Seperti biasa, saya berangkat kerja naik kereta ekonomi dan turun di Depok Baru. Karena hari ini hari Senin, jadi kereta lumayan penuh. Saya naik dan berdiri di dekat pintu keluar, supaya mudah kalau sampai di Depok Baru. Apalagi waktu tempuhnya hanya 30 menit.

 

Waktu tak terasa berlalu, karena saya membaca print out bahan buku yang akan ditulis, tentang entrepreneurship.

 

Sampai di Depok Lama, stasiun menjelang Depok Baru, saya segera beringsut maju menuju pintu keluar. Beberapa orang juga ikut bergerak. Kalau melihat kondisi seperti ini, rasanya ingin kurus lagi, tidak seberat 70 kg seperti sekarang.

 

Depok Lama lewat, Depok Baru menjelang. Saya makin mendekat ke pintu keluar.

 

“Mas..turun dimana?” tanya saya kepada orang yang berada di depan saya.

 

“Depok Baru…” katanya datar.

 

Tiba-tiba saya mendengar suara seorang perempuan agak jauh di belakang saya, berbicara kepada seseorang,

 

“Pak.. ini sudah sampai Bogor?” suara perempuan itu..

“Wah..ini mau masuk Depok Baru Nek… Ketiduran ya….?” jawab Bapak di sebelahnya. Suaranya terdengar ramah.

“Hah… Depok Baru….?” Perempuan yang ternyata sudah nenek-nenek itu kaget dan bingung.

“Nenek cepet turun disini aja…” kata Bapak tadi..

“Kasih jalan..kasih jalan..kasih jalan…” suara orang yang lainnya, membuka jalan bagi nenek tadi menuju pintu keluar. Nenek itu kemudian berada persis di belakang saya. Dia bicara kepada dirinya sendiri, (pake bahasa Sunda, tapi saya translate langsung saja),

 

“Aduh…ketiduran… mana tas hilang lagi…” nenek itu mulai menangis. Saya lihat tangannya menyeka air mata yang mulai berderai…

“Copetnya tega banget… itu tas isinya baju untuk cucu di Bogor… mana saya ngumpulin baju itu dapet dikasih sama pedagang-pedagang di Pasar Minggu….” Nenek itu bicara kepada dirinya sendiri, mengeluh, tapi tak tahu mengeluh kepada siapa.

 

Masya Allah. Copet itu ngga punya hati nurani apa? (eh iya, ya..kalau dia punya hati nurani, ya ngga akan jadi copet…). Masa nyopet orang miskin seperti nenek tadi.

 

Depok Baru makin dekat, nenek tadi makin terisak. Ketika sampai,  saya segera turun, sambil menuntun nenek tadi. Di tangannya ada air mata yang belum kering.

 

Saya dan nenek tadi turun.

Saya merogoh kantong, niatnya mau ngasih uang untuk nenek tadi. Tapi, saya ingat, saya tadi hanya membawa uang Rp 20.000 rupiah, dan itu sisa uang saya untuk hari ini dan jumlahnya pas-pasan banget untuk pergi ke kantor dan pulang ke rumah.

 

Saya melihat nenek tadi pergi. Lunglai. Pakaiannya lusuh. Di badan kurus keringnya, tersampir kain yang juga sudah lusuh. Wajahnya masih dilumuri air mata. Saya hanya bisa menatap, tak bisa memberi apa-apa.

 

Saya sadar, memang “miskin itu ngga enak”.

 

Saya yang berniat sedekah saja jadi tak bisa; karena tak ada uang tersisa.

One thought on “Miskin itu Ngga Enak….

  1. ga ada 1 orgpun yg blg miskin itu enak..pa lg jaman skrg,ap2 hrs duit duit dan duit. pdhl qt jg pngn ngebantu org susah dr qt jd ga bs..qt yg miskin aj msh pnya rasa iba..

  2. trus nenek itu gmn?
    cerita bpk kurang lebih sama dgn yg saya alami seminggu lalu,. tp bedanya saya masih diberi kesempatan utk bisa memberi…

    ps: etika memberi:”berilah sesuatu dari yg terbaik dari kepunyaanmu, bukan memberi karena ada sisa dan bukan memberi karena sudah tidak butuh”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *