Sebut saja namanya Endin. Kemarin siang bertemu tepat ketika saya melihat-lihat sebidang tanah, seluas 150 meter, di dekat rumahnya. Jika Allah mengijinkan, royalti dari buku lebah cerdas, akan saya gunakan untuk membeli tanah mungil itu dan mendirikan Pustaka Rumah Tulis di atasnya; semoga nanti bisa membuat perpustakaan mini di kampung, yang masih banyak terbelakang pendidikannya.

Kenapa saya berkepentingan bertemu dengan Endin? Karena Endin adalah orang yang akan menjadi tukang bangunan dari rumah itu nantinya. Insyaallah.

Endin cerita, kalau dirinya kini sedang susah. Semuanya berawal dari seorang temannya yang meminjam motor di akhir tahun 2008. Untuk jalan-jalan di tahun baru katanya, menuju Pelabuhan Ratu.

Karena sudah kenal, Endin meminjamkan motornya, dan meyakini bahwa 3 hari kemudian, motor itu akan dikembalikan.

Tapi, janji tinggal janji; temannya itu, yang pergi bersama isterinya, tak kunjung mengembalikan motornya. Disusul ke rumahnya, ditanyakan ke keluarganya, kepada tetangganya, raib. Raib orangnya, raib motornya.

Sudah 7 bulan motor itu raib. Sudah tujuh bulan juga, Endin menyetor uang kreditan motor yang tak dinaikinya itu, sebesar Rp 480.000 setiap bulan. Menangis ia setiap akan menyerahkan uang itu ke bank. Memang, tak terpikir untuk mengurusi asuransi, karena transaksi kredit itu dilakukan Endin dengan orang yang memajang motor over kredit yang dipajang di depan rumahnya.

Endin kini bekerja apa saja. Serabutan. Kadang membetulkan genteng, menjadi tukang bangunan, pokoknya segala yang halal dan menghasilkan dia kerjakan.

Tak bisa apa-apa saya; kecuali berharap royalti buku cukup untuk membeli 150 meter persegi tanah yang akan dijadikan Rumah Tulis itu.

Jadi ingat, dengan peristiwa 4 tahun lalu; ketika saya melihat Endin termenung di pinggir lantai 2 rumah saya; memegang kalung emas 10 gram yang dia belikan untuk pacarnya, hasil dari membantu saya dalam pekerjaan sebagai pembuat game di Penghunin Terakhir Anteve.

Saya menghampiri Endin..

“Kenapa itu kalung dipegang-pegang…Jangan ngelamun, ntar jatuh, ketabrak lagi?”

Rumah saya memang persis di pinggir jalan.

“Ngga.. ini kalung rencananya saya mau berikan ke pacar saya di kampung tetangga. Tapi, ngga berani..” kata Endin.

“Kenapa?”

“Di kampung sana itu, kalau ada orang ngasih sesuatu, dianggapnya udah deket mau melamar. Mana ada modal?” Jawab Endin.

“Ya jangan dulu nikah.. emang kebelet nikah?” tanya saya lagi.

“Ngga ada modal, tapi takut juga si eneng direbut orang…” kata Endin khawatir.

Saya memperhatikan, tak melanjutkan percakapan. Endin melanjutkan lamunannya. Memang saat itu pekerjaan di rumah saya sudah selesai, jadi sebenarnya dia sudah bisa pulang.

Saya berniat membantu Endin. Akhirnya, saya kontaklah produser Nikah Gratis dan mendeskripsikan tentang Endin.

Segeralah tim Nikan Gratis survey ke rumah Endin dan calon mempelai.Endin ditanya oleh produser Nikah Gratis..

“Rencananya berapa lama lagi kamu berani melamar?”

“4 bulan lagi”

“Kalau 4 hari lagi, mau nggak?” tantang tim Nikah Gratis

“Haaaaaaaaaaaaaaaa”

Akan tetapi, ketika Tuhan yang punya rencana, segalanya menjadi mudah. Segala hal seperti menata dirinya sendiri. Penghulu siap, pihak mempelai wanita tak kaget, walaupun di kampung mereka RCTI tak terkenal, karena memang ajaran disana melarang menonton televisi.

Acara Nikah Gratis berjalan lancar, dan Endin luar biasa gembira. Kegembiraan Endin menjadi kegembiraan sekampung. Karena pesta Nikah Gratis itu diadakan di danau indah yang menjadi kebanggaan kampung kami.

Endin dipestakan nikahnya. Tak pernah terbayangkan di pikirannya, tak pernah diimpikan sebelumnya. Dia pun mendapat hadiah kambing bunting beserta jantannya, sesuai dengan permintaannya.

Dari tim Nikah Gratis, dia mendapat peralatan rumah tangga, termasuk spring bed. Sayangnya, spring bed itu tak cukup di kamar Endin. Jadilah spring bed itu diletakkan di ruang tamu, yang kalau siang disandarkan ke dinding ruang tamu.

Pesta dan shooting Nikah Gratis berlangsung meriah. Semuanya gembira.

Saat tayang di RCTI pun, satu kampung senyap, menyaksikan di televisi. Endin jadi bintang, dibicarakan dimana-mana.

Itulah Endin. Dulu. Pernah sedih, pernah gembira.

Kini, keluguannya dimanfaatkan orang. Susah lagi dia. Bingung lagi dia. Bertemu lagi dia dengan saya; tepat ketika saya berniat untuk melanjutkan mimpi membangun Pustaka Rumah Tulis, yang insyaallah akan menjadi perpustakaan sekaligus taman bacaan untuk anak-anak di kampung kami. Semoga saja memberi perubahan, semoga saja menjadi amal kebaikan. Semoga saja terulur niat-niat baik dari arah manapun yang Allah kehendaki.

Ya Allah, berikan kemudahan untuk niat sederhana ini.

FYI… ini lokasi untuk Rumah Tulisnya….di pinggir danau persis. Di Desa Tamansari, Ciapus

taman

One thought on “Nikah Gratis dan Spring Bed di Ruang Tamu

  1. kasihan mas Endin ..
    kok ya tega temennya ya ?! semoga apa yang hilang, digantikan berlipat ganda olehNya ..
    2 jempol ke atas tuk ide Pustaka Rumah Tulisnya, semoga niatnya terkabul dan mendapat balasan yang setimpal .. Amin ..
    sukses ya tuk Pustaka Rumahnya .. kayaknya lokasinya asik ya ..

    Expert Advisor

  2. Ada yg bisa bantu? Pingin nikah gratis tapi tak tahu harus menghubungi siapa, no produser nikah gratis tdk tahu, alasanku ingin memberikan kejutan ke orang tua dan tidak ingin membebani orang tua, karena sejak 10 tahun yg lalu sampai sekarang saya bekerja saya blum pernah kasih uang ke ortu, mksih sblmny atas bantuanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *