Setiap akan turun dari kereta, biasanya terjadi dorong-dorongan yang lumayan seru. Seperti Sabtu pagi ini, yang biasanya sepi, tumben penumpang di kereta lumayan padat. Saya duduk dan mulai membaca koran Media Indonesia. Di bagian resensi ada ulasan buku Obama dan Impian Amerika. Bukunya sudah pernah saya baca. Bagus banget. Buku yang tak hanya tentang isu kampanye Obama, tapi juga langkah demi langkah yang akan dilakukan Obama untuk mewujudkan janji kampanyenya yang ‘menghipnotis’ banyak orang hingga ia terpilih menjadi presiden Amerika.

Saya yang kebetulan dapat tempat duduk, mulai siap-siap ketika kereta masuk ke stasiun Depok Lama. Saya akan turun di Pondok Cina, selisih 2 stasiun lagi. Mulailah saya bergerak, memanggul tas yang lumayan gede dan berat, memiringkan badan dan berusaha menyelipkan badan diantara himpitan penumpang. Ajaibnya, penumpang di kereta itu memiliki badan yang elastis. Sepadat-padatnya penumpang, saya masih bisa bergerak ke arah pintu keluar.

Di hadapan saya ada 2 orang ibu yang juga akan turun di Pondok Cina. Ibu ini selain badannya yang bergerak maju, mulutnya juga ikutan bicara…

“Mas… turun mana..?” itu pertanyaan rutin ibu ini kepada penumpang di depannya…

Kalau jawaban penumpang di depannya turun di stasiun setelah Pondok Cina, maka dia akan bilang…

“Saya turun di Pondok Cina, gantian ke dalam mas…” begitu katanya..

Saya yang ada di belakangnya, lumayan juga terbantu bergerak. Tinggal ngikut aja. Makin dekat ke pintu, ada seorang gadis, lumayan cantik, berdiri merapat ke tiang dekat pintu keluar. Ibu tadi nanya lagi…

“De…. turun dimana?” tanya Ibu itu..

 “Pasar Minggu, Bu…” jawab si gadis

“Gantian.. ke dalam aja, saya turun di Pondok Cina..bentar lagi..” jelas si Ibu.

“Ngga bisa Bu..susah bergeraknya…” jawab si Gadis. Rupanya dia juga ngga mau nanti pas turun susah. Makanya jadi ‘juara bertahan’ di dekat pintu keluar.

“Bisa kok…” jawab si Ibu…

“Neng..gantian tuh..orang mau turun kok dihalangin…” seorang pemuda menegur si gadis..

“Ngga bisa mas..susah…” jawab si gadis.

“Masa ngga bisa..coba Neng..” tambah si pemuda, hanya nambah omongan saja. Pemuda itu tetap diam di tempat, hanya jadi komentator untuk kondisi desak-desakan di depannya.

Ibu tadi kemudian berkata lagi pada si gadis…

“Gini nih..bisa kok…Ade badannya dimiringin, terus geser sedikit-sedikit…” si ibu kemudian memandu gadis tadi untuk bisa bergeser ke dalam dan beberapa orang yang akan turun pun bergeser keluar.

Ternyata, dengan panduan ibu tadi, si gadis bisa masuk ke dalam, dan kami pun bergerak menuju pintu masuk. Gadis yang akan turun di Pasar Minggu itu masuk dan kami pun bergeser keluar. Kami akhirnya bisa turun dengan cepat di Pondok Cina. Aman.

Ternyata, walaupun si Gadis tak yakin bisa menggeser tubuhnya, dengan panduan ibu tadi, langkah demi langkah, akhirnya bisa juga gadis itu bergeser dan kami aman turun di Pondok Cina. Si ibu tak cuma menyarankan, tapi juga mempraktekkan sarannya…

Saya melanjutkan perjalanan dengan naik ojek. Di sepanjang jalan, saya melihat spanduk, poster dari para caleg dengan janji-janjinya. Temanya tentang, bahwa kita bisa menjadi bangsa yang ini..bangsa yang anu..bangsa yang ono…

Saya jadi mikir juga, apakah segala janji itu disertai dengan rencana detail tentang cara-cara untuk mewujudkannya? Langkah demi langkah untuk mencapainya? Ataukah hanya janji-janji penarik suara saja? Apakah caleg itu memiliki kemampuan seperti si ibu, yang memberi saran sekaligus melakukan praktek bagaimana mewujudkan saran-saran itu… Apakah para caleg itu akan walk the talk..menjalankan apa yang mereka katakan…??

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *