16

Dec 2014

My First Umroh

kabah

Alhamdulillah, 17 Desember 2014 ini saya mendapat kesempatan memenuhi panggilan Allah Yang Maha Pemberi Rezeki untuk mengunjungi dan bersimpuh di hadapan rumah-Nya, di Baitullah, Ka’bah, Mekkah Al Mukaromah.

Subhanallah, Maha Suci Allah, tak terencana sebelumnya pergi ke Tanah Suci tahun ini, akan tetapi, Allah Maha Kuasa, melalui tangan salah seorang sahabat yang berniat tulus dan bercita-cita ingin anak-anaknya menjadi hafidzah, menitipkan panggilan-Nya kepada saya.

Bersimpuh di hadapan-Nya selama ini melalui shalat, memanggil namanya: “Allahu Akbar”, memuji-Nya melalui rangkaian hamdalah yang tak pernah putus, rasanya menambah keinginan kuat untuk segera bersujud di depan rumah-Nya yang dikelilingi oleh sejarah hebat perjuangan Nabi Ibrahim, bapaknya para nabi, beserta sejarah hebat idola saya yang terbesar, Nabi Muhammad SAW.

Ini umroh pertama saya, bersama MQ Travel, meninggalkan isteri yang tengah hamil 9 bulan, anak yang dua hari lalu baru dikhitan, dan anak yatim dhuafa asuhan kami yang dalam 4 tahun ini menjadi pintu keberkahan bagi keluarga, sungguh berat, tapi berat yang tidak menyulitkan; berat yang menambah bobot kehidupan kami sekeluarga.

Umroh pertama ini tak saya penuhi dengan target muluk-muluk, hanya ingin memperbaiki shalat, utamanya, sebagai sarana komunikasi utama antara seorang hamba kepada Penciptanya. Shalat yang selama ini saya tak lakukan sepenuh hati, masih melintas pikiran tentang dunia, rasanya ingin saya perbaiki secara tuntas, supaya komunikasi dengan Allah makin membaik dan makin sempurna.

Umroh pertama ini ingin saya dedikasikan untuk keberkahan YatimOnline, yang dalam 4 tahun telah berkembang menjadi salah satu harapan anak-anak yatim dhuafa di desa kami, supaya usaha yang kami rintis bisa berhasil dan mampu membangun kualitas hidup mereka, kualitas hidup yang membuat mereka makin rendah hati di hadapan Allah, makin berprestasi dan makin bersyukur dalam menjalani setiap tapak kehidupan mereka yang tak lagi lengkap dan sempurna seperti keluarga lainnya.

Umroh pertama ini, tepat di usia saya 40 tahun, usia memasuki kematangan baru sebagai manusia, tentu saja, sangat ingin diniatkan untuk segera membangun kemandirian keluarga secara ekonomi dan berkontribusi banyak bagi bangsa dan negara. Seperti Rasulullah yang di usia 40 sudah ‘selesai dengan hidup dunianya’ dan mendedikasikan sepenuhnya untuk ummat, sangat ingin segera membaktikan diri untuk ummat dengan awalan kemandirian ekonomi, semoga dikabulkan segera, sehingga konsentrasi untuk mencurahkan pikiran bagi kemajuan masyarakat, bisa segera terwujud.

Umroh pertama ini, ketika ada tali silaturahmi lama tersambung kembali, tali silaturahmi baru mulai tertata, semoga para sahabat semua memperoleh kebaikan, keberkahan dan kesuksesan dalam hidup, serta makin dicintai oleh Allah dalam segala aktivitasnya.

Umroh pertama ini, seperti survey awal bagi saya, menyiapkan rute untuk isteri saya tercinta, anak-anak saya yang suatu suatu saat, semoga bisa bersama-sama ‘sowan’ berkunjung ke Rumah Allah, untuk berterima kasih atas segala kelimpahan rezeki, sekaligus meminta ampun atas segala kesalahan yang selama ini diperbuat.

Umroh pertama ini, rasanya seperti tawanan yang dengan sukarela menyerahkan diri, karena rasa bersalah tanpa hukuman yang selama ini dijalani, saatnya menyampaikan sepenuh hati, permohonan ampun sebesar-besarNya, karena kurang sabar menghadapi musibah dan kurang bersyukur ketika mendapat banyak anugerah.

Semoga Allah SWT membukakan banyak keberkahan bagi kami sekeluarga, para sahabat, seluruh kaum mukminin, muslimin di seluruh dunia; semoga makin dicintai dan mencintai Allah.

Bogor, 17 Desember 2014

BS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *