Alhamdulillah, saya mendapat kabar menggembirakan, ternyata beberapa artikel di Lebah Cerdas akan dibukukan oleh penerbit nasional. Ketika pertama kali penerbit tersebut memberikan kabar, saya pun bertanya, apakah cukup artikel yang ada di lebah cerdas untuk menjadi sebuah buku? Mengingat, di blog ini, tulisannya kadang disesuaikan dengan perasaan saya.

Editor dari penerbit bilang, bahwa dari 30 artikel yang menurut mereka cocok, masih dibutuhkan 10 artikel lagi; karena beberapa artikel tak cukup panjang untuk dijadikan tulisan utuh dalam sebuah buku.

Sejak itu, saya pun memeras otak dan hati untuk lebih peka melihat sekeliling dan menuliskan apa yang saya rasakan hingga menjadi tulisan yang layak baca ketika dibukukan.

Berikutnya, editor dari penerbit itu juga mengatakan bahwa ada beberapa artikel yang ‘menyinggung’ profesi atau orang tertentu, oleh karena itu harus diganti. Segera saya meningkatkan kepekaan lagi dan menulis sebuah artikel baru.

Akhirnya lengkap sudah 40 artikel di Lebah Cerdas yang akan diterbitkan jadi buku. Rencananya berjudul Hati tak Bersudut, yang diambil dari salah satu posting di blog ini.

Dari diskusi ke diskusi hingga keputusan diterbitkan, saya mengambil pelajaran, kalau mau tulisan di blog kita menarik perhatian penerbit dan mau menerbitkannya, perlu:

1. Tulisan harus perspektif yang relatif khas, kalau bisa orsinil dan mewakili perspektif banyak orang. Menulis yang mewakili banyak orang membuat tulisan kita akan mendapat support yang cukup baik. Lihatlah komentar-komentar di artikel blog yang jadi blog pilihan atau blog baru, sangat mungkin ada sisi khas dari artikelnya.

2. Disesuaikan dengan jenis buku yang akan diterbitkan. Kalau rencana penerbit akan menerbitkan buku tentang how to, maka blog pun diarahkan menjadi artikel yang tulisannya melulu ‘how to’, tips praktis. Kalau saya sih, memilih menulis dengan gaya bertutur dan itu emang cocok dengan gagasan dari penerbitnya.

3. Mengukur ketebalan buku, sekaligu panjang tulisan. Penerbit tertentu memberi standar tebal halaman buku yang diajukan. Oleh karen itu, salah satu cara teraman adalah menulis  satu artikel terdiri dari sekitar 800 kata atau 5000 karakter. Itu relatif aman untuk utuh menjadi ide. Ini yang kadang sulit, karena namanya ngeblog, belum tentu bisa nulis sepanjang itu, karena kejadian yang dialami kadang singkat. Oleh karena itu, keahlian ‘mengata-ngatai’ diperlukan agar tulisan bisa memenuhi standar jumlah karakter.

4. Komunikasi terus dengan pihak penerbit. Jangan sungkan untuk bertanya tentang apa yang penerbit inginkan. Jangan kepede-an kalau mereka butuh banget sama blog kita; jadikan sebaliknya; kita yang butuh dengan penerbit itu. Kalau kedua belah pihak merasa membutuhkan, biasanya akan terjalin sinergi yang bagus.

Itulah, secuil pengalaman tentang ketertarikan sebuah penerbit untuk mengambil beberapa artikel di blog lebah cerdas untuk dijadikan buku.

Semoga tak ada masalah apa-apa dan lebah cerdas akan menemui pembacanya tidak hanya di dunia maya, tapi juga di dunia nyata (toko buku maksudnya…). Mohon do’a supaya buku lebah cerdas segera diterbitkan..

One thought on “Nge-Blog jadi Buku

  1. wah… selamat mas. Saya pikir memang pantas tulisan-tulisan mas di blog ini dijadikan sebuah buku. Kalau boleh tahu nih mas, awal ketertarikan penerbit terhadap blog mas ini bagaimana ceritanya? Jadi terinspirasi nih dari blog lebahcerdas 🙂

    penerbit itu punya lini penerbitan baru yang khusus menerbitkan buku kumpulan kisah nyata yang (mudah-mudahan) bisa memberikan inspirasi, terus ngasih kriteria, cerita-ceritanya tidak boleh menyinggung orang tertentu, SARA, dll. Dan yang paling penting ada pesan moral dari setiap cerita tersebut. Saya koresponden via email dan memberikan contoh beberapa artikel. Setelah dinilai, maka mereka mengajukan syarat-syarat teknis seperti jumlah halaman, jumlah kata per artikel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *