

“Hilang dimana?” tanya saya, sambil mengajak dia makan di pojokan. Warung ‘karedok’ favorit saya.

“Tadi, waktu saya turun di depan Matahari, nyebrang ke depan Taman Topi, ada yang nyenggol tas ransel, setelah itu, refleks saya periksa tas, resletingnya kebuka, dan HP hilang.” Cerita temen saya.

“Copetnya keliatan?” tanya saya lagi, ingat pengalaman dulu, jadi korban juga.

“Tau sih, tapi kayanya oper-operan, copetnya kerjasama. Jadi bingung” Kata temen saya lagi.

Waduh.. ternyata temen saya kecopetan di jalan Nyi Raja Mas, depan Taman Topi. Yang bikin miris, lokasi kejadiannya persis di depan kantor polisi. Dan di depan Taman Topi itu memang sering ada polisi yang patrol ngatur lalu lintas. Just curious, kalau sering banget kejadian orang kecopetan di daerah situ, jangan-jangan polisinya sudah kenal dengan para copet disana?

Cerita 4

Siang itu saya dari arah Kampung Melayu, melewati jalan sebelum Cawang, di pemberhentian bis yang akan melanjutkan perjalanan ke Bekasi, biasanya ada para penjual VCD bajakan. Saya yang turun disitu dan melanjutkan perjalanan ke UKI, mau ngga mau lewat di trotoar. Tanpa melihat pun, saya disodori berbagai VCD bajakan, dari yang ‘normal’ maupun ‘ngga normal’.

Aneh juga melihatnya. Tapi mungkin sayanya yang aneh, karena hal rutin seperti itu, dilihat sebagai hal yang aneh. Bukan hanya karena jenis VCD-nya, tapi karena di dekat situ ada polisi yang patroli mengatur lalu lintas.

Pasti polisinya rutin mengatur lalu lintas disitu. Pasti juga pedagang VCD bajakan itu berjualan disitu. Kalau begitu, ada kemungkinan dong, polisi sudah mengenal penjual VCD bajakan itu?

Tapi, semuanya sudah seperti rutinitas. Seolah menjual VCD bajakan dengan aneka bentuk itu sudah jadi rutinitas. Mungkin juga karena ada pembelinya, sehingga hukum ekonomi supply-demand, berlaku disana. Termasuk, antara penjual VCD bajakan dengan oknum petugas disitu, supaya aman, mungkin saja ada transaksi.

Cerita 4

Minggu siang ini, saya pulang dari Priok. Masuk pintu tol Bogor, jalanan macet banget. Maklum, liburan 3 hari biasanya digunakan oleh banyak orang untuk liburan di Puncak. Daripada ngomentarin kemacetan yang memang sudah begitu adanya, saya lebih baik mengajak Naya, anak saya menyanyi.

Setelah keluar jalan tol dan rupanya jalan memutarnya cukup jauh. Biasanya berputar setelah Hero Gramedia, atau paling jauh di depan Bale Binarum, kini bis harus memutar di lampu merah depan Eka Lokasari Mall (Ekalos Mall).

Sebelum menuju Ekalos Mall, paling tidak ada 3 putaran yang sebenarnya bisa digunakan untuk memutar bis dan berbalik arah menuju terminal. Tapi, di setiap putaran yang seharusnya ‘sah’ itu selalu terdapat kombinasi polisi yang berseragam dengan sejumlah polisi ‘pak ogah’. Keduanya harmonis sekali mengatur lalu lintas, yang justru tambah bikin macet, karena orang yang ngaturnya kebanyakan. Polisinya satu, ‘pak ogah’nya banyak. Pasti mereka sudah saling mengenal. Bagus juga ada kerjasama seperti itu, tapi rasa-rasanya tak perlu orang yang terlalu banyak.

Saya hanya melihat saya. Tidak berusaha menghakimi. Hanya tersenyum saja, karena Naya masih meneruskan nyanyiannya.

Itu cerita perjalanan saya. Semuanya serba menduga. Semoga saja salah. Kalaupun benar, ada temuan polisi yang melakukan pembiaran terhadap tindak kejahatan atau pelanggaran, ada jawaban rutinnya,

“itu bukan polisi, tapi oknum” kata temannya yang polisi juga.

Jadi, mohon dipastikan, bahwa polisi yang saya ceritakan di atas adalah oknum polisi, bukan polisi sejati.

One thought on “Oknum Polisinya Sudah Kenal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *