Pagi ini saya berencana naik kereta ekonomi jam 06.30, tapi karena bercengkrama denga Naya di rumah, berangkatnya terlambat. Tepat pada saat saya membeli karcis, kereta jam 06.30 itu berangkat. Saya pun menuju kereta yang akan berangkat berikutnya, jadwalnya jam 07.02.

Keretanya masih kosong, saya pun duduk di kursi dekat pintu di gerbong belakang. Nyaman juga. Tapi, ‘harganya’ adalah menunggu selama 30 menit untuk berangkat. Saya pun membuka koran, membaca di beberapa bagian, utamanya tentang perkembangan politik terbaru. Sama saja, beberapa partai dan beberapa orang pun sedang mencari kenyamanan, tentu dengan ‘harganya’ masing-masing.

Baru 5 menit duduk, ada suara dari petugas KA..

“Mohon maaf.. kereta tujuan Jakarta di jalur 8 mengalami kerusakan..kepada para penumpang agar menunggu kereta berikutnya… saat ini sedang berada di Citayam…”

Mengesalkan memang. Berhamburanlah para penumpang, termasuk saya, yang sudah dalam posisi nyaman, duduk di kereta. Tak jelas, akan datang jam berapa kereta berikutnya. Dari jadwal, datang jam 07.20, kereta Tanah Abang, yang biasanya keretanya tak panjang. Beberapa penumpang sewot dan memaki institusi KA.. dari kata-kata kasar sampai kata-kata yang lucu. Entah sudah berapa makian yang diterima petugas KA, dan mungkin saja petugas KA itu pun sudah kebal dengan makian para penumpang yang kecewa.

Tak beberapa lama, kereta express pakuan, masuk ke jalur 2. Beberapa orang menukarkan karcis ekonomi seharga 2.000 dengan karcis ekspress AC seharga 11.000. Itu ‘harga’ untuk kenyamanan, naik kereta ber-AC atau untuk mengejar waktu masuk kantor.

Saya tak ikutan menukar karcis. Saya kembali melanjutkan membaca koran, walaupun dalam posisi berdiri.

Jam 07.10, kereta tujuan Tanah Abang datang . Penumpang yang dua gelombang, rencana naik jam 07.02 dan 07.20 berbarengan menyerbu kereta yang tak cukup panjang itu. Semuanya mencari kenyamanan untuk duduk, makanya berebut, main sikut; beberapa dapat tempat duduk, beberapa lainnya tidak, termasuk saya. Berebut dan main sikut adalah ‘harga’ yang harus dibayar untuk memperoleh kenyamanan di kereta ini.

Saya berdiri di dekat pintu, seperti biasa, supaya mudah turunnya. Sudah pasti terlambat.

Lima menit kemudian, ada pengumuman lagi dari petugas KA..

“Mohon maaf kepada para penumpang, kereta yang akan diberangkatkan terlebih dahulu akan memasuki jalur 2…”

Kali ini tak semua penumpang keluar dari kereta. Hanya beberapa saja. Saya juga ikutan pindah. Beberapa orang mulai memberikan informasi simpang siur…

“Kereta yang ini mogok…”

“Ngga lama kok selisihnya…”

Teriakan-teriakan yang ngga akurat itu mewarnai perpindahan penumpang dari jalur 8 ke jalur 2. Penumpang yang sudah duduk di kereta jalur 8, sudah nyaman, dan pastinya tak mau berpindah. Penumpang yang tak dapat tempat duduk dan buru-buru, berpindah kereta, dan itu ‘harga’ untuk mendapatkan kenyamanan (siapa tahu) mendapat tempat duduk, atau paling tidak berangkat lebih cepat.

Saya masuk ke kereta di jalur 2. Tak terlalu penuh. Tapi, tempat duduk sudah berisi. Saya bergerak ke gerbong depan, berharap masih ada kursi yang kosong. Bergerak mencari gerbong lain itu ‘harga’ untuk mencari nyaman dengan duduk. Tidak ketemu juga. Nihil. Akhirnya saya berdiri di gerbong agak depan, persis di dekat pintu. Itu posisi nyaman yang saya dapatkan.

Dipikir-pikir, jika saya dari tadi nunggu di jalur 2, mungkin tak akan cape dan pasti dapat tempat duduk. Akan tetapi, karena informasi nyicil dan tak pasti dari petugas KA yang membuat penumpang pontang panting. Target untuk duduk di kereta pun tak bisa diperoleh. Ada harga untuk memperoleh kenyamanan. Berusaha ke sana kemari, berpindah dari satu kereta ke kereta lain adalah prosesnya, dan walaupun hasilnya tak bisa didapat, tak apa. Toh, harga dari sebuah proses pun biasanya dihitung dalam kehidupan.

Kembali saya membaca koran. Utamanya tentang perkembangan terkini dari dunia politik. Banyak pihak yang mencari kenyamanan, ada yang membayar harga-nya, ada juga yang ingin instan. Uniknya, hampir semua mengatasnamakan kepentingan rakyat; padahal, ketika para politisi itu berada pada posisi yang nyaman, malah rakyat dibuat tak nyaman.

One thought on “Nyaman itu Ada Harganya

  1. bener bgt tuh bang… klw istilah skrg itu “OmDo” = Omong doang… tp nte aya realisasina’. menjelang pemilu, dr tkg ojek s/d tkg sampah, dr pemulung s/d tkg parkir, pengemis s/d pengamen smuanya sdikit “dimanjakan” dgn kaos partai, sembako, uang saku klw ikut kampanye, acr dangdutan artis ibukota u/ menghimpun masa. krn suara mereka dibutuhkan. tp pasca pemilu back 2 basic “I don’t Care” bahkan ada Caleg yg menyumbangkan tv disetiap pangkalan ojek di daerah pemilihannya, bgitu hsl quick count keluar, trnyata dia tdk menang, mlm harinya tv diangkut lagi. capek dech….

  2. PJKA (PerJalanan Kumaha Aing)

    kata orang bogor gt pak…. 😀

    hehehehe…PJKA…dibenci tapi kadang tak ada pilihan untuk beberapa orang…

  3. ( tarik nafas dulu ) : terpaksa sabar… sabar… sabarrrrr… gitu ya? Betul seperti yang dikatakan, seringkali yang terjadi adalah, orang terpaksa menerima kondisi seperti itu karena tidak ada pilihan…

    oh ya, sebelum komentar ini disudahi, sekalian juga mau ngajakin… yuk, mampir ke rumahkayu… ada quiz 5 abad, eits, salah… 5 bulan rumahkayu… ikutan ya?

    salam !

    d.~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *