Rumah saya tepat bersebelahan dengan bengkel. Si Abang (yang punya bengkel), anak bungsunya seusia anak saya, Naya. Namanya di bengkel motor, ya pasti ngebul asap rokok udah biasa dan obrolan orang dewasa pun jadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

Arul, anaknya si Abang, lincah banget bergerak. Suatu saat dia mengendarai sepeda dan terjatuh, ngga tinggi sih, paling setengah meter.

Si Abang langsung bilang…

“Makanya…. bla bla….” pokoknya kata-kata yang menyalahkan anak itu; dan belum tentu anak itu ngerti.

Setelah ‘ngomelin’ baru si Abang nolong anaknya yang menangis.

Jadi ingat, kejadian yang mirip-mirip juga. Ketika Naya sekolah di PAUD, pas pelajaran mewarnai, Nisa, temannya memang lagi ngga mood, jadi malas mewarnai. Serta merta Bunda Nurul langsung memarahinya…

“Kamu ini gimana sih.. tuh, temen-temennya udah ngerjain.. kalau ngga mau, ya udah ngga usah sekolah…!”

Bundanya marah (maaf) sambil memukul Nisa. Padahal, anak kecil usia di bawah 3 tahun itu, belum kenal kata BELAJAR, yang ada di benak mereka hanya BERMAIN.

Saya yang melihat langsung, jadi tertegun sejenak. Apakah saya melakukan hal yang sam ketika anak saya terjatuh, kebanyakan karena kesalahannya sendiri?

Saya juga tertegun, dan berpikir, respon kebanyakan orang ketika melihat orang lain terpeleset atau terjatuh. Paling sering responnya ngetawain, geli atau senyum dikulum. Walaupun beberapa ada juga yang langsung menolong.

Saya tertegun, dan berpikir, mungkin ‘kosa kata emosi’ itu yang tersedia dalam otak kita. KOsa kata emosi maksudnya adalah seberapa banyak kita memiliki alternatif emosi untuk merespon sebuah kondisi. Orang yang miskin kosa kataΒ  emosi, ngeliat orang kepeleset paling bisanya cuma marahin, ngetawain, senyum dikulum. Beberapa orang lain bisa jadi memiliki kosa kata emosi lebih banyak.

Jumlah kosa kata adalah berhubungan erat dengan kecerdasan. Makin sedikit kosa katanya, maka makin tidak cerdas ia. Ini adalah orang yang miskin kosa kata emosi. Sebaliknya, makin banyak kosa katanya, makin cerdas ia. Ini adalah orang yang kaya kosa kata emosi.

Demikian juga dengan emosi, semakin banyak kosa kata emosi kita, bahwa banyak pilihan untuk merespon kemalangan diri sendiri atau orang lain. Mungkin menolong, mungkin membantu, mungkin mendoakan saja.

Demikian juga dengan spiritual, semakin banyak kosa kata spiritual, maka semakin banyak pilihan kita untuk merespon kemalangan orang lain atau diri sendiri. Kalau susah ya ujian, kalau senang ya ujian juga.

Bagaimana halnya dengan orang tua? Kadang kala orang tua mengajarkan kosa kata emosi sebatas kata. Misal, menyampaikan harus sabar kepada anaknya, maka ketika yang disampaikan adalah sebatas kata sabar, itu ibarat membuat folder di otak yang bisa jadi isinya kosong; yang ada hanya nama foldernya saja. Begitu juga dengan ikhlas, syukur, taubat, dll.

Jangan-jangan, istilah yang menjadi bagian kosa kata emosi dan spiritual di kepala kita hanyalah sebatas nama folder saja? Anak-anak butuh bukan sekedar nama folder. Anak-anak butuh sekaligus isinya, deskripsinya dan juga contohnya. Yang namanya ikhlas itu begini lho… sabar itu begini lho….

Cobalah untuk memperkaya kosa kata emosi dan spiritual, karena akan membuat diri kita banyak amunisi untuk menyikapi hidup.

One thought on “Miskin Kosa Kata Emosi

  1. Iya betul kenyataan sekarang2 ini kosa kata hal hal yang baik suka jadi bahan pelecehan, sedangkan untuk memakai ungkapan2 yang buruk jadi kebanggaan karena alasan gaul, prihatin…….prihatin

    setuju.. karena banyak referensi anak-anak yang bisa ditiru, dari orang-orang sekeliling maupun dari media.. utamanya televisi…hehehehe

  2. Kelihatannya apa yang anda sampaikan ada benarnya, bahwa kosa kata yang benar dalam berbasaha Indonesia semakin pudar adanya.

    Mungkin suatu gerakan sosial dalam berbahasa Indonesia yang benar dapat dilakukan baik melalui institusi pendidikan, pusat keramaian atau bahkan media massa seperti surat kabar, televisi, radio dan sebagainbagainya.

    http://wisata2day.blogspot.com

    setuju… bahasa menunjukkan karakter bangsa.. kalau kosa kata sebuah bangsa hancur, menunjukkan kondisi bangsanya yang memang menuju kehancuran…

  3. Salam kenal…setuju banget. saat ini memang bukan hanya krisis ekonomi tapi juga krisis “kosa kata emosi” (pinjam istilah)

  4. Iseng baca2, gak taunya penulisnya bukan orang asing ditelinga jaman aku msh kuliah dulu. Aku suka lho mas, baca2 tulisanmu.. Salam buat naya..

    salam juga…. ada alamat blognya nggak….? biar ada kunjungan balasan….

  5. hehe.. kosakata yang seperti apa tuh ya yang dimaksud..???
    hhhmm..

    maksundnya, kosa kata emosi itu hanya punya sedikit cara untuk merespon kejadian.. cuma bisa marah aja, bisanya ngetawain aja.. padahal khan bisa juga bilang “hati-hati…” atau malah bantuin…hehehehehe…. makin banyak respon secara emosi, makin cerdas berarti…

  6. duh jade inget,*sk emosian sm anak
    (tapi paling aku cuman bicara agak keras ae*malu mo bilang teriak hihihi,gak make kata kasar,anak kan cerminan rang tua jg.

  7. klo boleh menambahkan sedikit

    bicara kosa kata.. erat sekali hubungannya dengan NLP-Hypnosis.. karena mempengaruhi pikiran orang bahkan mendobrak sebuah keyakinan alam bawah sadar seseorang ternyata hanya dengan permainan kata..

    saya jadi teringat dalam buku Awaken The Giant Within – Anthonny Robbins pada Bab 9 “Perbendargaraan Sukses Yang Paling Hakiki” di hal 259, mengungkap fakta para pakar bahasa bahwa ternyata perbendaharaan kata orang dewasa 2.000 sampai 250.000 kata.. padahal bahasa Inggris mempunyai 500.000 sampai 750.000 kata yang berbeda..

    dalam bahasa Inggris ada 3000 lebih kata yang menunjukkan emosi.. parahnya hanya 1051 kata emosi positif dan 2086 kata emosi negatif..

    klo saya pribadi lebih baik sama sekali tidak pernah menggunakan kata emosi negatif.. jadi diganti kata emosi positif dengan tambahan di depan kata “kurang”.. seperti kurang sabar, kurang pemaaf, kurang baik πŸ™‚

    saya sangat setuju bahwa perbendaharaan kata yang dimiliki seseorang berbanding lurus dengan tingkat kecerdasan, seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Tony Buzan dalam bukunya The Ultimate Book of Mind Map.. contohnya: William Shakespear menggunakan 24.000 kata yang berbeda dalam setiap karyanya dan Goethe(jenius besar Jerman) menulis begitu banyak dengan 50.000 kata yang berbeda..

    Nice post.. kembali, blog lebah cerdas mengintisarikan kecerdasan2 yang mudah dan penting untuk hidup manusia yang lebih bermanfaat πŸ™‚

    ulasan yang smart.. thank you….. matur nuhun…. lebah cerdas hanya ingin berbagi perspektif.. bahwa hati bisa jadi juri…..

  8. parax lagi mas klu udah miskin kosa kata,miskin hati lagi,…

    salam kenal ya mas πŸ˜€

    sodaranya Hamdan ATT nih.. termiskin di dunia… kalau kaya gini, bukan miskin, tapi bangkrut…

  9. kalau yg saya pernah dengar dari ahlinya, perkataan orang dewasa pada anak-anak itu ada 2 macam,yang merendahkan dan meninggikan. Hati-hati kalau perkataan kita lebih banyak yang merendahkan, bisa-bisa masuk ke alam bawah sadar anak kita dan ‘membunuh’ karakter anak yang masih murni.
    Ka, bikin edisi khusus parenting dong, kelihatannya banyak yg berminat sharing….

    sip.. lagi dibuat buku “A to Z Ketika Orang Tua Belajar dari Anaknya”…. semoga cepet kelar.. buat ulang tahun Naya yang ke-3, oktober 2009, insyaallah. Kalau dimuat disini, ntar bukunya ngga ada yang beli dong…hehehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *