Sabtu pagi kami diantar oleh Mr. Marshall Jacobson, guide yang akan mengantarkan keliling Chicago. Usianya sudah 50-an; tapi hafal betul dengan kota Chicago dan segala hal yang terkait dengan Obama.

Perjalanan dimulai dengan melihat kantor Obama pertama kali, ketika tiba ke Chicago. Obama berkantor sebagai law officer, dan saat itulah Obama bertemu dengan ‘bos’-nya; atau supervisornya, yaitu Michelle Robinson.

Obama tinggal di sebuah apartemen kecil, di dekat Kenwood Academy; sebuah daerah yang banyak orang kulit hitamnya dan identik dengan musik jazz. Di wilayah itu pula terdapat rumah Eliijah Muhammad dan Muhammad Ali.

douglas2

Kami pergi ke Law School – University of Chicago, kampus dimana Obama pernah menjadi dosen; mengajar Hukum Konstitusi. Adalah Prof. Douglas R. Bard yang menelpon Obama, setelah mengetahui bahwa ada keponakan George Pain, yang berkulit putih, menjadi Presiden dari Harvard Law Review (presiden di organisasi tersebut dari kalangan Afrika Amerika). Prof Douglas merasa aneh, karena George Pain yang pustakawan itu memiliki keponakan yang berkulit hitam; ternyata itu adalah keponakan dari garis Ann Dunham, ibunya.

douglas1

Prof. Douglas menelpon Obama dan menawari untuk bekerja sebagai dosen di Chicago. Obama yang saat itu sudah menjadi pengacara, mengatakan sedang akan menulis buku tentang Hak Suara bagi Warga Sipil. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata Obama malah menulis buku autobiografinya, berjudul Dreams From My Father.

Prof. Douglas merasa aneh, karena Obama masih berusia 30-an, tapi sudah berniat menulis autobiografi.

Obama berkantor di Ruang 603. Disanalah Obama mempersiapkan bahan ajarnya dan menulis. Seringkali ruang itu ditutup, karena Obama punya kebiasaan merokok, yang sebenarnya dilarang di kantornya.

douglas3

Saat itu, dengan keterbatasan gajinya sebagai dosen, sekita $60.000 pertahun, Obama melakukan 3 pekerjaan sekaligus, yaitu dosen, law officer di pemerintahan dan pengacara. Ketika Prof. Douglas ditanya tentang kunci sukses Obama, dia mengatakan bahwa Obama pasti datang lebih cepat dan pulang lebih lambat. Paginya ada di gym atau jogging; sorenya main basket atau berenang; rupanya itulah yang menjadi kunci suksesnya kemudian, yaitu: SMART, DISCIPLIN, FIT. Obama cerdas mengatur waktu, disiplin dengan agenda kerja dan bugar, karena rajin berolahraga.

Prof Douglas yang menandatangani gaji Obama, berdikusi soal keinginan Obama mencalonkan diri untuk maju ke Kongres di illinois. Prof Douglas dan banyak kolega di kampusnya banyak yang mengatakan:

“Don’t run for the Senate, you’ll never win..”

Jangan mencalonkan diri menjadi wakil rakyat, Anda pasti kalah.

Itu yang dikatakan oleh Prof. Douglas kepada Obama.

Michelle juga demikian; mensyaratkan, jika memang harus maju ke senat; pastikan itu akan menambah pendapatan keluarga. Itulah yang kemudian, beberapa kali Obama sempat mendiskusikan soal kenaikan gaji dengan Prof. Douglas.

Obama tetap maju ke kongres; dan hasilnya sesuai dengan prediksi banyak orang.

KALAH TELAK.

Dua kandidat di atasnya memperoleh suara dengan selisih yang sangat telak.

Tapi, kegagalan adalah test untuk karakter seseorang. Obama tetap maju, menyikapi kegagalan itu dengan lapang dada. Obama menyusun ulang strateginya; untuk kemudian maju kembali di periode beikutnya.

Dan.. keteguhannya mengatasi kegagalan, kemudian menorehkan sejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *